sedikit cerita dari banjir
4 02 2008bencana alam memang nggak bisa ditebak, kadang dia datang meninggalkan kerusakan, dan kadang dia datang meninggalkan bekas bekas cinta..
bekas bekas cinta? kok bisa?
waktu banjir melanda jakarta 1 Februari 2008 yang baru lewat ini, saya terpaksa menginap di kantor. melewati hari hari berharga bersama teman teman, bercanda dengan mereka, mengirim gambar ke Taiwan seperti yang kami lakukan dahulu, thanks friends for the help.
.. saya tidur di lantai ruang meeting yang juga saya lakukan pada tahun lalu dibulan yang sama. dan jalan jalan ke lantai 10 dengan menggunakan celana pendek dan baju bola seperti mau futsal, hehe.
keesokan harinya, saya tiba di tanggul Teluk gong yang sudah penuh dengan mobil mobil yang berjejeran di samping kiri dan kanan jalan yang sempit dan berlumpur setelah harus berjibaku dengan air banjir di mangga dua, Saya terpaksa harus menggunakan perahu untuk masuk kerumah saya, kendaraan ke empat yang harus dimiliki warga teluk gong setelah mobil, motor dan sepeda.
letak Teluk gong yang dekat dengan kali angke membuat warganya harus mengalami banjir yang paling terakhir surutnya. karena letak kali angke yang dekat dengan kali adem yang bermuara di laut inilah yang membuat kami harus bersabar.
perahu yang saya tumpangi cukup besar. dengan modifikasi kayu yang diikat dengan jirigen plastik membuat perahu kecil kecilan ini cukup stabil, dengan didorong oleh si abang empunya perahu, pelan pelan saya menyusuri jalan menuju rumah saya yang di penuhi oleh air setinggi 70 Cm.
perjalanan saya menuju rumah dipenuhi oleh pemandangan pemandangan menakjubkan buat saya, seorang ayah yang menggendong anaknya dengan tersenyum menyapa saya, padahal saya tidak pernah mengenal bapak itu, si anak laki laki itu berumur sekitar 5 tahun tidak menampakkan raut wajah yang ketakutan, malahan dia senang karena ada pemandangan yang hanya bisa dia temui setahun sekali.
lalu anak anak yang ceria sedang bermain main air ditengah tengah kekalutan dan raut cemberut orang orang dewasa yang kehilangan harta benda mereka.
ditengah kecipak air, saya juga melihat seorang ibu ibu penjual nasi di warteg sedang memasak, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesusahan, ketika saya menyapa ibu itu, dia hanya tersenyum sambil berkata , “lagi masak buat si abang2 itu, an” katanya sambil tersenyum menunjuk abang penarik perahu yang mulai tersegal segal kecapean karena mendorong perahu saya..
lalu mata saya menangkap sepasang sejoli yang sedang bercanda sambil berjalan melewati air. raut wajah mereka juga tidak kesusahan, mereka tersenyum bahagia sambil memegang tangan.
wah, pikir saya. saya menjadi malu dengan diri saya sendiri yang sangat rumit, saya selalu berpikir ah, banjir lagi… banjir terus… gimana sih pemerintah? gimana dengan keadaan keuangan ? dan lain lain.
yah.. ketika bencana melanda kita, itu artinya kita sedang diuji bagaimana hati kita bisa mengatasi bencana ini..
pemandangan yang saya lihat membuat saya merenung kedalam hati.. kita seharusnya belajar pada mereka, orang orang biasa , ketika bencana melanda. mereka bisa dan tahu mengatasi hal ini dari dalam hati mereka dahulu. mungkin juga mereka sudah biasa dengan kejadian ini.. dan mereka hanya bisa menerima saja.. tidak seperti kita yang selalu bertanya, ini tanggung jawab siapa? siapa yang begini, begitu… siapa yang salah…?
