Pada hari sabtu kemarin (12/05/01) saya mendapatkan kabar dari teman
baik saya bahwa salah satu dari teman sekolah saya ada yang
dipenjara, saya sungguh terkejut mendengarnya, sebab setahu saya
teman sekolah saya itu (sebut saja si”H”) terkenal sangat aktif dan
pintar baik dalam olahraga dan pelajaran MAFIA (Matematika, FIsika,
kimiA).
Dan keesokan harinya, kami berdua memutuskan untuk menengok “H” di
penjara di daerah tangerang, sebenarnya sebelum pergi kesana saya
sudah bergelut dengan “ego” saya untuk menengoknya, pada waktu itu
saya (terus terang) benar benar segan untuk pergi menengok teman saya
itu, tapi saya jadi teringat kata kata yang sering saya dengar “kalau
bukan kita yang keneraka, siapa lagi yang pergi untuk menyelamatkan
orang disana?”. Jadi saya pikir.. yah, kapan lagi, nih pergi ke
penjara ? mumpung ada kesempatan , hehhe
Akhirnya, kami pun pergi kesana, perjalanan ke sana memang sangat
jauh dan melelahkan, kami tersasar beberapa kali, sampai waktu
menunjukkan pukul : 18.00 , barulah kami sampai ke polsek tangerang.
Sesampainya disana, setelah melewati proses “salam tempel” kami bisa
menemui teman sekolah saya itu,
Kondisinya disana sangatlah mengenaskan, dia begitu kurus, makanannya
pun tidak terurus, hanya nasi dan tempe saja, sudah 11 hari dia
mendekam disana, berarti sudah 11 hari pula dia tidak mendapatkan
sinar matahari, gila! Bayangkan, tanaman saja seminggu tidak
mendapatkan sinar matahari sudah hampir layu, apalagi manusia?
Kami berbincang bincang sambil saya memegang tangannya untuk
menguatkan hatinya, kasihan sekali, ternyata kami adalah orang yang
ketiga menengoknya, bahkan keluarganya pun tidak menengoknya, ironis
sekali, justeru yang paling pertama menengoknya adalah keluarga
temannya,
Setelah kami mencari tahu mengapa dia masuk penjara, ternyata dia
memalsukan giro untuk membeli oli, begitu ketahuan, langsung dia
digebuki dan hampir dibakar, untung saja dia masih hidup, dan
korbannya menuntut uang ganti rugi 20 juta, astaga, darimana dia
mendapatkan uang itu? Kami sebagai temannya bersedia membantu , tapi
untuk mengumpulkan uang sebanyak itu sungguh bukanlah perkara yang
mudah.
Pada saat itu pikiran saya dan teman saya langsung menjadi buntu,
kami merasa tidak enak menyaksikan teman sekolah kami kesulitan dan
tidak mampu untuk menolongnya. Akhirnya kami pun berpamitan dan
berjanji akan membantu sesuai dengan kemampuan kami, bersamaan dengan
itu dia menitipkan sepucuk surat kepada keluarganya untuk
disampaikan, kebetulan rumah saudaranya tidak jauh dari rumah saya.
Saya sempat membaca surat itu, dan ada kalimat yang menurut saya
sangat ironis yaitu “kondisi saya sekarang sudah parah, dan apabila
saya dikirim ke LP, kondisi saya akan semakin rusak, kalau sudah
begitu saya akan menjadi rusak sekalian”. Saya sempat trenyuh
membacanya, kalau anak ini tidak diberi kesempatan, dia akan menjadi
seorang penjahat.
Pada waktu perjalanan pulang, kami berdua hanya bisa menyesali
nasibnya, si “H” memang bukan berasal dari keluarga yang mampu, dia
harus bekerja keras dengan mengajar les untuk menghidupi dirinya
sendiri pada waktu sekolah, karena kecerdasan otaknya dia sempat
kuliah di UI dan salah satu universitas terkenal di jakarta, tapi
(lagi-lagi) karena keterbatasan biaya dia pun DO dari kuliah.
Sejak saat itu hidupnya berantakan, diapun terjebak dengan judi,
sampai sampai teman temannya pun pernah kecurian barang barang
berharga, dan akhirnya teman temannya tidak mempercayainya.
Pergaulannya pun semakin rusak, dan pada akhirnya berakhir di terali
besi.
Sampai sekarang saya masih belum mendengar kabarnya lagi, semoga saja
dia sudah keluar dari penjara dan sang korban tidak menuntut.
Melihat kejadian itu saya mengambil kesimpulan bahwa akar dari segala
kejahatan adalah kemiskinan….
Apabila kita tidak bisa melepaskan kemiskinan itu kita akan semakin
menjadi terpuruk di lembah kejahatan
Kalau saya mampu saya akan memberikan dia sebuah kesempatan, tapi apa
daya? Saya dan teman teman saya bukanlah orang orang yang
berkecukupan, dan kami hanya bisa membantu sekuat kami.
Setiap orang mestinya diberi kesempatan, walaupun dia sering
melakukan kesalahan, dan itu tergantung pada niat kita masing masing
(termasuk saya), kalau kita tidak memberi kesempatan seseorang untuk
bertobat,saya kira bukanlah dia yang dipenjarakan, tapi hati kita
yang masih terpenjara, terpenjara oleh ego kita masing masing, memang
kalau dia dibebaskan akan masih ada kemungkinan dia berbuat kejahatan
kepada yang lain, ini menuntut kesadaran dan kebangkitan hati nurani
orang yang melakukan kejahatan, apakah dia mau bertobat atau tidak?
Tapi yang saya sesalkan kalau dia berpikir dia sudah rusak dan
biarlah menjadi penjahat sekalian, sebab saya tahu benar apa
pandangan masyarakat kalau sudah mengetahui orang tersebut bekas
dipenjara, masyarakat akan mengucilkannya, dan faktor ini akan
memicunya untuk berbuat kejahatan lagi.
Sikap metta dan karuna kita yang mesti kita kembangkan untuk mereka,
seperti kalimat yang sering saya dengar “kalau bukan saya yang
keneraka untuk menyelamatkan orang , siapa lagi?”
Saya jadi berpikir… kalau yang didalam penjara itu saya, apakah
kalian yang terhormat mau berkunjung? dan Apakah kalian juga mau
memaafkan saya?
Siapa yang sebenarnya ada didalam penjara? Who knows……………….
sedikit pencerahan dari neraka
Chimera
15/05/01
Recent Comments