Hidup itu…

16 05 2009

Seperti apa sih hidup itu? dari pepatah Tionghoa yang saya dengar mengenai hidup itu seperti ini :
umur 1-10 tahun itu waktunya untuk bermain
umur 10 – 20 tahun waktunya untuk belajar
umur 20 – 30 tahun itu waktunya untuk menentukan tujuan hidup itu kedepan.
umur 30 – 40 tahun itu untuk menegaskan tujuan hidup kita
umur 40-50 tahun untuk menikmati hidup kita dan 50 – 60 tahun untuk masa pensiun dan tentunya menanti di ujung perjalanan..

wah pepatah seperti ini membuat saya berpikir tentang bagaimana hidup itu berjalan, kenapa banyak manusia yang masih mencari tujuan hidupnya itu, karena mereka tidak belajar.. mengisi hidupnya dengan sesuatu yang berharga.. itu adalah permasalahan inti dari tujuan hidup. 

saya jadi ingat pak Tamat, salah satu mantan driver DAAI TV,  ketika beliau ke jakarta, tujuan hidup beliau adalah jadi Supir dan menikahi orang Jakarta, its Simple.. dia sudah menetapkan tujuan hidupnya seperti itu dan dia bahagia dengan hidupnya sekarang.

mungkin buat beberapa orang tujuan hidup itu adalah Uang.. uang yang banyak, dan terpenuhinya kebutuhan kebutuhan yang berlebih, tapi ternyata tidak juga, ada juga yang berlebihan tetapi tidak bahagia, jadi hidup itu relatif bukan?

saya jadi ingat dengan Jacob Needleman dengan bukunya yang berjudul Currency, sang ahli filosofi ini menulis bahwa jika kita mengerti peran uang yang sebenarnya dalam hidup kita, maka kita tidak akan berfikir untuk menghabiskan atau menabungnya saja.

Uang menggerakkan pengaruh emosional yang mendalam terhadap siapa diri kita sebenarnya dan uang juga mempengaruhi kita dalam mengatakan apa yang tidak kita miliki.

Ketidak inginan kita untuk memahami efek uang secara emosional dan spiritual berlandaskan atas kenapa kita harus memberikan harga terhadap segala barang dan bagaimana kita bisa mengetahui nilai dari barang yang tidak berharga.

Uang mempunyai pengaruh yang penting dalam segala aspek di dalam mengejar hidup yang idealistik. Tetapi sejalan dengan itu, uang merupakan akar dari frustasi yang kita alami setiap hari. Dalam kehidupan sosial, uang mempunyai pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan kita, namun ada yang perlu ditegaskan disini bahwa Uang tidak mengatur hidup kita, dan hanya kita yang berhak mengatur kehidupan kita sendiri

saya rasa hidup kita terlalu banyak dipengaruhi oleh budaya barat yang lebih mengarah ke Fisik, apa yang kita punyai dan apa yang kita capai dalam hidup, memang itu benar juga, tetapi tidak semua benar karena kalau kita lihat budaya Timur yang di cap kolot oleh budaya Barat lebih mengutamakan Kebahagiaan, tujuan hidup, kekayaan jiwa dan spiritual, jadi kedua pengaruh ini didalam hidup kita mesti seimbang, 

jadi untuk yang belum mengetahui tentang tujuan hidupnya, cobalah mencari dan mencari, tapi jangan cari diluar, carilan didalam hati, kadang hidup bisa lebih sederhana dari yang kelihatan diluar. 

kalau kita senang bermain gitar dan kesenangan itu terhenti, maka mulailah dari sekarang untuk bermain gitar, atau apabila kita senang menulis tetapi tiba tiba inspirasi anda berhenti, maka inspirasi itu akan datang pada saat yang tidak terduga.. 

mungkin tulisan  ini tidak menjawab arti dari tujuan hidup kita.. tetapi, cuman satu saran saya, Do Whatever You want to do. Shape up your life.. learn something dan be Happy for yourself karena kita masih punya waktu untuk hidup, semuanya berakhir apabila nafas kita berhenti dan kita menyatu dengan semesta. soo.. tetapkan ingin menjadi apa anda mulai saat ini.. 

 

Carpe Diem and make your day..

