pembicaraan dua ekor katak

29 08 2001

Alkisah, ada dua ekor katak yang sedang berunding tentang bagaimana
caranya mereka menyeberang jalan
Katak pertama berkata “saya pikir kita harus melihat dahulu kekiri
dan kekanan, baru kita menyeberang”
Lalu katak kedua menimpali “tidak, sebab jalan yang akan kita lalui
akan banyak mobil yang lewat, sehingga tidak ada waktu lagi untuk
melihat kekanan dan kekiri!”

Mereka berdua berdebat terus sehingga tidak menyadari adanya ular
yang menyelinap secara diam diam dibelakang mereka, dan begitu mereka
berdua sedang lengah, sang ular dengan kejinya memakan salah satu
dari mereka.

Katak yang selamat berlari ketakutan masuk kedalam hutan untuk
menghindari sang ular. Untunglah karena sang ular sedang sibuk
mengunyah mangsanya sehingga ia tidak mengindahkan katak yang sedang
lari ketakutan itu.

Lalu, katak yang selamat itu menyesali nasib temannya, “oh temanku,
mengapa kita harus berdebat sehingga kita semakin lupa akan tujuan
kita yang sebenarnya dan kita sama sama tidak mewaspadai ancaman yang
datang menghampiri kita?” katanya sambil menangis….

Note : kadang kadang kita mesti tetap pada tujuan kita tanpa
memikirkan dan mendebatkan masalah yang sebenarnya tidak perlu
diperdebatkan, supaya kita selalu waspada akan kemungkinan yang
terjadi, kerjasama dan saling pengertian yang baik adalah syarat
untuk kita supaya kita bisa berjalan bersama sama dan berhasil
mewujudkan tujuan kita.

Sedikit pencerahan dari neraka

Chimera
29/08/01





Antara idealisme dan materialisme..

27 08 2001


Idealisme? Sebuah kata kata yang indah namun tidak banyak orang yang
cukup “waras” yang terus terusan konsisten dengan idealisme mereka,
kebanyakan mereka berpaling dari idealisme mereka dan menjadi orang
yang biasa, mencari uang… berkeluarga.. berteman.. dan sampailah pada
akhir hidup mereka.

Dalam keluarga, seringkali faktor materi menjadi tolak ukur dalam
sebuah kesuksesan manusia, dimana manusia bekerja dengan membanting
tulang untuk meningkatkan taraf hidup mereka, dan mereka dengan tidak
sadar seringkali mengorbankan kebebasan mereka serta menghalalkan
segala cara yang seringkali juga merugikan manusia yang lain maupun
alam sekitarnya..
hanya untuk meningkatkan taraf hidup mereka supaya bisa dipandang
dalam masyarakat dan bisa memenuhi semua kabutuhan hidupnya, dan
dalam hal ini mereka “menjual” idealismenya untuk sejumlah uang dan
kenyamanan seumur hidupnya.. dengan penuh ketenangan dan kemakmuran
tanpa melihat dibelakang mereka banyak sekali orang orang yang “mati
perasaan” oleh karena perbuatan mereka.
Faktor keluarga kadang kadang bisa menjadi pendukung dan kadang
kadang bisa menjadi faktor penghancur sebuah idealisme dan ini
tergantung bagaimanakah kita berpegang teguh (namun tidak membuta)
dengan prinsip idealisme itu.

Seringkali, apabila kita melihat kebelakang, banyak sekali yang
membuat kita merasa tertantang untuk memperbaiki sebuah sistem dan
darah muda kita seringkali bergolak untuk sebuah perubahan yang
menjurus kearah yang lebih baik lagi.
Kita masih ingat angkatan’66 yang bahu membahu mengulingkan orde
lama, namun berandil besar dalam “kekotoran” orde baru dimana
kebanyakan dari orang2 yang (tadinya) beridealisme tinggi itu
akhirnya luntur oleh karena faktor kebutuhan hidup, kepentingan dan
keserakahan mereka sendiri,

Kita kadang kadang tidak bisa menghindari bahwa materialisme bisa
mengalahkan idealisme.. dan kita juga akan segara menyadari bahwa
jalan yang akan ditempuh demi keadilan dan kebenaran yang tadinya
dirintis oleh orang orang yang beridealisme tinggi akan menjadi
semakin panjang, terjal serta berliku.