orang orang biasa lebih bisa belajar dari pengalaman.. mereka yang sederhana dan mungkin sudah kehilangan harta benda mereka, masih bisa tersenyum dan bisa menyapa. menjadikan beban di hati orang yang melihatnya agak terangkat.. dan ketika media mengangkat masalah banjir, mereka kehilangan kehangatan ditengah bencana yang dingin
bagaimana dengan pengungsi lumpur? pengungsi korban tanah longsor ? mereka yang kehilangan harta benda mereka? dan mereka yang kehilangan semua hal, termasuk sanak saudara yang dahulu berkumpul dengan ceria bersama mereka sampai kapankah mereka bisa tersenyum dengan hangat ditengah tengah suasana yang dingin?
sekarang, banjir telah surut.. meninggalkan banyak pertanyaan dan sedikit jawaban… masih adakah kehangatan di tengah bencana di negeri kita ini? sebuah pelajaran untuk kita renungkan bersama
Comments : 3 Comments »
Tags: banjir, cerita, cinta diantara bencana
Categories : Tulisan bebas
si Dongki telah mati…
2 02 2008hujan rintik rintik turun dari langit seakan menambah suasana sendu di tempat pemakaman desa kerjakeras
tanah masih merah di kuburan si dongki, keledai tua itu sekarang sudah mati, terbujur kaku disaksikan oleh beberapa warga desa kerjakeras.
keledai tua ini sudah hidup selama 30 tahun di desa kerjakeras, selama ini pula banyak kerja keras keledai ini yang membuahkan hasil, seperti jalan di depan desa kerjakeras, bangunan bangunan rumah desa , tidak luput dari andil si Dongki ini.. dia bisa membantu membawakan barang barang, bisa narik muatan yang berat.. dan lain lain..
setahun ini, si dongki karena sudah tua.. jadi difungsikan sebagai keledai penggiling kacang kedelai.. yah memang tidak jauh jauh dia mesti berjalan, hanya berputar putar di penggilingan itu saja, sampai akhirnya si Dongki kelenger dan mati pusing karena setahun dia hanya berputar putar.. , bahkan waktu makan rumput pun, dia berputar putar di pohon, mungkin menganggap dia masih bekerja.. ah dasar si Dongki.. setelah 30 tahun.. akhirnya dia mati juga..
“sekarang ini mari kita berdoa untuk si dongki, keledai di desa kerjakeras yang sangat beruntung didoakan oleh sebagian besar warga desa kerjakeras, sebagian kecilnya… yah, mungkin tidak menganggap penting peranan si dongki bagi desa kita” kata pak ustad membuka upacara kematian.
“si dongki telah mengajari kita, bagaimana menjadi binatang itu, dia telah mengawini sebagian besar keledai betina di desa kita, walau yang dikandang tetaplah satu betina, tapi sebagai jantan yang hebat. si dongki ini telah membuat beberapa keledai kecil di desa kita, dan akhirnya keledai ini juga berguna buat desa kita” ujar pak ustad lagi, sambil manggut manggut
pak Tukijan, pemilik dongki meneruskan “makasih pak ustad, teman teman sedesa kerjakeras yang saya hormati, kita sudah bekerja keras bertahun tahun, dan kerja keras kita ini salah satunya adalah buah kerja si dongki juga…”
“jalan didepan jalan kerjakeras, dibuat dengan kerja keras warga sini dan si dongki, kadang warga disini duduk duduk, si dongki yang menarik alat untuk meratakan tanah” kata pak Tukijan disambut senyum mesem warga kerjakeras yang hadir.
“memang, si dongki memberiken desa kita ini sebuah warna… kadang warna gelap dan kadang warna terang, yang mana daripada warna ini.. merupakan juga warna dari desa kerjakeras ini” ujar pak kades sok tahu, yang disambut manggut manggut warga desa yang juga tidak tahu apa artinya ucapan pak kades ini..