 

Sedikit pencerahan dari neraka

Chimera





Pemilu oh Pemilu

9 04 2009

ayam berkokok, menandakan pergantian hari, para hansip, pemuda setempat ketua RT pun bergegas menyiapkan meja dan peralatan lain untuk pemilu legislatif yang akan disellengarakan hari ini kamis tanggal 9 April 2009
“eh ini mejanya kecil neh” kata seorang hansip gemuk berkumis lebat yang biasa bertugas di kelurahan pejagalan..

“gimana ya. terpaksa bilik alumunium ini hanya bisa 3 saja” kata pak RT
saya yang melihat dan membantu hanya bisa mengiyakan pak RT, lha wong udah jam 6 begini masih ributin soal meja kok.. masak mesti gedor gedor rumah orang untuk minjem meja? hehe
pak Akong, yang jalanan depan rumahnya dipinjam sebentar untuk hajatan 5 tahun sekali ini meminjamkan sound sistem untuk kami. baik sekali orangnya.
“ini gimana nih kertasnya” kata udin
“kertas yang mana?” jawab pak RT yang sibuk ditarik kesana kemari
“kertas pemilh”
“lu taruh aja di meja pendaftaran deh”
“oke bos” jawab udin yakin

tak terasa orang orang mulai berdatangan. pukul 8 pagi padahal, lebih awal dari jam 9 yang diumumkan sampai jam 12
mereka dengan antusias mengikuti ajang 5 tahunan ini, semua orang, lelaki, perempuan, orang Jawa, Madura, Tionghoa.. yang cantik yang jelek maupun yang sudah berumur lanjut terlihat antusias mengikutinya.

“ini kok tulisannya banyak banget dik? ” kata seorang nenek sambil membuka kertas pemilih dihadapan saksi…
“lho nek, jangan dibuka dulu nek” kata seorang saksi yang rupanya lebih mirip anak kecil daripada orang dewasa
“oh ya, ini kok begini nama doang ya?”
… nampaknya sosialisasi pemilu tidak sampai ke nenek yang satu ini. tinggallah si anak kecil yang kerepotan menerangkan.. tetapi tidak menganjurkan si nenek ini untuk memilih kandidatnya..
dengan yakin si nenek berjalan menuju bilik alumunium berkarat yang sedikit oleng kalau ditiup oleh angin.
“ini kok orangnya saya ngga kenal semua ya?” seru si nenek sambil kembali lagi ke saksi anak kecil ini
duh….

lain lagi dengan koh Ahok… dengan yakinnya dia bertanya kepada tetangganya koh Ahai…
“lu milih apa hai?”
koh Ahai diam sejenak
“rahasia dong” katanya sambil nyengir
“ini kan 5 tahun sekali, jadi jari gua mesti ada tinta nih” kata koh Ahai meneruskan..
“iya, katanya dapet Kopi Starbucks lho” celetuk seorang perempuan Tionghoa yang berpakaian trendy sepertinya ingin berangkat langsung ke Mall untuk menikmati secangkir kopi enak tersebut..

saya hanya tersenyum sejenak, nampaknya ajang PEMILU ini banyak sekali cerita cerita lucu..
saya sempat ditegur oleh tetangga setempat yang bertanya saya kemana saja karena mereka tidak pernah melihat saya
nampaknya saya terlalu sibuk bekerja sehingga waktu bersosialisasi dengan tetangga kurang sekali…
saya hanya tersenyum ketika ajang PEMILU ini dijadikan anjangsana tetangga di lingkungan sekitar Teluk Gong kampung saya tercinta
banyak orang yang saya lihat, yang jarinya biru semua,. tetapi nampaknya bukan itu maknanya,
selain memilih wakil rakyat, ajang PEMILU ini memang diakui oleh beberapa masyarakat sekitar rumah saya agak berbeda dengan yang lalu
banyaknya Caleg yang tidak mereka kenal, banyaknya janji janji yang diucapkan oleh Caleg dan banyak kesimpang siuran membuat masyarakat biasa , seperti orang orang tua yang mereka agak susah membaca tulisan menjadi canggung dalam memilih
dan akhirnya pilihan apa saja pun diambil, bukankah hal ini amat mubazir melihat banyak uang yang dikeluarkan hanya untuk mencetak surat surat suara ini, tetapi akhirnya malah hangus perolehan suaranya
belum sisa kertas suara yang dibuang, menurut saya sebaiknya di daur ulang untuk melindungi bumi kita ini..
belum lagi kalau Caleg Caleg yang sudah mengeluarkan uang banyak ini tidak terpilih menjadi anggota DPRD.. wah bisa Stress mereka
bahkan di koran yang saya baca, banyak Rumah Sakit Jiwa sudah mempersiapkan perawat dan kamar kamar apabila dari Caleg ini ada yang menjadi Gila..