Namun pada akhirnya orang orang yang konsisten dalam idealismenya
akan menjadi orang yang “tidak waras” dimata masyarakat, apa yang
mereka berikan kepada masyarakat merupakan sesuatu yang akan
selamanya diingat oleh manusia pada umumnya
terlepas dari besar atau kecilnya pengabdian, penderitaan dan
pengorbanan yang telah mereka lakukan seumur hidupnya baik dalam
tulisan, perbuatan ,Dan seringkali idealisme mereka itu membuat
mereka bertentangan dengan orang orang terdekat mereka sendiri.

Semua hal berubah, itu hal yang pasti.. namun sekiranya (dan mudah
mudahan) hati orang orang yang beridealisme tinggi tidak akan
berubah, sebab kita akan butuh panutan dan teladan dari orang orang
yang “tidak waras” tersebut.

Sedikit pencerahan dari neraka

Chimera
27/08/2001





Toilet dan demokrasi

13 08 2001

Toilet yang biasa disebut dengan kamar kecil, ternyata juga dibedakan
sesuai dengan status orang yang menggunakanya, misalnya seperti jaman
kaisar china dahulu toilet sang kaisar biasanya dipenuhi oleh hiasan
hiasan yang bernuansakan emas, bahkan klosetnyapun berlapis emas,
Beda halnya dengan toilet umum, yang biasa digunakan oleh orang
biasa, tak terawat, bau pesing dimana mana, bahkan terkadang kita
mesti membayar sejumlah uang untuk masuk toilet tersebut, pokoknya
jauh dari yang namanya kesan mewah dan privacy.

Padahal secara keseluruhan, toilet itu digunakan oleh manusia untuk
membuang segala sesuatu yang …. Ehm tolong diisi sendiri lah! Dan
“barang buangan” itu tidaklah dibeda bedakan seperti toilet itu
sendiri, ngga ada tuh istilah “barang buangan” sang raja atau
“barang buangan” sang budak, yang ada cuma “barang buangan” manusia.

Dalam kehidupan sehari hari, jarang ada orang yang punya kesadaran
sendiri untuk membersihkan yang namanya toilet, baik toilet pribadi
maupun toilet untuk umum, dan biasanya untuk tugas membersihkan
toilet divihara (khususnya vihara maitreya) merupakan tugas yang
paling sedikit peminatnya, dan (hebatnya) orang yang bertugas
membersihkan toilet adalah sang koordinator alias orang yang paling
bertanggung jawab dalam acara, tapi belum tentu sang koordinator
(yang besar hatinya karena kerap di ejek) ini berbesar hati untuk
membersihkan toilet seorang diri , tapi ini dikarenakan tidak ada
seorangpun sukarelawan yang (biasanya) mau membersihkan toilet, kalau
bisa membersihkan toilet merupakan alternatif yang terakhir kalau
sudak tidak ada pekerjaan lagi.

Di jepang, ada satu konsep toilet umum yang digunakan bersama-sama,
baik tua atau muda, dan biasanya disana mereka berbincang bincang
tentang segala hal. Baik tentang politik, ekonomi maupun tentang
kehidupan sehari hari, dan toilet itu menjadi sarana demokrasi bagi
mereka.
Ada juga toilet umum untuk pria, wanita maupun untuk kaum yakuza.
Walau perbedaan status masih ada disini, tapi setidaknya mereka bisa
berbaur dengan sesamanya.

seperti di thailand, kata toilet secara harfiah berarti “kamar
bahagia” dimana kalau seseorang masuk kamar itu begitu keluar akan
menjadi bahagia.. yah karena ia telah mengeluarkan apa yang membuat
dia tidak bahagia,

saya jadi berkhayal, coba saja kalau penguasa, kaum intelektual, kaum
agamais serta rakyat berbagi toilet… dimana status sudah tidak lagi
menjadi masalah, yang penting adalah satu tujuan.. yaitu
“mengeluarkan” masalah sehingga semua orang menjadi “bahagia”

Buat : Ajarn Sulak Sivaraksa, terimakasih atas “pencerahan” tentang
toiletnya! Walaupun kita tidak sempat “berdiskusi” tentang toilet
tapi ajarn telah memberikan “pencerahan sementara” buat saya..

nb: mohon maaf kalau sedikit tidak pantas

sedikit pencerahan dari neraka

Chimera
13/08/01