Tahun 2050,
derit pintu yang tua menutup menemani langkah beratku ketika masuk kedalam apartemenku.
namaku David, aku tinggal sendiri diusiaku yang ke 55 tahun ini, aku beruntung dikaruniai badan yang sehat.
anakku Leo sedang sibuk bekerja, kami tinggal di kawasan jakarta utara,
sejenak mataku melihat foto Lisa almarhum istriku, sejenak aku terdiam, sambil menghela nafas panjang, tanganku mengapai kotak hitam di dekat pintu masuk apartemenku, Virtual Memory Imaginator, entah kapan aku sangat bergantung pada alat ini, ketika istriku meninggal 10 tahun lalu, ada seseorang yang menawarkan alat ini kepadaku, sebuah alat yang bisa mengcopy memori ingatan istriku dan membuatnya menjadi alat yang memvisualisasi isteriku didalam kehidupanku sehari hari, memang isteriku tidak hadir dalam fisik, namun ia tetap ada dan bisa berkomunikasi denganku..
“David, kamu baik baik saja?” tanya Lisa padaku,
“entahlah sayang, aku merasa lelah” jawabku sambil duduk di sofa.
“sayang, aku ingin menyentuhmu.. ingin membuatmu merasa baik baik saja” kata lisa sambil tersenyum kepadaku.
mataku seakan tak mau lepas dari bayangan imajinasi tentang isteriku. sesaat aku terdiam sampai aku sadar bahwa tenggorokanku kering karena haus..
kedua kakiku dengan gontai berjalan ke dapur dan menuang air pelega dahaga bagiku..
tangan tua ku seakan tidak kuat mengangkat gelas ke mulutku.. toh akhirnya rasa haus membuatku harus kuat meminum air di tanganku.
“bagaimana david? ” tanya lisa lagi
“lisa, aku merindukanmu, aku ingin memelukmu” jawab david.
“sayang, kamu tahu kan, aku hanya sebuah bayangan, aku tidak bisa menangis, aku tidak bisa tertawa dan aku tidak bisa memelukmu”
aku terdiam, seharusnya aku menyadari hal ini ketika aku membeli alat ini..pertama aku senang, karena bayangan isteriku bisa terus hadir. tapi aku tersiksa. karena kenangannya padaku begitu kuat sehingga aku merasa ia adalah realitas, padahal ia hanyalah sebuah bayangan.
“entahlah lisa, aku ingin meyusulmu, aku sudah hidup lama tanpamu” desahku,
“sayang, aku tahu perasaanmu, anak kita sudah besar. kesepianmu mengalahkan semangat hidupmu”
sejenak aku melihat ia tersenyum, ia sangat cantik walau ia hanya bayangan, namun suara dan wajahnya nampak nyata bagiku.
“kamu masih ingat ketika aku melamarmu, sayangku” tanyaku yang disambut senyumnya yang indah.
“ketika itu dibawah pohon yang rindang, kamu melamarku, ditemani semilir angin yang membelai pipiku, saat itu adalah saat yang bahagia bagiku”
aku tersenyum, dahulu memang indah, ketika burung2 berkicau dan pohon menyapa setiap orang yang lewat dengan desiran bunyi daun daunnya.
tetapi sekarang, ketika teknologi yang membuat segala sesuatunya lebih mudah, malah membuat manusia menjadi kesepian tanpa ditemani alam.
aku melihat kotak itu, kotak hitam yang menjadi penyebab kesepianku. mempermainkanku dan mempermainkan perasaanku saat ini.
“kamu marah sayang? ada apa? “
“ah tidak sayangku, aku hanya benci dengan kotak itu, aku benci dengan kenyataan bahwa kau hanya bayangan bagiku”
ia hanya tersenyum menampakkan senyum yang manis, parasnya tetap seperti sepuluh tahun yang lalu, tidak sepertiku yang larut dengan usia tua. keriput dan lemah. seandainya aku bisa tetap muda.
tanganku meraih pill tidur disamping tempat tidurku, semenjak istriku meninggal aku sering tidak bisa tidur dengan nyenyak, tersiksa dengan bayang bayang, tersiksa dengan kesepianku.
lisa hanya bisa berdiri dan seakan melihatku. aku menghampiri dan menyentuh wajahnya yang manis, tapi aku hanya menyentuh angin kosong
kuingin memeluknya, yang kupeluk juga hanya angin kosong dan pantulan sinar dari mesin keparat itu..