wah banyak sekali pelajaran yang saya alami dilingkungan saya ini.. baik yang lucu dan berkesan..
yang penting buat saya adalah, bukan PEMILUnya tetapi interaksi warganya..
karena mekanisme PEMILU yang agak ribet..
enjoy aja bro and sis… enjoy the Starbucks gratisnya.. dan enjoy aja kalau melihat ada cewe cantik yang tidak pernah kita lihat di lingkungan kita .. haha
overall.. salut buat Masyarakat Indonesia yang sudah tertib dan bergotong royong menciptakan suasana PEMILU yang kondusif, aman dan terkendali…

Sedikit pencerahan dari neraka
Chimera





Saat ini, lihatlah langit dengan cinta

28 03 2009

Satu jam lagi Pemadaman listrik dimulai dari pukul 8.30 sampai 9.30, tetapi saat ini pikiran saya mulai menerawang…
Kenapa hal ini mesti dilakukan oleh kita semua, jawabannya adalah cinta menurut saya, bukan karena hal hal teknis seperti 1 buah bohlam dinyalakan oleh batu bara yang jumlahnya ber ton-ton, bukan itu, tetapi karena cinta….
Cinta kita kepada Bumi..

Sekilas pikiran saya menerawang saat saya kecil, saat saya kecil tahun 80 an, ditengah rencana pembangunan besar besaran pemerintah, kita sebagai rakyat kecil, anak kecil tepatnya untuk saya , mesti melewati malam dengan sebatang lilin..
Tapi saat itu, saya yang masih belum mengerti hanya bisa berpikir sederhana, saya bisa keluar main dengan teman teman, melihat rembulan yang sinarnya menerangi halaman depan rumah kami,
Saya juga masih ingat ketika paman saya masih berpacaran, mereka seakan tidak perduli dengan keadaan sekitar yang hanya diterangi lilin dan lentera kecil yang dibuat oleh keluarga kami,
Tawa gembira selalu menghiasi malam ketika terjadi pemadaman listrik, seakan kami tidak perduli..
Si Amin, Akun, Mas Satrak, Pepen, semua berbaur di lapangan bola, sambil duduk melihat bulan dan bercakap cakap, perbedaan kita seakan di satukan oleh kesederhanaan.

Dulu waktu pertama kali pemadaman listrik, saya sangat takut dengan gelap, pernah saya hampir ngompol di kasur karena saya takut, untunglah ada kakak perempuan saya yang menuntun saya sambil membawa lilin yang kecil seraya berkata “An, jangan takut gelap, gak ada apa apa kok”
Sampai sekarang saya selalu ingat bahwa ketakutan kita adalah kegelapan itu sendiri.

Sekarang, hubungan bumi dengan kita seakan jauh, dahulu bumi dan kita bagaikan saudara, saya seakan jauh dari bumi, pergi pagi dan pulang malam hari, hubungan manusia yang rumit di kantor, keluarga dan tempat bermain.
Kita terlalu sibuk dengan teknologi, terlalu sibuk dengan ambisi diri, melupakan dan melukai bumi kita sendiri
Bersaing, berperang, tidak memberikan kesempatan yang sama yang kita dapatkan kepada orang lain Kepenatan, kilesa dan keserakahan di kepala membuat kita melupakan hal yang dulu pernah dekat, cinta alam semesta kepada diri kita. Seperti seorang ibu yang merindukan anaknya yang berada jauh dari rumah, sepi…

