“To all passengers on Cebu Pacific Airlines, we will arrive at Manila’s Ninoy Aquino Airport, please fastened your seatbelt, Uppering your Seat, we behalf Cabin Crew would like to thank you for using Cebu Pacific Airlines”
silaunya lampu pesawat membangunkanku dari tidur, mataku agak berkunang kunang namun kegembiraanku mengalahkan rasa kantukku
manila di pagi hari. Hm, kilau lampunya benar2 indah dari udara, aku sedang menengok ke jendela menikmati indahnya Manila di jam 05.30 pagi,
ketika teman temanku di Jakarta sedang menikmati tidur yang nyenyak karena disana masih jam 4 subuh, aku sudah terjaga karena perbedaan waktu satu jam disini.
“we’ll arrive soon” senyum seorang teman disebelahku, pak Raja namanya, ia berasal dari Malaysia dan ia datang ke Manila untuk urusan bisnis, tentu saja,
dengan tinggi 190 Cm, berkulit Hitam dan keturunan India, dan baik hati, ia menjadi pusat perhatian orang2 yang kebanyakan orang Philipina dan Indonesia sepertiku..
ia membelikanku air minum yang dibeli diatas pesawat karena ada kebijakan untuk tidak membawa air minum dari luar pesawat, agak merepotkan sebenarnya, karena tubuh manusia amat membutuhkan air apalagi berada diatas pesawat… so, thankful to him.
derit bunyi ban pesawat yang menyentuh aspal bandara Ninoy aquino membuat rasa gembiraku bertambah, karena aku akan bertemu dengan kekasihku yang sedang belajar disini. Rasa rindu yang tersimpan bisa terobati karena aku akan bertemu dengan Kim di Manila setelah setengah tahun kami menjalin cinta,
janjiku untuk menemaninya ketika ulang tahun bisa terealisasi, and I am happy for it.
setelah proses administrasi yang cukup singkat, akhirnya aku bisa menikmati juga udara Cerah Manila dari sini..

dengan suhu sekitar 32 Derajat Celcius, aku tidak kesulitan untuk beradaptasi dengan Cuasa disini..
aku menunggu cukup lama karena aku tidak tahu harus menunggu dimana untuk bertemu
dengan Kim,
seorang polisi memanggilku, mungkin karena ia melihatku seperti kebingungan, menawarkan handphone untuk menelepon.
Well, aku terima saja niat baiknya, maybe this is part of Phillipines tourist service.
Ia memanggil temannya dan memberikan handphonenya untukku menelepon Kim,
Kulihat dibukunya banyak no Handphone yang tercatat disana
“mungkin ini no HP turis2 yang dibantu” pikirku.
Setelah aku menghubungi Kim, dan memberitahukan tempat aku menunggu, aku lalu mengembalikan Handphone itu.
“please, the handphone rent cost please”
“what?”
“the rent cost”
“shit!! “ pikirku, polisi ini ternyata tidak sebaik yang aku duga.. ia meminta biaya sewa Handphone kepadaku..
“ya udahlah” pikirku.. daripada ribut2… terpaksa aku keluarkan 15 Dollar untuk polisi itu dan temannya…
“thanks, Sir..”
“!@#$!@#” aku memaki dalam hati dengan kesal.
15 Dollar = 657 Peso = 135,000 Rupiah, jumlah yang cukup besar…
“Shit!! Ditodong sama Polisi!!!”” pikirku.. polisi dimana saja ternyata sama, hahaha
yah, gapapa deh. Daripada tidak ketemu sama Kim dan menjadi gelandangan di bandara.
Hehe. What a day… kesan pertama yang tidak baik…
Akhirnya aku bisa bertemu dengan Kim, senyumnya yang manis dan pelukannya menyambutku, ia membawakanku Bakpao dan Minuman untuk mengobati rasa haus dan laparku. Thanks Honey… ☺
Well, setidaknya ini bisa mengobati rasa kesalku ditodong oleh polisi Filipina itu
Kami menuju ke Cityland De La Rosa, Washington Corner. Dengan menggunakan Taxi.
Ternyata Taxi di bandara menggunakan Voucher, sama seperti Jakarta, dengan rate yang mahal, sekitar 500 Peso (sekitar Rp. 103,500) akan lebih murah kalau naik taxi biasa, terang Kim kepadaku.
Di perjalanan, aku melihat stiker yang mencuri perhatianku,
“Child Sex Tourist, Don’t Turn them away, turn them in”
rupanya Manila juga menjadi surga tujuan bagi para Paedofilia.. (There are 375,000 women and children in prostitution in the Philippines. Most of them, aged 15 – 20, are from semi-rural and urban backgrounds and have been victims of incest and sexual abuse. (“375,000 Filipino Women and Kids Are Into Prostitution,” Philippine Daily Inquirer, 26 July 1997)

