mau jadi “babi”?

27 11 2008

sebenernya saya udah rencana nonton Babi buta yang ingin terbang dari tahun 2007 lalu, dari liat trailernya yang disebarin sama Alex, saya udah naksir sama film ini, kebetulan profesi saya juga bergerak di bidang Audio Visual, jadi pengen tahu aja bagaimana sih film yang dibuat sama insan film Indonesia yang Tionghoa.
saya menunggu sudah lama, dari ada kabar, sampe ngga ada kabar, dari yang katanya mau diputar bulan April 2008 sampai mundur ke bulan ini (November 2008)
dan ternyata di putar di Festival Film Pusan..

sampai ketika saya mendapatkan mail dari JTM (lagi) yang menulis bahwa film ini akan diputar pada tanggal 22 November 2008, well well, pucuk dicinta, ulam tiba.. hal yang ditunggu tunggu akhirnya sampai juga..

karena “kuda kencana” saya mogok karena ada permasalahan di mesinnya, terpaksalah saya berangkat menggunakan ojek yang ban belakangnya sudah oleng, agak was was juga begitu ojek itu ngebut, berkali kali saya bilang, “bos.. jalan pelan pelan… bokong ane kekiri kanan neh”
setelah 40 menit perjalanan mendebarkan ini, akhirnya saya sampai juga.
disinilah saya. di TIM , sudah lama saya tidak menginjakan kaki di tempat ini, sejak event Jak Art 2007..

setelah masuk dan menuju ke resepsionis di tempat pemutaran film ini, saya mendapati bahwa semua tiket sudah dibook habis.. bis sehabis habisnya… jadi saya dimasukkan dalam waiting list.. terpaksa saya menunggu sendirian tanpa kenal siapa siapa disana,
mata saya melihat sana sini, ada Dhimas Jay, Pemeran wanita di film Babi Buta ini, Ladya Cheryl dan pemeran pria nya Carlo Genta, lalu banyak lagi seniman seniman film yang berlalu lalang ditempat ini

sampai mata saya melihat satu sosok yang kerap kali muncul di event yang berkaitan dengan aktifitas kaum Tionghoa.. siapa lagi kalau bukan si Alex…
tatapan mata bertemu tatapan mata, seakan berkata..”eh, elu…” saya tersenyum menghampiri sobat lama ini (lex, mungkin lu udah lupa nama gua ya… panggilnya pak melulu.. hehe)
lalu juga ada bro Wahyu Effendi yang kelihatannya agak resah .. tidak tahu kenapa.. mungkin karena lingkungan yang dihadirinya bukan lingkungan yang biasa digelutinya (hanya asumsi saja bro, jangan marah ya)
kita terlibat diskusi yang cukup hangat mengenai dunia film ini dengan kaum muda Tionghoanya. . memang anggapan bro Alex ini cukup tepat, bahwa kebanyakan kaum muda Tionghoa yang hadir berasal dari jakarta Selatan dan sekitarnya.. dan jarang yang berasal dari kawasan kota dan Jakarta Utara… kawasan Tionghoa totok sepertinya., .
saya masih ingat ketika siang tadi saya mengajak teman saya untuk menonton film ini, tau ngga tanggapannya? gua nggak suka film Indonesia.. begitu dingin dan cuek..
kebanyakan mereka lebih suka film dari Barat atau yang sekaliber Red Cliff nya John Woo.. mungkin karena film itu begitu condong ke Mainland dan budayanya secara kental.. namanya juga feel ke mainlandnya begitu kental, jadi yah… mereka agak sedikit tidak interest dengan yang namanya film Indonesia, tapi mungkin film laskar pelangi yang sudah membuat perbedaan yang cukup mendobrak, karena sesama fellow mangga dua saya sudah mulai mendiskusikan film ini, mungkin karena fellow saya ini adalah orang Bangka juga..

diskusi yang sangat berguna dengan Alex ini cukup berlangsung lama, sampai akhirnya saya dikenalkan filmmakernya Babi buta yaitu Edwin..
thanks atas lobi nya Alex dan kebaikan hati si Edwin yang memberikan tiket buat saya sehingga saya tidak perlu untuk duduk di lantai.. :) .. will remember u for this bro..

