jalan jalan di jakarta memang menyenangkan, banyak tempat yang bisa di kunjungi terutama dikala hari libur. tapi jangan salah, sekarang ini jakarta menyimpan potensi pencemaran udara yang amat berat.
jakarta selaku kota ketiga yang terburuk pencemarannya di dunia setelah meksiko dan panama menjadi ancaman terselubung bagi warganya, kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar pencemaran di kota kita ini , sekitar 80 persen dan 20 persen sisanya disumbang oleh pabrik pabrik di jakarta (tempo interaktif, edisi 4 feb dan 25 Juli 2005 /http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2005/02/04/brk,20050204-15,id.html)
digedung gedung bertingkat kita akan melihat langit kelabu di jakarta, wah dari jauh saja kita sudah bisa membayangkan sumpeknya jakarta, menurut data dari kompas edisi 5 Agustus 2003, bahwa pencemaran di jakarta sudah melebihi nilai ambang batas yang diizinkan / NAB, dijakarta ada 5 stasiun pemantau pencemaran udara, di Kemayoran, Gelora Bung Karno, kantor walikota Jakarta Utara dan Jakarta Barat dan Pondok Indah. dari kelima pemantau ini, yang terendah konsentrasi maksimum harian untuk partikulat (PM10) ada di pondok indah yaitu : 378,78 Mikrogram, dan yang tertinggi ada di Casablanca yaitu 496,22 Mikrogram, padahal ambang batasnya hanya 150 Mikrogram. sedangkan konsentrasi karbon monoksida ada di Jakarta timur sebesar 12.82 Mg dan konsentrasi maksimum harian tertinggi (lagi lagi) di Casablanca sebesar 19,75 Mg, padahal ambang batasnya hanya 9 Mg
padahal, CO adalah gas buang yang berbahaya bagi paru2, otak dan jantung, jadi jangan heran kalau penderita jantung di jakarta semakin banyak.
yah, sebenarnya topik yang mau dibahas bukanlah pencemaran, hehe (kecele ya?) dan dengan data data diatas saya mencoba untuk keluar jalan jalan dengan menggunakan bus, ketika mau cek kesehatan di sebuah rumah sakit di daerah kampung melayu, saya dan teman menggunakan bus kota dan mendapati bus ini dalam keadaan penuh
yah, namanya juga bus kota di jakarta, sebagai salah satu sarana sosial di jakarta kita bisa menemukan banyak hal disini, dari pencopet, tukang palak, pengamen, atau karyawan / wati yang baru selesai bekerja di kantor yang ( mau ngga mau )mesti naik bus ini.
bagi pencopet, tukang palak, pengamen dll ini adalah salah satu sarana pekerjaan mereka sehari hari, tanpa bus bisa dibilang mereka kebingungan mencari sarana untuk mencari makan.nah untuk para korbannya yaitu karyawan/ wati ini adalah waktunya untuk survive.. entah merelakan uangnya berkurang, atau sekedar men tes jantung mereka supaya bisa berdenyut lebih kencang. mengutip seorang teman yang sekarng tinggal di Singapura, ia malah kangen jakarta, katanya tinggal di singapura begitu stagnan, tidak ada tantangannya sama sekali. beda halnya apabila berjalan di terminal Tanjung Priok, hidup akan terasa lebih hidup, karena kita tidak akan pernah tahu orang yang berjalan dibelakang kita itu tukang copet atau tukang palak, hehe
singkat kata, setelah melewati kebun pala dan jatinegara yang (luar biasa) macet, kami mendekati rumah sakit yang dimaksud..
nah ini.. begitu bus kota melaju kencang menuju kampung melayu, teman saya berteriak ” kiri.. kiri pak. rumah sakit”, si sopir serta merta langsung membelokkan busnya menuju kerumah sakit yang dimaksud, tanpa memperdulikan klakson mobil dan motor yang ada dibelakangnya apalagi tatapan sinis pengendara mobil, dengan cueksnya si sopir berhenti di kiri jalan. sambil mempersilahkan saya dan teman saya untuk turun, dan si kondektur dengan ramah mengucapkan selamat jalan dan sebaiknya memakai kaki kiri untuk turun.
setelah (sport Jantung) karena kita mesti berjalan sedikit lagi kearah rumah sakit itu. saya jadi berpikir, ternyata public service transportation di indonesia sangat baik, mereka sangat memperhatikan penumpang. seperti bus yang tidak memperdulikan pengendara lainnya, dan hanya memperdulikan penumpangnya supaya mereka tiba di tempat yang dituju, saya jadi ingat ketika ingin mengantar kaset untuk diuplink ke Taiwan via satelit. ketika itu mobil kami terjebak macetnya jalan Daan Mogot. saya kemudian keluar dan berlari di tengah jalan (yang macet) seperti Will Smith di poster film Enemy of the state (hehe) , saya mencari tukang ojek yang mau mengantar saya ke Indosat, lalu si tukang ojek dengan nekadnya nyelip sana sini dan melawan arus supaya saya bisa sampai ketempat yang dituju, wah coba ngga ada tuh tukang ojek, mungkin saya tidak bisa sampai ketempat yang dituju..
berbeda halnya dengan transportasi di Taiwan misalnya, rute rute transportasi mereka diatur berdasarkan nomor nomor dan waktu keberangkatan dan kedatangan bus sudah diatur sedemikian rupa. disiplin sangat diterapkan untuk transportasi disini, mereka tidak bisa berhenti di sembarangan tempat, selain busnya bisa didenda, hal itu juga bisa berdampak bagi lalu lintas. kan macet boo..
kalau tempat yang mau dituju jauh dari bus station, mau tidak mau kita mesti berjalan ketempat yang dituju, selain makan waktu juga makan tenaga.
kadang kalau saya sedang naik motor, saya selalu berpikir bahwa bus bus di indonesia benar benar kurang ajar bisa menepi semaunya, belum kalau asap knalpotnya yang menghitam, benar benar membuat polusi jakarta. sampai sampai pernah ada bus yang saya tendang bodinya saking kesalnya. (tetap saja tidak ada gunanya, karena disamping kaki saya yang sakit, si sopir dengan cueknya menjalankan mesin pembuat asapnya)
mungkin berbeda kalau saya yang menjadi penumpang bus itu, mungkin saya diuntungkan dengan posisi saya saat itu, bisa berhenti di tujuan tanpa susah2 jalan, hehe, disamping mendapatkan sapaan ramah dari kondektur bus, memang disiplin memberikan banyak ketidak mudahan, dan malahan kadang ketidak disiplinan memberikan kemudahan.. benar benar paradoks dunia ini.hehe
liburan benar benar memberikan saya “socio brain storming” , selama ini saya hanya melihat kehidupan dari satu sisi saja, tanpa melihat secara positif sisi yang lain.. yeah, life’s like that..bro..
sedikit canda dari neraka
25-10-2005
Recent Comments