lisa seakan melihatku dengan tatapan kasihan, walau ia bukan wujud nyata bagiku namun seakan ia memahami perasaan hatiku, emosiku dan kesendirianku..
aku terduduk lemas, diam tanpa suara.. ditemani suara angin yang masuk dari jendela di apartemenku.
tempat ini, penuh dengan kenangan bagiku, suara itu, tawa anak anak ditemani lantunan piano yang dimainkan oleh Lisa. Leo kecil yang berlari lari , anakku yang manis, sekarang ia sudah dewasa dan punya kehidupan sendiri, meninggalkanku sendirian duduk ditepi tempat tidur ini..
ah, pikir apa aku?
“david, kamu masih disana? kamu baik baik saja, sayang?”
“aku tak apa apa sayang, hanya sedikit mengantuk”
pikiranku melayang, mataku berat karena pengaruh pill itu.
matahari sudah mulai terlelap ditelan oleh cakrawala,
aku lelah, aku jenuh.. pelan pelan mataku mulai menutup…ah, kadang kenyataan bukan yang terbaik untukku.
pelan pelan anganku melayang, seakan terapung di sungai yang penuh wangi bunga, sangat indah sekali,
“hai, aku disini sayang” suara lembut menyapaku
Lisa ada disampingku, memegang tanganku seperti kenyataan yang aku hadapi sehari hari,
“aku ada dalam kenanganmu sayang, walau aku tak bisa menyentuhmu dan ada disampingmu, aku akan selalu ada bersamamu”
seakan aku tak percaya apa yang terjadi, kembali ke masa lalu bersama orang yang kucintai.
bunyi kunci menyertai derit pintu masuk apartemenku, “pa, papa sudah pulang?” panggil Leo sambil menutup pintu.
matanya melihat pintu kamar yang tidak tertutup, melihat ayahnya yang tergolek di ranjang dengan tanganyang terkulai,
dengan cepat ia melangkah menuju kesana, seakan tahu apa yang terjadi
ia melihat botol pill tidur yang berserakan disamping tempat tidur David, dengan cepat ia memeriksa nadi ayahnya, masih ada denyutan, pikirnya..
tapi ia tak mau ambil resiko, dengan cepat ia menelepon dokter ronny, tetangganya. setelah menaruh gagang telepon, matanya melihat ibunya dengan tatapan sedih.
namun ibunya melihat ayahnya dengan sambil tersenyum.
“apa yang terjadi padamu, sayang?” tanya Lisa kepadaku, aku hanya bisa tersenyum, “aku rindu padamu, sayang”
“aku juga rindu padamu, tapi dunia kita berbeda sayang”
“aku tak perduli sayang, sekarang aku ada disini, bersamamu” jawabku
Lisa tersenyum cantik sekali,
kulihat tangannku, tak tampak berkeriput, seakan aku kembali muda kembali. dedaunan berjatuhan dan suara pohon seakan menyambut kehadiranku kembali.
aku menggapai tangan Lisa ku, Lisa ku yang hilang dahulu, sekarang telah aku temui kembali.
“Leo, maafkan aku, sudah terlambat” sesal dokter ronny kepada Leo yang tidak percaya apa yang terjadi.
“Pa.. beristirahatlah dengan damai” ujar Leo perlahan, sesak oleh kesedihan yang mendalam
“kamu mau memory ayahmu di masukan ke Virtual Memory Imaginator, Leo?” tanya dokter ronny
“tidak, tidak dokter. kadang kenangan itu lebih baik tidak untuk diingat lagi, kadang ingatan dan memori itu lebih baik dibiarkan hilang oleh waktu, aku yakin, ayahku bahagia disana” ujarnya perlahan.
matanya melihat senyum ayahnya seakan mengembang, dan melihat Virtual image dari ibunya yang hanya bisa melihat ayahnya dari kejauhan.
“Leo, jangan takut, ayahmu bahagia, dia bebas dari kesepiannya, bebas dari kesendiriannya” ujar dokter ronny tersenyum..
perlahan Leo berjalan menuju kotak hitam itu… dan mematikannya..
sepi kembali datang, namun seakan David bahagia diakhir perjalanan hidupnya, karena ia mendapatkan kenangannya kembali didalam akhir hidupnya
suasana kembali hening.. sepi…
Sedikit pencerahan dari neraka
Chimera
20070506
Recent Comments