surat untuk semua, Selamat Idul Fitri 1429 H

30 09 2008

Dear All Humanitarians, pekerja media dan penggiat sosial DAAI TV

 

Tak terasa sudah hampir 3 Tahun kita berdiri, suka duka dan tawa telah lama ada di sisi dan hati kita,

Dari pertama Humanitarian berdiri, Saya tak menyangka sampai saat ini bahwa Humanitarian bisa memberikan kontribusi yang lebih kepada DAAI TV saat ini, baik dari liputannya dan dari hati orang orangnya.

 

Ketika pertama kali Humanitarian didirikan, konsepnya hanyalah 3 in 1 yang memproduksi film film permintaan yayasan, saat itu hanyalah Saya, Widodo, Paulus, Nisa, Surya dan Om Willy yang ada, kami bekerja bahu membahu membuat Film Documentary dan Film presentasi untuk yayasan, pada mulanya sangatlah kering, karena saat itu kami belum bisa memberikan sesuatu yang berarti kepada DAAI TV

Dan kami sempat berpikir bahwa kami ini hanyalah divisi 3 in 1 yang hanya berafiliasi kepada yayasan, tetapi ternyata pemikiran ini adalah salah

 

Tak sampai 2 tahun , Humanitarian kedatangan orang orang yang memberikan warna didalamnya, ada Aldy, Berna, Achiru, Atmojo, Yanuar, Megi, Maria, Maya, Puguh, Jennifer, Adi Jogja dan Maya. Tak ketinggalan saat ini juga ada Agnes, Sandy, Samsul dan Wiwi, tak ketinggalan teman yang telah turut memberikan warna seperti Ferdi dan Sita,

 

Lalu program demi program berdiri, seperti Jurnal DAAI dan DAAI Inspirasi yang telah memberikan warna bagi televisi kita, kedepan akan ada lagi program program yang meluncur dari Humanitarian, itu pasti

 

saya masih ingat cerita anak di Cikaengan, yang mesti menyeberang sungai untuk sekolah, sebuah kisah semangat yang mengharukan dan ternyata solusi dari permasalahan mereka salah satunya adalah andil dari para kru Humanitarian juga, mereka mengumpulkan dana untuk membelikan perahu karet bagi anak anak tersebut sampai akhirnya berita ini masuk ke Yayasan Buddha Tzu Chi Bandung dan anak anak tersebut bisa menyeberang sungai dengan menggunakan jembatan yang kuat,  saya tidak mengecilkan peran dari Teman teman lain di DAAI TV melainkan ini adalah sebuah penjelasan bahwa ini adalah pencapaian tertinggi dari seorang jurnalis seperti yang dikatakan oleh Edward R. Murrow (1908 – 1965) yang menjadi produser dalam acaranya See it Now bahwa peran media bisa memberikan pengajaran, dan memberikan inspirasi dari permasalahan manusia tetapi hanya manusialah yang mengakhiri dan memberikan solusi kepada permasalahan tersebut.

 

Ketika kita bermimpi dan menjadi seorang pekerja media dan kita diberikan keberuntungan untuk bisa berjalan, mengamati dan menghirup udara kenyamanan, kita juga dituntut untuk tidak pernah melupakan mereka yang masih belum menghirup udara kebebasan, tercekik dalam permasalahan hidup dan berusaha mencari jalan keluar sendiri dari permasalahan mereka itu, kita dituntut secara moral untuk memberikan jalan keluar bagi permasalahan mereka.

 

Master Cheng Yen mengatakan bahwa salah satu tujuan didirikan DAAI TV adalah bisa memberikan solusi bagi masyarakat dan juga yang penting adalah untuk sosok peliput itu sendiri, apakah dia sudah terinspirasi dan terbangkitkan hatinya, karena ada sedikit yang hilang dari nilai sebuah peliputan kalau si peliput itu sendiri tidak terbangkitkan hatinya.

 

Saya sangat berharap dari Humanitarian ini bisa memberikan kontribusi yang lebih lagi kepada masyarakat, banyak diluar sana sekolah sekolah bobrok yang menunggu untuk dibangun, memberikan harapan bagi anak anak sekolahnya, juga ada seorang ibu yang bergelut dengan kesakitan padahal ia harus memberikan makan kepada anak anaknya, atau seorang bapak yang menghadapi ancaman kecacatan karena kecelakaan tetapi ia harus menghidupi keluarga dan anak anak yatim yang disantuninya, masih banyak diluar sana yang harus kita Bantu..

 

Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menjadi mata bagi sesama yang membutuhkan dan alangkah berdosanya kita kalau kita tidak menggunakan mata itu dan selanjutnya menggunakan tangan kita dan orang orang banyak untuk membantu mengangkat orang orang yang masih belum beruntung. Tak berhenti dari sana saja, juga memberikan kail kepada mereka supaya bisa mandiri.

 

Terima kasih buat semua, dan selalu ingat Visi dan Misi kita, ingat bahwa didalam Masyarakat banyak sekali kisah yang bisa selalu diangkat dan cerita cerita dari kasus kasus di Tzu Chi bisa juga diangkat, karena itu adalah inti dari DAAI TV dan ingat hati nurani kita untuk selalu berbelas kasih dan memberi bagi

Sesama, karena hal ini bukanlah untuk mereka saja tetapi untuk kita juga

Kalaupun jalan kita berbeda nantinya, tapi tetaplah ingat bahwa tujuan kita dimanapun adalah untuk kebaikan masyarakat itu sendiri, pertahankan idealisme kalian dimanapun kalian berada.

 

Selamat Idul Fitri 1429 H kepada saudara saudaraku yang merayakan

semoga semangat kebersamaan tetap kita jalin,

 

Gan En

 

 

 





Jalan yang diambil oleh Andy F Noya

1 09 2008

Artikel menarik
dari situs Kick Andy….

LENTERA JIWA

source: http://kickandy. com/?ar_id= MTEzOA==

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya
untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan
karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan
dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi
yang tinggi, dengan power
yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir,
dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat
STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi
Publisistik di Jakarta walau harus menanggung
sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu
tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan
hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari
Metro TV. Andy ibarat ikan
di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan
Rhenald benar. Tapi, jujur saja,
sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil
berjudul Who Move My Cheese.Bagi
Anda yang belum baca, buku ini
bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak
keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu
menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam
kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan
pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju
habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari
keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu
hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu
hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak
perlu mencari keju di tempat
lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan
menunggu terus di tempat itu
sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali.
Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu
dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi
sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak
dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat
sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah,
dan merasa sudah nyaman di suatu posisi,
biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah
mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar
dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat
saya sangat nyaman karena setiap hari keju
itu sudah tersedia di depan
mata. Saya juga ingin mengikuti
lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan
hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak.
Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya
itu sesuai dengan kata hati
saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.

Dalam perjalanan hidup saya, banyak
saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu
perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan
ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera
jiwanya ada di ajang pertunjukkan
musik. Tetapi dia takut untuk
melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia
merasa tidak siap jika kehidupan
ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani
sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak
bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada
yang mengaku waktu itu belum tahu
ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau
ada yang karena solider pada teman. Tetapi
yang paling banyak mengaku
jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka
tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat
orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup
mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil
keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni
dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai
dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan
kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia
dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya.
Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka
sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan
meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris
di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal
di Bali dan bekerja untuk
dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki
adalah apa yang kita cari dalam
kehidupan yang singkat ini? Semua orang
ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana
cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja
di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya,
bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,
ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah
Rolling Stone. Dalam usianya
menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika
malam itu, saat pementasan Earthfest2008,
Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai
pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta
saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang
menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.