“tapi bapak bapak, ibu ibu semua… ” potong mang parno , “si dongki ini mesti di adili!!! ”
sejenak suasana hening menjadi gempar…
mang Parno yang memang dikenal dengan ke parno-an nya ini dengan tegas mengatakan “saya tidak suka dengan si dongki ini, sejak dia hadir di desa kerjakeras ini, saya selalu bekerja keras membereskan kebun saya yang sering di acak acak oleh si dongki ini… bahkan.. anak anak si dongki ini, juga ikut ikutan mengacak acak kebun saya…DONGKI HARUS DIADILI!!! ” teriak mang Parno dengan ke parno-an nya…
“wah mas, si dongki kan sudah meninggal, mosok mau diadili? memangnya pejabat korup apa?” tukas mbok Parni kesel.. dia memang sering ribut dengan mang Parno.. terutama soal mang Parno yang sering ngutang di warungnya.. begitu ditagih.. mang Parno malah berlagak Parno..
“pak kades, minta petunjuk pak” kata wakades mang Jilad yang memang dikenal suka menjilat..
“ehm ehm, tenang dulu mang Parno” kata pak kades mencoba menenangkan mang Parno yang memang sudah parno, ” si Dongki sudah mati, secara hukum, nyang mana daripada binatang atau manusia yang sudah mati itu sudah tidak bisa diadili secara nyang mana daripada hukum” ujar pak kades dengan nada berwibawa,
“tapi pak, si Dongki sudah sering mengacak acak kebun saya, anak anaknya juga sering bikin ulah..”
“sudahlah mang Parno.. si Dongki sudah mati.. biarkan sajalah.. toh si Dongki juga tidak bisa mengacak acak kebun mang Parno lagi, lagipula mana ada sejarahnya keledai hidup lagi..” kata mbok Parni… disambut dengan anggukan warga kerjakeras..
“sekarang, bapak bapak dan ibu ibu semua.. warga kerjakeras yang saya cintai dan banggakan.. si Dongki ini memang sudah nyang mana daripada mati alias meninggal.. kita memang tidak bisa melupakan jasa si Dongki, baik itu yang baik dan yang buruk.. kita terima itu sebagai pribadi nya Dongki” ujar pak kades yang memberi nasihat, seperti memberikan testimonial terakhir..
“lalu, saya juga mengucapkan terima kasih kepada pemilik Dongki, pak Tukijan.. yang sudah mendayakan dongki untuk ikut serta membangun desa kerjakeras ini.. ” lanjut pak kades yang disambut anggukan pak Tukijan
suasana hening sejenak..
“tapi pak, Dongki tetap harus di adili” kata mang Parno tidak puas..
“ehm, mari kita tutup upacara ini dengan berdoa, moga moga arwah si Dongki bisa diterima olehnya”
“tapi… “
“terima kasih semuanya, warga desa kerjakeras yang sudah mau hadir di pemakaman ini” tutup pak kades..
“tapi pak… dia tetap.. “
“terima kasih… sekarang mari kita pulang”
satu persatu warga desa kerjakeras mulai pulang, pak ustad, beberapa warga lain pun mulai mengangkat kaki untuk pulang ke rumah masing masing..
“begini pak kades, si Dongki itu tetap harus diadili… kenapa? coba pak kades liat kerusakan yang dia timbulkan..”
“iya iya.. mari kita bahas sambil pulang” ujar pak kades sebel… sambil berjalan diikuti oleh mang Parno yang berusaha untuk tetap meyakinkan pak kades.. diikuti oleh wakades mang Jilad yang tergopoh gopoh membawa payung untuk pak kades
tinggal pak tukijan yang tinggal disana melihat si Dongki yang terbaring kaku di liang lahat. sambil menangis dia perlahan meninggalkan tempat pemakaman desa kerjakeras…
si Dongki memang telah mati, dengan meninggalkan banyak pertanyaan.. banyak masalah dan banyak hasil dari kerja kerasnya untuk desa kerjakeras
akhirnya, desa kerjakeras masih harus bekerja keras lagi… dengan atau tanpa si dongki..
“pak…. si dongki tetap harus diadili pak… ” sayup2 suara mang Parno mengakhiri cerita ini..
Comments : Leave a Comment »
Categories : Tulisan bebas






Recent Comments