bencana alam memang nggak bisa ditebak, kadang dia datang meninggalkan kerusakan, dan kadang dia datang meninggalkan bekas bekas cinta..
bekas bekas cinta? kok bisa?
waktu banjir melanda jakarta 1 Februari 2008 yang baru lewat ini, saya terpaksa menginap di kantor. melewati hari hari berharga bersama teman teman, bercanda dengan mereka, mengirim gambar ke Taiwan seperti yang kami lakukan dahulu, thanks friends for the help.
.. saya tidur di lantai ruang meeting yang juga saya lakukan pada tahun lalu dibulan yang sama. dan jalan jalan ke lantai 10 dengan menggunakan celana pendek dan baju bola seperti mau futsal, hehe.
keesokan harinya, saya tiba di tanggul Teluk gong yang sudah penuh dengan mobil mobil yang berjejeran di samping kiri dan kanan jalan yang sempit dan berlumpur setelah harus berjibaku dengan air banjir di mangga dua, Saya terpaksa harus menggunakan perahu untuk masuk kerumah saya, kendaraan ke empat yang harus dimiliki warga teluk gong setelah mobil, motor dan sepeda.
letak Teluk gong yang dekat dengan kali angke membuat warganya harus mengalami banjir yang paling terakhir surutnya. karena letak kali angke yang dekat dengan kali adem yang bermuara di laut inilah yang membuat kami harus bersabar.
perahu yang saya tumpangi cukup besar. dengan modifikasi kayu yang diikat dengan jirigen plastik membuat perahu kecil kecilan ini cukup stabil, dengan didorong oleh si abang empunya perahu, pelan pelan saya menyusuri jalan menuju rumah saya yang di penuhi oleh air setinggi 70 Cm.
perjalanan saya menuju rumah dipenuhi oleh pemandangan pemandangan menakjubkan buat saya, seorang ayah yang menggendong anaknya dengan tersenyum menyapa saya, padahal saya tidak pernah mengenal bapak itu, si anak laki laki itu berumur sekitar 5 tahun tidak menampakkan raut wajah yang ketakutan, malahan dia senang karena ada pemandangan yang hanya bisa dia temui setahun sekali.
lalu anak anak yang ceria sedang bermain main air ditengah tengah kekalutan dan raut cemberut orang orang dewasa yang kehilangan harta benda mereka.
ditengah kecipak air, saya juga melihat seorang ibu ibu penjual nasi di warteg sedang memasak, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesusahan, ketika saya menyapa ibu itu, dia hanya tersenyum sambil berkata , “lagi masak buat si abang2 itu, an” katanya sambil tersenyum menunjuk abang penarik perahu yang mulai tersegal segal kecapean karena mendorong perahu saya..
lalu mata saya menangkap sepasang sejoli yang sedang bercanda sambil berjalan melewati air. raut wajah mereka juga tidak kesusahan, mereka tersenyum bahagia sambil memegang tangan.
wah, pikir saya. saya menjadi malu dengan diri saya sendiri yang sangat rumit, saya selalu berpikir ah, banjir lagi… banjir terus… gimana sih pemerintah? gimana dengan keadaan keuangan ? dan lain lain.
yah.. ketika bencana melanda kita, itu artinya kita sedang diuji bagaimana hati kita bisa mengatasi bencana ini..
pemandangan yang saya lihat membuat saya merenung kedalam hati.. kita seharusnya belajar pada mereka, orang orang biasa , ketika bencana melanda. mereka bisa dan tahu mengatasi hal ini dari dalam hati mereka dahulu. mungkin juga mereka sudah biasa dengan kejadian ini.. dan mereka hanya bisa menerima saja.. tidak seperti kita yang selalu bertanya, ini tanggung jawab siapa? siapa yang begini, begitu… siapa yang salah…?
orang orang biasa lebih bisa belajar dari pengalaman.. mereka yang sederhana dan mungkin sudah kehilangan harta benda mereka, masih bisa tersenyum dan bisa menyapa. menjadikan beban di hati orang yang melihatnya agak terangkat.. dan ketika media mengangkat masalah banjir, mereka kehilangan kehangatan ditengah bencana yang dingin
bagaimana dengan pengungsi lumpur? pengungsi korban tanah longsor ? mereka yang kehilangan harta benda mereka? dan mereka yang kehilangan semua hal, termasuk sanak saudara yang dahulu berkumpul dengan ceria bersama mereka sampai kapankah mereka bisa tersenyum dengan hangat ditengah tengah suasana yang dingin?
sekarang, banjir telah surut.. meninggalkan banyak pertanyaan dan sedikit jawaban… masih adakah kehangatan di tengah bencana di negeri kita ini? sebuah pelajaran untuk kita renungkan bersama
yah setidaknya tahun ini kita lebih sulit, tidur di kantor, kaga mandi seharian, liatin kios mangga dua yang kosong melompong sedari jam 2 siang.
Padahal tahun lalu masih lebih elit, bobo di Hotel Dusit, dapet breakfast, bisa berenang dan fitnes juga. Bahkan ada yang berendem di bath tub hahaha…menikmati kenikmatan di antara penderitaan orang lain.
Dinikmati aja lah, toh kejadian seperti ini lom tentu terjadi lagi, padahal di dalamnya ada banyak kenangan lucu dan menarik.
ciao……
Wiih mesra amaat..
Kalau mau jujur, sebenarnya yg namanya Bencana Alam itu gak ada. Bukan salah air kalau punya sifat mencari tempat yg lebih rendah. Salah manusianya yg menghalangi jalan air, salah manusia yg membangun rumah di jalur air…Kita manusia terkadang terlalu sombong utk mengaku bahwa masalah2 kita sesungguh ada di sini, di dlm diri kita sendiri.