tiket saya baris A 12, jadi saya mendapatkan tempat duduk dibelakang , tempat yang nyaman untuk menonton film tentunya dan disamping saya ada si Dhimas Jay..
sewaktu pelelangan benda benda koleksi film, si Mas yang disebelah saya sering digodai oleh teman temannya, mungkin disuruh keluar duit kali ya.. dan berkali kali juga ditolak.. haha, lucu juga, ternyata Joko Anwar, Ria Irawan dan beberapa pekerja seni yang lain juga mempunyai selera humor yang kental

acara dimulai dengan lelang barang barang Film, ada poster Babi Buta, Jaket yang dipakai oleh Tora Sudiro Dkk sewaktu film Quickie Express, lalu ada poster film 9808, gambaran 10 tahun setelah peristiwa Mei 98 (saya menunggu film ini keluar)
akhirnya, saya mendapatkan jaket Quickie Express seharga 350k, yah buat movie memorabilia, mungkin 10 tahun kedepan bisa bernilai tinggi… dan saya bisa bilang ke anak cucu saya, ini looh jas yang dipake sama Tora Sudiro… yang jadi Gigolooo .. gitu..

lalu Film dimulai, saya mungkin tidak akan berlama lama menulis ini karena saya sudah menulis resensinya.

di akhir acara… Tepuk tangan membahana, bukan hanya karena film ini begitu bermakna, namun juga karena dibuat dengan hati dan pengalaman sendiri

salut buat teman teman semua yang berpartisipasi, saya tahu memang sulit membuat sebuah film yang berkualitas, terutama yang berkaitan dengan dana, namun dengan tekad yang kuat semua hal pasti bisa dipenuhi

satu lagi PR buat saya, bagaimana membuat golongan Tionghoa totok bisa melihat film ini dan mengerti apa yang disampaikan tanpa melihat secara kasar adegan adegan yang ditampilkan. susah memang, tapi sampai kapan kita bisa melihat film Tionghoa tanpa ada penggambaran secara kasar kelenteng dan meja sembahyang saja, seperti Film Soe Hok Gie.. dan yang menggambarkan kehidupan orang Tionghoa apa adanya dengan cara komunikasi mereka.

Sedikit mimpi dari neraka ….

foto063

foto065

foto064





Resensi Film Babi Buta yang Ingin Terbang

27 11 2008

Babi Buta yang Ingin terbang adalah Film yang menceritakan tentang gambaran komunitas Tionghoa di Indonesia yang di wakili oleh beberapa tokoh didalamnya,
dalam film yang berdurasi 77 menit ini menyampaikan mosaik dan gambaran dari 8 karakter dan cerita bagaimana menjadi seorang “Keturunan Tionghoa di Indonesia”
film ini diSutradarai oleh Edwin , dan Pemainnya adalah :
Ladya Cheryl, Pong Harjatmo, Andhara Erly, Joko Anwar, dan Carlo Genta
Film ini masuk Screening di beberapa festival Internasional, seperti Festival Film internasional ke 13 di Pusan, bulan Oktober kemarin
untuk detilnya bisa dilihat disini : http://babibutafilm .com/blog/

Linda dan Cahyono adalah teman dari SD, Linda adalah seorang Tionghoa dan Cahyono adalah seorang Menado, raut wajah Cahyono yang mirip dengan Tionghoa membuat dia sering diolok olok oleh teman temannya. akhirnya orangtua Cahyono membuatnya pindah kesekolah lain karena ia bergaul dengan Linda
Halim adalah seorang dokter gigi yang ingin meninggalkan Ketionghoaanya dengan membuat matanya menjadi lebar, ia selalu memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan matanya, sedangkah Verawati adalah Atlet Bulutangkis yang membela Indonesia, namun akhirnya dilematis karena ia dipertanyakan ke Indonesiaanya.
Salma adalah Perawat yang menemani Halim, yang berambisi menjadi seorang penyanyi, mereka berdua selingkuh dan membuat Halim masuk Islam dan kawin lagi dengan Salma
Romi adalah seorang TNI yang mempunyai “sesuatu” dengan Yahya, seorang pengusaha, mereka membantu Salma mencapai Mimpinya dengan imbalan tertentu..

Film dibuka dengan Pertandingan Bulutangkis antara Indonesia melawan China, Pertandingan begitu seru sehingga antiklimaksnya di ucapkan oleh seorang bocah yang berkata… “yang Indonesianya yang mana ma?” sebuah pertanyaan yang amat kritis, karena kebanyakan orang melihat Verawati itu tak berbeda dengan Atlit dari China Daratan.. sebuah pertanyaan yang mempertanyakan nasionalisme orang Tionghoa Indonesia.

Setiap Frame demi Frame ditata dengan penuh arti, mungkin buat orang biasa, mereka hanya melihat kaidah Frame dari keindahan komposisi dan efek belaka, namun butuh konsentrasi ekstra untuk mencerna apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh si pembuat Film bahwa setiap Frame mempunyai arti tersendiri.

seperti Halim, yang diFilm hanya bernyanyi “I just called to say I love u” sepanjang Film hanya lagu itu yang dinyanyikan oleh pemainnya, tapi kalau kita lihat liriknya menyembunyikan arti yang mendalam :

I JUST CALLED TO SAY I LOVE YOU (Stevie Wonder)

No New Years Day to celebrate,

No chocolate covered candy hearts to give away,

No first of spring, no song to sing,

In fact, here’s just another ordinary day.

