Hari yang agak berangin di sabtu sore, ketika saya coba mengecek pelek ban motor saya yang sudah mulai agak bengkok di persimpangan pangkalan bambu dekat kampung saya tercinta, teluk gong.
Ada sekitar 3 motor yang menunggu di tempat setel pelek yang terkenal di sana, setel pelek Jun, namanya.
Iseng iseng, sambil saya menyeruput teh botol di warung sebelah bengkel, mata saya melihat headline di Koran setempat ngaco yang besar besar menulis, SUHARTO WAFAT
Wah, apa lagi nih? Pikir saya..
Maksud hati tangan ingin menggapai, namun keburu disambar oleh mbak mbak si empunya Koran,
Wah, kalah cepet ni. Pikir saya.. sambil melirik sambil saya mendengar si mbak ngomong dengan tukang pelek yang sambil berkeringat melepas ban motor saya,
“wah mas., ini pak harto kasian ya, lha wong belum mati, sudah dibilang mati”
“yah, itulah resiko orang yang megang batu mirah delima, mbak. Matinya susah” jawab si mamang tukang pelek dengan sok tahu, mungkin kebanyakan liat Koran lampu merah atau majalah misteri
“iya ya” jawab si mbak dengan sok mengerti , “memang begitu ya kalau megang barang barang begituan ya, matinya nggak diterima bumi”
dalam hati saya hanya bisa nyengir, kalau hati bisa nyengir..
yah memang beberapa hari ini berita suharto ramai mewarnai berita berita di Koran Indonesia, tidak hanya Koran local, sampai beberapa rekan rekan wartawan yang rela menginap di rumah sakit (bukan konotasi negatif atau opname, tapi dalam rangka menunaikan tugas) untuk meliput detik detik menjelang kritisnya pak harto..
yah, Koran local memang tidak banyak meliput soal naiknya harga minyak, ataupun harga kedelai yang menghajar penjualan tempe dan tahu yang naiknya gila gilaan, ironis memang, ditengah tengah banjir dan tanah longsor di bojonegoro yang memakan korban berita tentang pak harto lebih banyak diliput..
terlebih lagi infotainment televisi yang lagi ramai mengupas tentang perceraian anaknya pak harto, akhirnya ujung ujungnya ke pak harto lagi beritanya..
saya berpikir, wah ini aja mantan presiden beritanya bener bener di blow up besar besaran nih, sampai sampai nafas terakhirnya pun ditunggu tunggu seperti menunggu gol dalam sebuah pertandingan sepakbola.
Lalu si mbak nyeletuk “ Gimana nasib pengungsi yang kelaparan dan kebanjiran ya? Jadi pengungsi di rumah sendiri.. mau mati pun nggak diliput,
“boro boro,” jawab si mamang tukang pelek “ mana ada wartawan yang mau meliput berita orang biasa kayak kita kita ini yang meninggal?”
“ya, iyalah jelas itu” pikir saya sambil nyengir.. untung nggak diliat si mbak , hehe
Kalau mengutip kata kata dari jurnalistik, kalau anjing menggigit orang itu biasa, tapi kalau orang yang menggigit anjing itu baru luar biasa.
Nah ini, orang mau meninggal kok di blow up besar besaran ya, padahal masih banyak berita yang bisa diambil, seperti nasib orang hidup yang terpaksa digusur, atau nasib orang hidup yang rumahnya terkena tanah longsor.. wew…
Sampai sampai permintaan maaf pun dipertanyakan, ada yang bilang keluarga pak Harto minta maaf ke pemerintah, lalu pemerintah minta maaf ke keluarga pak harto.. jadilah saling maaf maafan, nah ada lagi? Yang minta suharto di adili, lalu ada yang bilang pemerintah tidak berhak memberikan maaf kepada keluarga cendana
Sampe sampe si mbak penjaga warteg bilang “ aneh ni Lu adili dulu baru dimaafken.. lha? Orang dah sekarat gitu kok diadili ya? “
“iya ya, kadang goblok sekali itu tukang politik” jawab si mamang (mungkin si mamang menganggap politikus itu tukang, dan mungkin udah muak dengan politik Indonesia yang nggak pernah bahas hal yang penting
“dulu mah, enak. Gak kayak sekarang, harga naik. Ribut melulu, bosen” kata mbak penunggu warung sambil manggut manggut nggak tahu marah dengan siapa..
Wah, saya jadi berpikir, perbuatan seseorang sewaktu masih hidup itu menentukan seperti apa kematian dia , mungkin saya dan anda yang mbaca blog ini berpikir.. kalau gue mati mah.. paling pening biaya penguburan, beres… abis itu tamat cerita. Tapi. Gimana kalau yang miskin ya? Mau mati saja susah, berobat sampe opname dirumah sakit aja pasti nggak bisa bayar, apalagi pak harto yang udah beratus ratus juta biayanya ya. Hanya supaya bisa tetap hidup dan jadi headline televiisi dan Koran..
Wah.. hebat.. ditengah tengah ketidakpastian pemerintah yang menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai ternyata masih bisa hambur duit buat biaya mantan presiden, pdahal nun dekat disana, masih ada sekolah yang hancur, orang yang menangis gak bisa mati mati gara gara rumahnya hancur kena banjir bandang
Sambil menyeruput teh botol saya yang sudah habis.. enggak sadar saya, karena mungkin kebanyakan mikir sing mboten mboten.
Ini sih pemikiran wong cilik macam saya..
memang… dunia ini emang aneh… yang hidup tidak diprioritaskan, yang mati malah di prioritaskan
“mas, udahan nih” kata si mamang
“makasih mas, salam buat bang jun”
sejenak suasana sepi, si mbak dan si mamang menatap saya dengan penuh arti.. sambil berkata pelan
“bang jun udah meninggal mas, baru 2 bulan lalu” katanya..
buru buru saya cabut, pamitan pulang takut menyinggung yang udah pergi duluan.. hiiiiiiii
Recent Comments