Saya benar benar tidak tahu mau menulis apa kali ini, karena didalam
pikiran saya ada banyak hal yang harus saya pikirkan dan juga dipilah
pilah mana yang lebih penting.
Tapi ada satu hal yang membuat saya bersyukur, yaitu saya diberikan
kesempatan yang amat sangat jarang, yaitu kesempatan untuk
membuktikan sendiri apa yang selama ini menjadi pemikiran saya dengan
sebuah karya nyata dengan tangan saya dan dibantu oleh teman teman
yang mempercayai saya.
Ada banyak hal yang saya dapatkan selama ini,
Pertama yaitu manajemen hidup saya
yaitu dimana saya mesti memilih dan mementingkan apa yang menjadi
rutiniitas sehari hari saya, dan hal ini membuat pikiran saya
terpecah. Tapi sewaktu saya pecah konsentrasi, selalu ada hal yang
membuat saya amat bersyukur yaitu saya hidup tidak sendirian, selalu
ada teman yang memberikan teguran, saran dan bantuan bagi saya dan
disini keterbukaan dari saya dalam memerlukan bantuan amatlah
diperlukan.
buat saya sebuah pengertian dari teman teman seperjuangan saya
amatlah menguatkan mental dan semangat saya.
Kedua yaitu ego.
Sangatlah wajar didalam organisasi muncul saran dan buah pikiran dari
para anggotanya yang begitu bersemangat, namun begitu disodorkan
kesempatan untuk Implementasi dari saran dan buah pikiran mereka,
ego mereka langsung berperan dan langsung buru buru menghindari apa
yang selama ini menjadi buah pikiran mereka, hal ini amatlah
disesalkan karena mereka yang menuruti egonya telah kehilangan
sesuatu yang amatlah berharga, yaitu sebuah kesempatan yang tidak
bisa datang dua kali.
Bagi beberapa orang mungkin saja ada sebuah kepentingan yang tidak
bisa ditunda tunda lagi, dan mesti menyampingkan urusan organisasi
untuk sementara, bagi saya pribadi, saya amatlah menghargai sebuah
privacy seseorang, dan saya hanya bisa mengharapkan kalau kepentingan
itu tidaklah menghambat dan membuat seseorang itu melupakan tujuan
dan apa yang menjadi mimpi dan tujuannya didalam organisasi ini,
karena ini merupakan suatu komitmen awal dari individu tersebut untuk
organisasi tersebut.
Buat saya , ambisi sebuah ego bisa menjadi pembangkit semangat dan
juga bisa jadi penghancur dalam sebuah organisasi, saya amatlah
bersyukur didalam organisasi buddhis ini masih ada ambisi dari
anggotanya yang begitu antusias dalam menjalankan tanggung jawab baik
sebagai pengurus dan sebagai anggota
namun antusias yang berlebihan dalam menjalankan sesuatu bisa jadi
akan menimbulkan kekecewaan baru karena ada hal yang tidak berjalan
sesuai dengan apa yang diharapkannya, disini hanyalah diperlukan satu
kunci yaitu : semangat dan keceriaan dalam menjalankan sesuatu,
dengan semangat dan keceriaan itu akan membuat sebuah kegiatan itu
penuh dengan warna,
Ketiga yaitu : disiplin diri
Ada hal yang kurang dari sebuah organisasi, yaitu disiplin diri dan
hal itu dimulai dari jiwa masing masing pengurus. Tidak perduli
apakah dia itu adalah ketua, sekjen atau yang lainnya.
Mungkin bagi beberapa orang amatlah capai dengan kata disiplin diri
itu, namun hal ini amatlah penting karena awal dari sebuah rasa
kepemilikan dan pembelajaran tentang suri tauladan adalah dari rasa
disiplin diri itu sendiri.
Amatlah ironis kalau sebuah organisasi yang besar dengan label
buddhis sangat menyampingkan hal yang penting seperti disiplin diri,.
seperti yang kita ketahui, apabila sang buddha tidak mempunyai
disiplin diri , ia tidak akan menjadi seorang buddha. Namun oleh
karena sikap kerasnya terhadap diri sendiri dan penerapan disiplin
kepada dirinya itulah yang sebenarnya membuat ia mencapai sebuah
tingkat kesucian, yaitu penerangan sempurna. Sekarang bagaimana
dengan kita?
Perlu juga diketahui bahwa sesuatu yang berlebihan adalah hambar
rasanya, dan hanya kita sajalah yang bisa menerapkan rasa itu supaya
terasa pas kepada diri kita sendiri, dan bukan kepada orang lain.
Keempat yaitu : otonomi
Manusia dilahirkan dengan sebuah intelektualitas yang sempurna dan
juga dikaruniai sebuah kreativitas, maka amatlah disayangkan apabila
seseorang itu hanyalah bisa berkata “ yes, master”
Sebuah kebebasan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sebuah
kegiatan atau sebuah rencana kegiatan amatlah diperlukan untuk sebuah
otonomi.
