pencerahan d ari tukang becak
Meulaboh, 17 Maret 2005
Sedikit pencerahan dari abang becak
Tak terasa sudah setengah bulan saya di Aceh, tidak hanya karena
tugas jurnalistik namun juga yang tak kalah penting yaitu membina
hati saya sendiri,
Cuaca di Meulaboh sangat panas terik, sampai sampai cahaya matahari
itu seakan menusuk.
Menjalankan tugas jurnalistik memang bukan perkara yang gampang
begitu pula dengan mencari berita yang mengharukan. Apalagi ditengah
tengah kondisi badan yang mulai kecapean.
Setelah saya meliput berita, saya diharuskan untuk membuat script dan
mengirim foto via internet, karena akses satu satunya internet ada di
kamp PBB (di Aceh mereka kerap kali disebut dengan United Nations
atau UN) dan jarak dari posko kesana jauh maka saya bersama seorang
teman menumpang mobil dinas untuk kesana.
Di kamp UN, kami diharuskan untuk mengisi buku tamu baru bisa masuk
ke kamp UN yang wow…. Rapi dan teratur sekali, kamp mereka bukan
seperti kamp kamp kebanyakan. Masing masing tenda diatur sedemikian
rupa dan jalan masuk kedalam dibuat dengan kayu sehingga secara
keseluruhan kamp kelihatan rapi sekali.
Setelah mengirim data dan foto melalui internet, saya dan teman saya
pulang dengan berjalan kaki.
Tadinya kami kira mampu berjalan kaki menuju posko, ternyata factor
cuaca yang panas dan jarak yang jauh membuat saya memanggil becak.
Setelah memanggil beberapa becak, akhirnya ada abang becak yang mau
mengantar kami pulang ke jalan Singgah Mata.
Di Meulaboh, becak bisa berfungsi ganda, bisa untuk mengantar barang,
dan juga bisa untuk mengantar penumpang, tidak seperti becak di
Jakarta yang penumpangnya berada di depan, becak di Meulaboh
mempunyai tempat duduk di samping, seperti sepeda motornya jaman NAZI
dahulu.
Singkat kata, kami sedang dalam perjalanan menuju ke posko kami,
dengan rasa ingin tahu saya memandang wajah si abang becak, wajahnya
yang tua penuh keringat karena mengayuh becaknya, saya bayangkan
sendiri, berat teman saya itu sekitar 40 lebih dan berat saya sekitar
60, jadi ia mengayuh becak dengan beban sekitar 100 kg, ditambah lagi
dengan berat becaknya dan berat si abang becak,
Iseng iseng menerka nerka, mata saya tertuju pada jari telunjuk si
abang becak, nampaknya sudah membusuk karena luka yang tidak dirawat.
Dengan rasa ingin tahu saya bertanya kepada si abang becak, lalu
dengan nafas terengah engah ia menjawab jari telunjuknya luka karena
tsunami, dan sampai sekarang masih dalam perawatan.
Setelah lama mengayuh, di benak saya timbul perasaan ingin tahu,
bagaimana sih rasanya mengayuh becak? Semakin lama ia mengayuh,
semakin membuat saya merasa penasaran.
Akhirnya saya minta abang becak itu untuk berhenti, dan saya meminta
untuk mencoba mengendarai becaknya, dengan rasa heran ia
mempersilahkan saya,
Lalu saya naik dan mencoba mengayuh, tiba tiba saya sadar, becak ini
tidak ada rem tangannya, dan rem satu satunya ada di tengah tengah
kerangka sepedanya, saya jadi ragu, namun dengan semangat saya
mencoba.
Kayuhan pertama cukup lancar dan becak berjalan dengan mulus, namun
setelah beberapa puluh kayuhan saya mulai kehilangan kendali, saya
lupa kalau rem tangannya tidak berfungsi, dan akhirnya becak itu
hampir menabrak gundukan pasir di sebelah kiri jalan, teman saya
berteriak teriak ketakutan becaknya akan terbalik.
Setelah berhenti sebentar untuk menenangkan jantung saya yang kaget,
saya mencoba meneruskan kayuhan becak, si abang becak tampak khawatir
melihat saya dan meminta saya untuk turun, namun saya bersikeras
untuk mencobanya terus.
Akhirnya setelah beberapa kayuhan, klakson keras mobil kijang
dibelakang becak membuat saya kaget dan becaknya hampir jatuh
ketengah tengah jalan. Untunglah si tukang becak sigap dan mengambil
kemudi becak, mungkin juga ia takut becaknya rusak karena saya
kemudikan.
Lalu ditengah tengah tawa penuh kebodohan saya, teman saya, abang
becak dan pengemudi mobil kijang (yang untungnya) tidak marah. saya
pun turun dan duduk ditempat yang paling pantas saya duduki, yaitu
tempat penumpang, hiks…
Akhirnya saya dan teman saya sampai juga ke posko kami di jalan
Singgah Mata, namun sayang, saya tidak sempat menanyakan nama abang
becak itu karena saya sudah harus pergi lagi untuk meliput di tempat
yang lain.
Ternyata, mengemudikan becak itu kelihatannya memang mudah tapi
begitu kita mencobanya kita akan tahu bahwa kita tidak mahir benar
untuk mengemudikannya.
Begitu juga dengan pekerjaan, mungkin apabila kita melihat pekerjaan
orang lain, kita merasa bahwa kita mampu, padahal sesungguhnya
dibutuhkan keahlian khusus untuk menjalankan pekerjaan itu.
Hari itu, banyak pelajaran yang saya dapatkan dari si abang becak,
semoga suatu waktu saya bisa bertemu lagi dengannya, semoga….
Sedikit pencerahan dari neraka
Chimera
Recent Comments