Saat ini, mungkin saya dan milyaran manusia dibumi ini memandang langit dan merasakan angin hangat diwajah saya dengan membawa lilin atau lampu teplok yang diisi oleh minyak tanah dan hanya bisa tersenyum melihat bulan, awan dan bintang, seperti dahulu nenek moyang kita yang mengandalkan arah berlayar dengan rasi bintang bernyanyi gembira mendapatkan nafkah dan kembali kepada kesederhanaan masa lampau
kita merasakan berkah yang diberikan Bumi kepada kita seperti seorang ibu yang tersenyum ketika anaknya mendapatkan mainan pertama kali

Saya berdoa semoga teman teman kita yang belum mendapatkan penerangan dimanapun mereka berada bisa mendapatkan akses yang kita punya dan bisa merasakah kebahagiaan dihati mereka dimanapun dan kapanpun,

kepada teman teman, kolega dan semua orang di bumi ini
saya harap kalian bisa melihat langit malam inidan merasakan cinta ibu bumi yang kerap kali kita lupakan..

PS : Saya harap kekasih saya disana juga bisa melihat bulan yang sama, merasakan cinta dan tersenyum, sama seperti dahulu kami melihat bulan yang sama di Negara yang berbeda, Indonesia dan Filipina.
Saat ini dia sedang melakukan tugas sosial di Cipanas, love u dear. ;)

Salam

sedikit pencerahan dari neraka
Chimera





Womans Driving

15 02 2009

dont you ever ever give your car to woman..:D





Happy Valentine’s Day

15 02 2009

to all,

Happy Valentine’s day





What Would You be when you are old?

2 02 2009

The question begin when me and my friend visit an old nursery house in Jelambar

everyday just the same activities.. and they keep on waiting and waiting… for what?

i dont know.. but this make me think of my old age days… what would i be? what would you be when you are old?

maybe waiting is the best answer..





Baju bola Promotion Clip

2 02 2009

Check this out

hasil karya iseng2 jadi sori kalau nda sempurne





Waktu

14 12 2008

“Ma, an jalan dulu ya”

“iya, hati hati”

setiap hari, saya selalu mengucapkan salam kepada ibu saya, seorang ibu rumah tangga yang membesarkan saya sendirian..

ibu saya adalah seorang wanita yang pintar, pintar memasak , pintar mandarin (seperti nama program yang akan saya buat, hehe) dan pintar merawat anak anaknya.

kelahiran 25 Agustus, 1946. ibu saya adalah seorang wanita yang cantik. seorang wanita yang punya keinginan besar untuk belajar, tak kurang beliau bisa merawat kecantikannya, dan bisa memasak dengan baik. makanya ketiga anak anaknya sehat semua.

baginya, ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan yang mulia, bisa merawat dan memberi pendidikan yang baik bagi anak anaknya dan bisa ikut memberikan masa depan yang baik untuk generasi berikutnya

hari ini saya melihatnya duduk di kursi sedang melihat TV channel Taiwan kegemaran kami, rambutnya sudah memutih dan terlihat kerutan kerutan dimatanya, namun ia tetap cantik dimata saya,kadang kami sering menonton tv bersama, tertawa bersama dan kadang bisa nangis juga lho, kadang saya yang gengsi ini sering ngeledek ibu saya yang matanya memerah, padahal saya juga terkadang menangis, kami memang bukan seperti ibu dan anak, melainkan kakak perempuan dan adik lakinya. :)

kadang dia selalu ngatain saya yang seperti anak kecil, “itu kamar beresin, lu udah gede juga”, tapi yah, namanya anak laki laki, emoh disuruh beresin kamar, dan selalu terima jadi dan beres saja setiap pulang kerja, heehe. setiap hari beliau ngomelin saya, sepertinya saya selalu dianggap anak kecil, padahal udah 30 tahun ni, tapi tetap aja.

kadang malah kita sering rebutan remote control untuk melihat channel kegemarannya.

dari saya SD, saya sering merasa bahwa ibu saya terlalu pelit, masak ngasih uang jajan cuman 1000 perak?

sampai sekarang saya sudah kerja, gantian saya yang ngasih uang jajan ke ibu saya, bukti kedewasaan saya yang sudah bisa belajar menjadi kepala rumah tangga, namun jadi kepala rumah tangga ternyata tidak mudah, mesti bertanggung jawab atas segala keputusan yang dibuat, membereskan masalah masalah kecil dengan peralatan dirumah, nyapu halaman depan, dll.

