luv and care

5 09 2003

Agustus kemarin sahabat baik saya menikah dan meminta saya untuk menjadi
pendamping prianya. Yah dengan senang hati saya terima, toh saya tidak pernah
menjadi pendamping pria sebelumnya, dan prosedur prsedur menikahnya menarik
untuk saya pelajari.

Satu hari sebelumnya, saya sibuk membantu sahabat saya mencari barang baang yang
sekiranya akan diperlukan untuk hari H nya nanti, walau kita berbelanja di
tempat yang terpisah, tapi kita tetap menelepon untuk memberitahu masing2
barang2 apa saja yang akan dibeli.

Tibalah saya di citraland mall, menjadi seorang konsumen dadakan, membeli barang
ini dan itu. Lalu saya berpikir, apa yang bisa saya berikan untuk hadiah
pernikahannya?

Saya berpikir untuk membelikannya sebuah buku, yah judulnya sih tentang
pernikahan dan nasehat2nya, seperti chicken soup for the soul, karena saya belum
pernah menikah, jadi saya iseng untuk membuka dan membaca2 beberapa cerita
cerita yang ada didalam buku tersebut, sambil membaca, ada cerita yang menarik
perhatian saya, yang intinya kurang lebih seperti ini, cintailah pasangan anda
seperti pada saat anda bertemu dengannya dan pada hari hari terakhir pasangan
anda. Kalimat terakhir menarik perhatian saya, mencintai pasangan pada hari hari
terakhir?

Pikiran saya yang jomblo ini benar2 belum mengerti apa yang dimaksud dnga
kalimat tersebut. akhirnya saya ambil buku itu dan saya berikan kepada sahabat
saya sebagai hadiah pernikahannya. Singkat kata, pernikahannya berlangsung
sukses dan saya masih juga tetap a happy single man. Hehe.

Hari2 berlalu, diselingi oleh kesibukan kesibukan pekerjaan, saya menerima kabar
bahwa ayah dari teman saya meninggal. Malamnya saya dengan ¡§kuda tunggangan¡¨
saya meluncur menuju rumah duka jabar agung di daerah jelambar. Dengan perut
yang lapar karena belum makan, saya melangkah gontai menuju tempat persemayaman
terakhir ayah sahabat saya. Sesampainya disana, ternyata suasana sudah ramai
oleh teman2 saya yang lain, mereka menertawakan saya karena saya masih belum
berubah, sama seperti saya seperti waktu saya SMA dahulu, cara mereka
memperhatikan saya tetap sama seperti dahulu, yah, dengan menertawakan saya..
dan cara saya menanggapi mereka juga sama, dengan mesem2 keki, hehehe

Ditengah tengah senda gurau di rumah duka (teman saya ini benar2 lucu, dia tidak
mau terbawa kesedihan karena kepergian ayahnya) saya mendengar ibu teman saya
ini berbicara dengan salah satu kerabatnya, dia merasa menyesal karena ia tidak
memperhatikan suaminya pada saat saat terakhir, baginya saat itu adalah saat
yang biasa dijalani dengan suaminya. Dan dengan menangis ia berkata kepada
kerabatnya bahwa ia merasa cintanya kepada suaminya semakin dalam justeru pada
saat suaminya meninggal

Kesibukan2 mereka mencari uang membuat mereka terbawa kedalam keseharian yang
tidak mempunyai makna apa apa didalam kehidupannya..

Saya dengan terharu mendengar kata2 itu, dan terbersit kata2 didalam buku yang
saya belikan kepada sahabat saya itu..

Benar juga, kadang2 kesibukan kita membuat kita lupa dengan seseorang yang kita
cintai,

Orangtua, teman, saudara maupun pasangan, dan begitu kita kehilangan mereka
justru pada saat itulah kita akan semakin mencintai mereka, rasa kehilangan
membuat penyesalan yang pada akhirnya tidak berguna, jikalau anda mengetahui
bahwa esok hari adalah hari terakhir pasangan anda, apakah anda akan semakin
mencintai orang2 terdekat anda? just ask your heart..

Sedikit pencerahan dari neraka

Chimera