Di jendela, sambil menggengam erat tangan Kim, Aku melihat potret Manila yang sesungguhnya,, tidak seindah yang aku bayangkan…
bayangan kemiskinan ada dimana mana, dengan populasi sekitar 1,581, 082 (tahun 2000) dan area sekitar 38.55 Km2, manila adalah kota yang padat.. banyak masalah sosial disini..
berbeda dengan manila, makati city adalah kota yang lebih bersih, hm , agak ironis memang.. seperti surga dan neraka. hehehe
beberapa mobil yang kulihat agak familiar, seperti Kijang Innova yang buatan Indonesia, dan bahkan Kijang model Kotak yang pertama kali dikeluarkan pun ada disini, tentunya dengan menggunakan model setir yang berada di sebelah kiri, membuatku agak tidak terbiasa, sama seperti dulu aku berkunjung ke tempat kakak perempuanku di Taiwan..
disini kendaraan kijang ini biasa digunakan untuk transportasi umum, selain untuk kendaraan pribadi tentunya, dan merupakan salah satu kendaraan favorit disini, karena jumlahnya cukup banyak kulihat.. selain itu, karena keluarga disini merupakan keluarga besar, rata2 orang yang kutanya , mereka pasti menjawab bahwa jumlah anak mereka diatas 3.. wew..
ada beberapa kendaraan yang menurutku agak Unik, Jeepney salah satunya, kendaraan yang di ilhami oleh kendaraan perang dunia ke 2 yang digunakan oleh amerika ini dimodifikasi secara unik, Bodi kendaraan di perpanjang dan dihiasi oleh beberapa pernak pernik yang menarik.
Dengan gabungan kata Jeep (sesuai dengan jenis kendaraannya) dan Knee (karena penumpangnya duduk berhadap2an sehingga lututnya bersentuhan / Knee) ini menjadi salah satu kebudayaan setempat.

Lalu juga ada Kendaraan yang menyerupai Becak di Medan, namun tempat duduk pengendaranya di buat panjang, sehingga bisa muat banyak orang. Sekitar 6 orang bisa duduk disitu.. well , a good idea… pikirku
Lalu lintas di Manila, juga tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Macet, suara klakson dimana mana, bahkan yang menarik bagiku, semua mobil publik mempunyai tulisan “How’s My Driving? “ lalu nomor telepon pengaduan tertulis dibawahnya.
Rupanya, begitu berantakannya etika menegemudi disini sampai sampai disetiap mobil ada tulisan seperti itu.

Jam menunjukkan pukul 07 pagi ketika taxi kami sampai di City Land, Apartemen tempat Kim tinggal,
Sedikit tidur untuk mengobati rasa kantukku menjadi obat mujarab bagiku, setelah melihat2 televisi di kamar ber tipe 21 ini , seperti menjadi istana bagiku, zzzzz
Malam harinya, kim mengajakku ke sebuah restoran yang bernama Aristrokrat didekat Manila Bay (data)
Menu ayam bakar khas Filipina menjadi pilihanku dan satu menu sup bihun ayam dicampur dengan udang kering (E-bi) menjadi pilihan selanjutnya. (aduh, ga tau namanya, tapi yang jelas, menu ini menjadi pilihan utama di restoran ini)
hm nice and recomended menu if u come here.

dan, hmm ini yang menarik, ada Java sauce, dan ternyata isinya.. sori ga bisa bilang, karena saya ngga buka.. kekekekek ,
, tapi yang jelas, kata Java sudah terkenal dimana mana, dari nama kopi, saus, bumbu makanan, sampai bahasa program.. hehe

Setelah kami makan, kami berjalan jalan di Manila Bay, malam hari penuh dengan pengendara delman dan tidak akan terkejut apabila ada pengendara delman yang dengan kukuh mengikuti setiap turis yang lewat, kemana saja turis itu pergi, pasti pengendara delman itu mengikutinya dengan setengah memaksa.. well well, second bad impression of Filipino. Hehe
Malam hari ditengah tengah gemerlapnya malam, kami berjalan jalan di pesisir manila bay ditemani oleh beberapa pasangan yang ikut serta menikmati malam berduaan, seperti kami berdua tentunya,
Kim menunjuk sebuah gerobak , hm, sepertinya gerobak itu menjual telur rebus,
“itu Balot, an. Makanan khas Filipina, coba deh”
sekilas balot nampak seperti telur biasa, namun akan kelihatan perbedaanya ketika kita mengupas kulit telurnya, embrio anak ayam yang hampir sempurna terlihat seperti benda yang aneh


agak aneh memang memakannya, tapi buat turis , atau orang yang pertama kali datang, dianjurkan untuk mencobanya, karena ini adalah makanan khas Filipina dan tidak ditemui ditempat lain, namun buat pecinta binatang, dianjurkan tidak untuk mencobanya, hehe.
Rasanya agak sedikit aneh, karena agak berair, namun kalau kita mencobanya benar benar, rasanya seperti telur yang matang, namun agak keras sedikit.
Malam itu kita berjalan jalan di dekat manila bay, banyak bar dan klub malam, yang dibuka oleh orang orang jepang dan korea,
Kami berjalan sampai tak sadar malam sudah larut, akhirnya kami pulang, dan aku bermimpi, kejadian menarik apa yang akan kutemui esok…
Well, The night is long, but still time is short.so… enjoy !!

Recent Comments