setiap manusia punya waktunya sendiri sendiri dan waktu yang dijalani itu pararel dan berjalan lurus kedepan, kadang kita hanya bisa berjalan dan berandai agar masa lalu bisa kembali. namun, waktu tetaplah waktu dan dia tidak akan pernah kembali, yah.,  saya hanya menggunakan waktu saya yang pendek ini didunia bersama dengan keluarga saya.

hope the fun continues…





Belajar dari Tionghoa di Filipina

8 12 2008

Tak terasa langkah kaki saya menyusuri Cordillera st, Quezon city, ditengah terik matahari di Manila ini, kaki saya seakan melangkah tanpa beban dihati,

Jalan jalan kali ini rupanya membuat saya melihat secara langsung keadaan di ibukota Fillipina ini, entah takdir apa yang membawa saya sampai ke sini, hati seakan mengetuk dan mendorong saya mencari tahu tentang apa saja yang bisa saya pelajari disini.

Disalah satu distrik Metro Manila, saya seakan melihat Manila dari dekat, keadaan warganya, kekumuhan kota dan terlihat kenyataan yang selama ini disamarkan oleh pembangunan besar besaran pemerintahan Gloria Macapagal Arroyo.

Makati dan Quezon City memang seperti langit dan bumi, keduanya merupakan distrik di Metro Manila, Makati merupakan jantung dari bisnis kota Manila dengan adanya gedung gedung besar menjulang seakan sombong menantang langit serta kebersihan dan keteraturan tempatnya, seperti kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sedangkan Quezon City bisa dibilang kebalikannya, kekumuhan daerahnya seakan membuat kita bertanya Tanya, dimana sebenarnya pembangunan di kota ini, memang di daerah downtown Quezon City ini disamping kiri kanan saya banyak sampah bertebaran, memang tidak semuanya sih, tetapi raut muka orang orang disini berbeda dengan yang saya biasa temui di Makati, disini lebih keras dan seakan menunjukkan masalah pada kehidupan mereka, beberapa orang berteriak teriak dalam bahasa Tagalog dijalan, agak keras memang suaranya, mungkin sedang pening dengan permasalahan yang terajadi di kehidupan mereka, tangis anak kecil, angin dan debu yang panas membuat suasana hati juga menjadi panas.

Matahari di bulan Oktober memang agak menyengat, panas dikepala juga kadang panas dihati,namun dibalik itu, ada suasana meriah yang rata rata ditemui disini
yah, 3 bulan menjelang Desember yang dimulai dari bulan Oktober ini, memang suasana natal disini sangat kental, disetiap mall (Manila memang kota yang penuh dengan Mall , terhitung ada sekitar puluhan lebih hanya di kota Metro Manila ini) di setiap tempat tinggal, pernak pernik natal menghiasi, berbeda dengan Indonesia yang kemeriahannya hanya ada di bulan Desember saja, disini seakan terpengaruh dengan budaya Amerika yang mungkin agak kebablasan, terlalu Amerika sepertinya.

saya berjalan sendirian menuju ke arah jalan besar, dari kejauhan tempat logo yang paling dikenal diseluruh dunia, McDonalds, perut saya yang lapar membuat saya memilih untuk makan siang direstoran ini, selesai mengantri dan memesan beef burger saya naik dan duduk di lantai atas dan (sialnya) saya kebagian tempat duduk dekat toilet karena benar benar ramai orang yang makan siang disana, sambil mengunyah saya melihat banyak murid murid akademi disana,

Selesai makan saya mencoba mengambil kertas yang tadi diberikan oleh teman dari yayasan Tzu Chi Filipina, tertera alamat yang saya cari, Bahay Tsinoy (secara harfiah berarti rumah Chinese-Filipino) yang beralamat di komplek Intramuros bekas benteng yang dulu menjadi perlawanan penjajahan Spanyol di Manila, tepatnya di Kaisa-Angelo King Heritage Center, Anda corner Cabildo Streets Intramuros, 1002 Manila, Philippines

langsung saya memanggil Taxi untuk meluncur kelokasi, oh ya, tips untuk teman teman yang akan berangkat ke Manila, bila berurusan dengan tukang taxi disana harus sedikit tegas, dan tanyakan bisakah sampai dalam waktu yang cepat?, rata rata supir Taxi disana tidak sungkan untuk meminta tambahan biaya, anda bisa tolak dan bisa mencari yang lain, mesti sedikit tegas.

