sebenernya saya udah rencana nonton Babi buta yang ingin terbang dari tahun 2007 lalu, dari liat trailernya yang disebarin sama Alex, saya udah naksir sama film ini, kebetulan profesi saya juga bergerak di bidang Audio Visual, jadi pengen tahu aja bagaimana sih film yang dibuat sama insan film Indonesia yang Tionghoa.
saya menunggu sudah lama, dari ada kabar, sampe ngga ada kabar, dari yang katanya mau diputar bulan April 2008 sampai mundur ke bulan ini (November 2008)
dan ternyata di putar di Festival Film Pusan..
sampai ketika saya mendapatkan mail dari JTM (lagi) yang menulis bahwa film ini akan diputar pada tanggal 22 November 2008, well well, pucuk dicinta, ulam tiba.. hal yang ditunggu tunggu akhirnya sampai juga..
karena “kuda kencana” saya mogok karena ada permasalahan di mesinnya, terpaksalah saya berangkat menggunakan ojek yang ban belakangnya sudah oleng, agak was was juga begitu ojek itu ngebut, berkali kali saya bilang, “bos.. jalan pelan pelan… bokong ane kekiri kanan neh”
setelah 40 menit perjalanan mendebarkan ini, akhirnya saya sampai juga.
disinilah saya. di TIM , sudah lama saya tidak menginjakan kaki di tempat ini, sejak event Jak Art 2007..
setelah masuk dan menuju ke resepsionis di tempat pemutaran film ini, saya mendapati bahwa semua tiket sudah dibook habis.. bis sehabis habisnya… jadi saya dimasukkan dalam waiting list.. terpaksa saya menunggu sendirian tanpa kenal siapa siapa disana,
mata saya melihat sana sini, ada Dhimas Jay, Pemeran wanita di film Babi Buta ini, Ladya Cheryl dan pemeran pria nya Carlo Genta, lalu banyak lagi seniman seniman film yang berlalu lalang ditempat ini
sampai mata saya melihat satu sosok yang kerap kali muncul di event yang berkaitan dengan aktifitas kaum Tionghoa.. siapa lagi kalau bukan si Alex…
tatapan mata bertemu tatapan mata, seakan berkata..”eh, elu…” saya tersenyum menghampiri sobat lama ini (lex, mungkin lu udah lupa nama gua ya… panggilnya pak melulu.. hehe)
lalu juga ada bro Wahyu Effendi yang kelihatannya agak resah .. tidak tahu kenapa.. mungkin karena lingkungan yang dihadirinya bukan lingkungan yang biasa digelutinya (hanya asumsi saja bro, jangan marah ya)
kita terlibat diskusi yang cukup hangat mengenai dunia film ini dengan kaum muda Tionghoanya. . memang anggapan bro Alex ini cukup tepat, bahwa kebanyakan kaum muda Tionghoa yang hadir berasal dari jakarta Selatan dan sekitarnya.. dan jarang yang berasal dari kawasan kota dan Jakarta Utara… kawasan Tionghoa totok sepertinya., .
saya masih ingat ketika siang tadi saya mengajak teman saya untuk menonton film ini, tau ngga tanggapannya? gua nggak suka film Indonesia.. begitu dingin dan cuek..
kebanyakan mereka lebih suka film dari Barat atau yang sekaliber Red Cliff nya John Woo.. mungkin karena film itu begitu condong ke Mainland dan budayanya secara kental.. namanya juga feel ke mainlandnya begitu kental, jadi yah… mereka agak sedikit tidak interest dengan yang namanya film Indonesia, tapi mungkin film laskar pelangi yang sudah membuat perbedaan yang cukup mendobrak, karena sesama fellow mangga dua saya sudah mulai mendiskusikan film ini, mungkin karena fellow saya ini adalah orang Bangka juga..
diskusi yang sangat berguna dengan Alex ini cukup berlangsung lama, sampai akhirnya saya dikenalkan filmmakernya Babi buta yaitu Edwin..
thanks atas lobi nya Alex dan kebaikan hati si Edwin yang memberikan tiket buat saya sehingga saya tidak perlu untuk duduk di lantai..
.. will remember u for this bro..
tiket saya baris A 12, jadi saya mendapatkan tempat duduk dibelakang , tempat yang nyaman untuk menonton film tentunya dan disamping saya ada si Dhimas Jay..
sewaktu pelelangan benda benda koleksi film, si Mas yang disebelah saya sering digodai oleh teman temannya, mungkin disuruh keluar duit kali ya.. dan berkali kali juga ditolak.. haha, lucu juga, ternyata Joko Anwar, Ria Irawan dan beberapa pekerja seni yang lain juga mempunyai selera humor yang kental
acara dimulai dengan lelang barang barang Film, ada poster Babi Buta, Jaket yang dipakai oleh Tora Sudiro Dkk sewaktu film Quickie Express, lalu ada poster film 9808, gambaran 10 tahun setelah peristiwa Mei 98 (saya menunggu film ini keluar)
akhirnya, saya mendapatkan jaket Quickie Express seharga 350k, yah buat movie memorabilia, mungkin 10 tahun kedepan bisa bernilai tinggi… dan saya bisa bilang ke anak cucu saya, ini looh jas yang dipake sama Tora Sudiro… yang jadi Gigolooo .. gitu..
lalu Film dimulai, saya mungkin tidak akan berlama lama menulis ini karena saya sudah menulis resensinya.
di akhir acara… Tepuk tangan membahana, bukan hanya karena film ini begitu bermakna, namun juga karena dibuat dengan hati dan pengalaman sendiri
salut buat teman teman semua yang berpartisipasi, saya tahu memang sulit membuat sebuah film yang berkualitas, terutama yang berkaitan dengan dana, namun dengan tekad yang kuat semua hal pasti bisa dipenuhi
satu lagi PR buat saya, bagaimana membuat golongan Tionghoa totok bisa melihat film ini dan mengerti apa yang disampaikan tanpa melihat secara kasar adegan adegan yang ditampilkan. susah memang, tapi sampai kapan kita bisa melihat film Tionghoa tanpa ada penggambaran secara kasar kelenteng dan meja sembahyang saja, seperti Film Soe Hok Gie.. dan yang menggambarkan kehidupan orang Tionghoa apa adanya dengan cara komunikasi mereka.
Sedikit mimpi dari neraka ….



Recent Comments