Dalam hal ini sebuah komunikasi amatlah penting, karena dengan
komunikasi itulah seorang atasan bisa mengetahui apa yang ada didalam
pikiran anak buahnya begitu juga sebaliknya dan sebuah kepercayaan
dari atasan kepada bawahan juga merupakan modal bagi sebuah manajemen
yang baik dalam sebuah organisasi.
Dan juga penghargaan juga sangatlah penting bagi seorang atasan
kepada bawahannya apabila kegiatan atau penerapan peraturan hukum
yang dijalankan oleh bawahannya bisa dijalankan secara konsisten
dengan integritas yang tinggi, sebaliknya teguran yang mengugah juga
diperlukan untuk mengingatkan kembali bahwa ada tugas yang lebih
penting untuk dijalankan.
Kelima yaitu : penerapan nilai nilai moral buddhis
Ada satu yang kurang dari organisasi ini, yaitu kurangnya kontemplasi
dari orang orang didalamnya terhadap penerapan dari nilai nilai
moral buddhis
sebuah keperdulian dengan rasa cinta kasih amatlah diperlukan dalam
menjalankan organisasi buddhis yang berlandaskan cinta kasih, yaitu
penerapan nilai cinta kasih dan sebuah rasa penghargaan kepada semua
makhluk.
Juga konsep kalyanamitra amatlah penting dalam penerapan sebuah
kerjasama dalam organisasi pemuda dan mahasiswa buddhis.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan : cintailah makhluk lain seperti
engkau mencintai dirimu sendiri, hal ini amatlah penting bagi kita
untuk memahami esensi dari nilai nilai cinta kasih yang ditanamkan
oleh buddhisme. Dimana kita diminta untuk merasakan kesakitan yang
disebabkan oleh ketimpangan sistem sistem yang diciptakan untuk
menjerat manusia itu sendiri, adalah tugas kita semua mahasiswa
buddhis untuk mengingatkan manusia yang lainnya tentang dampak yang
diciptakan oleh ketimpangan sistem ini..
Dan dari rasa kesakitan yang kita rasakan, kita akan mendapatkan
sedikit nilai nilai kontemplasi untuk pengembangan jiwa spiritual
kita sendiri, dengan demikian maka kita akan senantiasa dapat
merasakan esensi dari arti hidup itu yang sebenarnya.
Keenam yaitu : inisiatif
Adalah hal yang amatlah jarang bagi kita untuk mengambil sikap
inisiatif itu sendiri, cukuplah saya mengambil contoh bahwa setetes
air ditengah gurun pasir amatlah berharga bagi seorang manusia dan
bantuan kita baik moril dan yang penting adalah karya nyata bagi yang
membutuhkan adalah bagai setetes air itu, ada sesuatu yang tidak bisa
kita jabarkan dengan kata kata tentang kebenaran itu, hanya kita
sendiri yang bisa merasakan hal itu.
Salah satu esensi kontemplasi yang paling terkasih adalah pengisian
kembali kekosongan jiwa dengan kasih Dan juga hal ini bisa mengisi
sesuatu yang dirasa kurang, dalam hal ini cukuplah bagi kita untuk
mengatakan biarlah saya yang mengerjakan ini, biarlah saya yang
mengambil inisiatif untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda ini
dengan penuh semangat dan juga mengambil inisiatif dalam suatu
pekerjaan
Agar dapat terlaksana dan bisa memberikan hasil akhir dengan baik.
Dengan inisiatif untuk mengisi sesuatu yang dirasakan kurang bagi
kita, hal ini juga bisa membuat kita merasakan nuansa kontemplasi
atau boleh saya katakan pencerahan sementara , dan hal ini juga bisa
membuat kita merasakan suatu esensi spiritual dari perenungan
terhadap pekerjaan yang kita lakukan.
Sekali lagi saya tegaskan , apabila kau ingin merasakan keberadaan
esensi kontemplatif didalam hatimu , lakukanlah pekerjaan dengan
penuh inisiatif dan dengan rasa syukur dan semangat.
Hal yang menakjubkan ini bisa kita dapati dimana saja, namun “mata”
kita yang masih tertutup saja yang membuat kita menarik diri dari hal
tersebut.
Sebuah kontemplasi yang orang lain rasakan juga bisa kita rasakan
dengan perenungan terhadap karya nyata yang kita buat untuk orang
yang membutuhkan. Hal ini sangatlah nyata dimana hati nuranimu adalah
yang esensi yang tertinggi dari keberadaan tuhan didalam hati kita.
Sedikit pencerahan dari neraka
Chimera
12/10/01
Recent Comments