Dari informasi yang saya dapatkan, rata rata ongkos taxi paling mahal bisa mencapai 150 Peso dari Quezon City menuju ke Intramuros, untungnya saya bertemu dengan seorang supir yang baik, namanya Alfundo Garlindes, di usianya yang ke 68 tahun itu ramah dan sering bertanya macam macam tentang Indonesia, awalnya dia menyangka saya adalah orang Korea, karena banyaknya investasi Korea dan Jepang di Phillipina tapi dengan lugas saya menolak anggapannya itu karena orang Korea dianggap kaya kaya,
daripada saya diketok untuk biaya argo taxi mending saya tolak saja anggapan itu, lalu dengan iseng saya memperkenalkan diri sebagai seorang wartawan (yah, kita bisa melakukan apa saja dinegara asing, selama positif.. kenapa tidak? He2)

Dengan pulpen dan buku layaknya wartawan bodrek, saya bertanya tentang bagaimana dia menjalani hidup, ternyata dia adalah pensiunan yang mendapat uang pensiun dari pemerintah sekitar 3000 Peso, jumlah yang kurang menurut saya, ditengah kondisi krisis seperti ini, ditengah tengah ancaman naiknya barang barang seperti bahan pokok yang diimpor dari luar negeri dengan terpaksa kakek 3 cucu ini bekerja sebagai supir taxi,
Mobil Toyota tahun 90 an yang rupanya masih bisa berjalan walau agak pelan, dalam sehari penghasilannya bisa mencapai sekitar 2500 an lebih peso, (setara hampir 700 ribu rupiah) belum dipotong biaya sewa selama sehari sebanyak 1500 Peso, ini pun tergantung dengan perusahaan Taxi yang dikendarai dan juga tergantung penumpang, kalau ramai pernah ia mendapat 3700 Peso, tapi tetap saja, karena ia harus menanggung biaya listrik, air dan biaya hidup lainnya.

Ditiap tempat di Manila, selalu ada banyak angkutan Taxi yang lewat, dan disetiap bagasi disana selalu ditulis, How’s I’m Driving? Lalu ada No telp disebelahnya.
Rupanya banyak sekali supir taxi yang ugal ugalan disana sehingga perlu bagi penumpangnya untuk mengadu kepada perusahaan taxi yang bersangkutan, untunglah bapak tua ini tidak ugal ugalan dalam menyetir taxi, dan dia juga salah satu supir taxi yang taat berlalu lintas,

Bahay Tsinoy.

Bahay Tsinoy

Bahay Tsinoy

setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dan membayar 140 Peso plus tips 30 Peso untuk supir Taxi itu, akhirnya saya sampai di Gedung Angelo King Heritage Center. sambil berjalan masuk dengan meminum Gatorade kegemaran saya, seorang satpam bertanya kepada saya dengan bahasa Tagalog, yang tentu saja saya sambut dengan tatapan bingung, akhirnya satpam ini bertanya dalam bahasa Inggris kepada saya tentang maksud saya berkunjung kesana, “i’m a Student” jawab saya sekenanya, hanya untuk mendapatkan harga tiket masuk 60 peso yang kalau dirupiahkan sekitar 12 ribuan, dibandingkan dengan 100 peso untuk harga tiket masuk pengunjung biasa,

“I,m from Indonesia, and i,m interested in Chinese life in Phillipines” terang saya kepada satpam yang disini disebut Security guard itu, yang langsung menuntun saya kedalam untuk bertemu dengan pengurus didalam.

suasana sepi menyelimuti didalam museum ini, yang saya lihat , ada tangga di depan pintu masuk museum yang langsung menuntun ke lantai atas,

“what can i do for u, sir?” (sebutan sir atau madam seringkali dipergunakan untuk formalitas)

“oh yes, can i find some information from this museum, because i’m a student from Indonesia and i am doing some research about Chinese in the Phillipines”

“ok, will u please fill this form?” katanya sambil menunjuk buku tamu di meja kecil didepan pintu masuk museum

Prosedurnya tidak berbelit belit, hanya bayar 60 Peso dan Thats It!!!! … disinilah saya. masuk di lantai pertama museum ini

Pertama kali masuk yang saya rasakan adalah suasananya yang agak agak angker, maklum sepertinya tidak banyak orang yang datang kemari.

ruang pertama hanya beberapa diorama pada masa awal awal sejarah masuknya suku Tionghoa ke Filipina dari Suku yang berasal dari Tiongkok Selatan yang berlayar sampai ke Filipina, beberapa bukti seperti sarkofagus atau kebiasaan mereka yang bertani dengan menggunakan sistim pertanian terasering. hubungan Tiongkok dan Filipina sudah jauh ada sebelum kedatangan Maggelan dari Spanyol dibuktikan pada adanya perdagangan Tiongkok dengan Filipina di Filipina bagian Utara sampai Selatan, sistim perdagangan waktu itu adalah barter, bukti hubungan antara Tiongkok dan Filipina ini semakin dieratkan dengan kunjungan Sultan dari Sulu, Paduka Batara ke Beijing pada tahun 1417 untuk memberikan upeti kepada Kaisar Yung Lo dari dinasti Ching.

sambil saya membaca beberapa keterangan diorama, saya melihat tanda dilarang memotret… yah… tapi tetap.. namanya orang Indonesia.. saya agak bandel dalam soal ini, hehehe

selanjutnya saya tertarik dengan diorama peperangan di sudut belakang ruangan pertama, ada beberapa adegan dimana penjajah spanyol sedang berperang dengan pejuang kemerdekaan Filipina

seperti Indonesia, Penjajah Spanyol mempergunakan orang orang Tionghoa sebagai tulang punggung perekonomian mereka,lama kelamaan mereka semakin maju dan dianggap oleh penjajah Spanyol sebagai ancaman, jaman itu golongan pedagang atau golongan menengah disebut juga dengan Mestizo, kebanyakan dari kaum Tionghoa pendatang mengandalkan toko kelontong yang disebut juga dengan Sari Sari,

kebanyakan dari mereka tinggal di wilayah Binondo yang sekarang dikenal dengan wilayah China Town di Manila, bahkan sebelum kedatangan penjajah Spanyol pada tahun 1571 Binondo merupakan daerah perdagangan antara orang Tionghoa totok dan penduduk setempat, baru pada tahun 1594 daerah ini dibuat oleh Gubernur berdarah Spanyol Luis Perez Dasmarinas khusus untuk orang Tionghoa yang sudah menjadi Katolik, akhirnya daerah ini menjadi kawasan relokasi perdagangan bagi kaum Tionghoa Mestizo atau golongan menengah,

daerah ini mengalami kemajuan dalam segi ekonomi dan keagamaan terutama dari agama Katholik ordo Dominican, dan menjadi daerah status quo ketika terjadi pemberontakan orang Tionghoa pada tahun 1603 yang mengakibatkan pembantaian sekitar 20 ribu orang Tionghoa totok yang menolak masuk Katholik oleh gubernur Luis Perez Dasmarinas. Sama seperti kawasan Petak sembilan dan Glodok di Jayakarta pada waktu itu, pemerintah Spanyol merasa ada kepentingan untuk membiarkan orang orang Tionghoa menjalankan perdagangan yang dirasa sangat penting bagi perekonomiannya, rupanya sejak dahulu dibelahan dunia manapun, orang Tionghoa dikenal dengan bakat Dagangnya.

Dahulu Binondo yang terletak di seberang sungai Pasig merupakan pusat dari Perdagangan dan keuangan dan menjadi tempat kelahiran dari orang suci pertama dari Filipina yang bergelar Santo yakni Santo Lorenzo Luis yang juga merupakan Mestizo de sangley yakni orang berdarah Tionghoa Katholik yang berasal dari golongan pedagang.

Setelah perang dunia ke 2, pusat perdagangan dan bisnis dipindahkan dari Binondo ke Makati yang dimonopoli oleh tuan tanah yang bermarga Ayala, dan sampai sekarang banyak gedung gedung tua dan gereja yang menjadi saksi sejarah perkembangan Binondo.

pergerakan Tionghoa di Filipina berjalan dan mempengaruhi budaya Filipina ddengan berbagai aspek dan perjuangan melalui kesustraan yang dimotori oleh pahlawan nasional Filipina Jose Rizal dengan bukunya yang berjudul Noli Me Tangere, buku yang ditulis dalam bahasa Spanyol ini menceritakan tentang kebobrokan pemerintahan penjajah Spanyol. di refleksikan sebagai orang yang penuh kemunafikan yang bernama Damaso, seorang pastor Katholik yang ternyata memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingannya sendiri (artikel mendalam tentang novel ini akan saya tulis berikutnya)
Jose Rizal sempat dipanggil oleh Gubernur Jenderal Terrero ke Istana Malacanang karena Novelnya yang subversif ini akhirnya di fitnah oleh pemerintahan pendudukan Spanyol di Filipina untuk kesalahan “menyulut pemberontakan terhadap pemerintahan Spanyol” akhirnya dihukum mati di depan regu tembak pada tanggal 30 Desember 1896 pada usianya yang relatif muda, yaitu 35 Tahun.

Selain itu, banyak perlawanan yang dilakukan Tionghoa Filipina yang juga disebut Tsinoy (Chinese Filipina) ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan bersenjata dan non senjata, bahwa golongan Tionghoa disana juga turut andil dalam kemerdekaan Filipina semasa masa penjajahan, baik Spanyol dan Amerika.

Apakah anda tahu bahwa Emilio Aguinaldo adalah presiden pertama Filipina yang berdarah Tionghoa dan Jose Ignacio Paua sang jenderal adalah pelopor perjuangan kemerdekaan di Filipina?

Dan apakah anda juga tahu bahwa Kardinal Sin dan Corazon Aquino serta sang biduan Jose Mari Chan adalah seorang yang mempunyai darah Tionghoa juga?

Melihat lihat Mural atau tembok yang menghiasi lantai ke 2 dan ke 3 di Musium ini menggambarkan banyak sekali peninggalan dan pengaruh Tionghoa di Filipina, termasuk pahlawan di Chinatown ,Binondo . yaitu Pemadam kebakaran, yah benar. Masa itu pemadam kebakaran merupakan profesi yang berpengaruh besar kepada komunitasnya, maka dari itu banyak sekali pemadam kebakaran yang menjadi seorang pahlawan dan diabadikan di musium Bahay Tsinoy..

Kalau saya ceritakan, mungkin satu halaman penuh tidak akan habis membahas perjuangan dan kontribusi Tionghoa di Filipina atau Tsinoy.. buat mereka tidak ada mainland way of thinking, yang ada hanya bagaimana berjuang demi Filipina , tanah air mereka

saya meninggalkan Musium Bahay Tsinoy ini dengan perasaan kagum, dan berharap suatu hari nanti saya bisa kembali kesana, berdiskusi dengan Kardinal Sin, berbincang akrab dengan Jose Rizal dalam imajinasi saya untuk mendapatkan inspirasi tentang apa yang harus dilakukan oleh Tionghoa di Indonesia, andai mereka masih hidup, mungkin semangat kebangsaan mereka patut kita contoh, semangat Tionghoa Indonesia untuk Pemerintahan yang bersih, jujur dan adil, mimpi saya yang minoritas ini semoga bisa diwujudkan…





Meneropong Pornografi

8 12 2008

meneropong pornografi?

ngapain juga diteropong..beli aja DVDnya di glodok atau cari di website…gak usah pake peraturan2 segala lah..emangnya negara bapak moyang luh? sekarang mah akses banyak , lu buat peraturan juga buat apa? belum juga ada komplenan dari daerah daerah yang memang sudah kebudayaannya begitu, keindahan kok ditutup tutupi? pikiran lu aja yang ngeres.

gak usahlah pake peraturan2 gitu, yang buat peraturan juga pasti doyan.. cuman gak ditongolin aja tuh minatnya, bini juga pasti lebih dari satu..

gitu aja kok refhot? …..

^

guyonan seorang kawan yang sewot dengan peraturan peraturan pemerintah tak ber”otak”  disaat makan malam bersama.