Chorus:

I just called to say I love you

I just called to say how much I care

I just called to say I love you,

And I mean it from the bottom of my heart.

No April rain, no flowers’ bloom,

No wedding Saturday within the month of June.

But what it is is something true

Made up of these three words that I must say to you.

No summer’s high, no warm July,

No harvest moon to light one tender August night,

No autumn breeze, no falling leaves,

Not even time for birds to fly to southern skies.

No Libra sun, no Hallowe’en,

No giving thanks for all the Christmas joy you bring,

But what it is, tho’ old, so new,

To fill your heart like no three words could ever do.

Memang tidak ada yang istimewa dari lagu ini, bahkan menonjolkan kepesimisan, namun ditengah pesimisme, ada ungkapan Cinta dari seorang Tionghoa kepada Indonesia, walau apapun yang terjadi, tetap saja didalam hati ini mempunyai semangat dan Cinta yang sangat besar kepada negara ini.
terutama ada lirik ini dibuat karaokenya yang berlatar belakang kerusuhan Mei 1998, seakan mengatakan bahwa.. hei kami lahir dan hidup disini, bernafas dan bekerja membanting tulang demi negara ini, mengapa kami diperlakukan demikian… ah tak apa, kami tetap cinta Indonesia..

ketika Halim yang menyanyikan lagu ini kepada Salma, yang buat saya merepresetatifkan Indonesia, Halim menjadi Muslim bukan hanya untuk menikahi Salma, namun juga menjadi muslim disini supaya bisa menjadi Indonesia dengan meninggalkan Identitas Diri, Nampaknya ini adalah Opsi satu satunya untuk Halim, dan ketika Keindonesiaan seorang Tionghoa dipertanyakan, apakah yang dilakukan? apakah mempertahankan identitas atau meleburkan diri kedalam Indonesia? Disini Halim memilih untuk menjadi Muslim untuk menjadi Indonesia..

Frame demi Frame benar benar bermakna, dari Halim yang berbicara kepada Verawati tentang keinginannya untuk masuk Islam dan Kawin lagi, namun Verawati hanya terdiam dalam kesendiriannya, karakter Verawati sepertinya dibuat pasrah dan terdiam selalu dalam kesendiriannya, tak banyak adegan Verawati disini kecuali ketika dia membuat pangsit yang menurut saya representatif seorang Tionghoa yang hanya menjalani kehidupan sehari hari baik dengan berdagang maupun berjuang demi negara secara diam diam..

Si Filmmaker juga menganalogikan secara satir karakter Romi dan Yahya, Romi yang dimainkan oleh Joko Anwar begitu hidup, sehingga membuat keintiman antara Tentara dan Pengusaha yang diibaratkan sebagai sepasang Gay yang begitu mesra, sehingga ada satu kalimat yang diucapkan oleh Romi kepada yahya yang membuat saya agak “mual” , “kenapa kamu takut masuk kedalam diriku? kenapa kamu bilang kamu takut harga diriku hilang?” ” i just want to feel you inside me”
mungkin kalau orang awam yang mendengar dialog ini seakan mendengar dialog dua orang Homo, tetapi buat saya ini adalah kalimat yang mewakili “kemesraan” pengusaha dan militer dahulu, ketika dwifungsi ABRI belum dihapuskan, siapapun tahu kolusi yang diwakili oleh mereka..

dan kolusi itu semakin menjadi ketika Halim yang meminta Romi bisa menggunakan kekuasaanya agar Salma bisa mengikuti kontes Nyanyi, tetapi Romi tidak serta merta melakukan ini secara gratis, namun ada imbalannya,
yaitu Romi dan Yahya bisa “memerkosa” Harga diri Halim yang di adegannya dilakukan secara Vulgar..

Sampai pada satu ketika, peristiwa Mei 1998 terjadi, dan mereka berkumpul, namun hanya Halim dan keluarganya saja yang mengepak koper mencari keselamatan diri, kenapa? karena peristiwa ini berpengaruh memang pada semua pihak, tetapi hanya golongan menengah dan bawah Tionghoa saja yang paling parah terkena dampaknya.

Semua Plot dibuat sedemikian rupa menarik sehingga menyerupai kaleidoskop kehidupan Tionghoa di Indonesia sebelum dan sesudah peristiwa Mei 1998, dan seperti apa permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda Tionghoa yang di perankan oleh Linda
Linda disini mempunyai kegemaran memakan petasan, petasan bagi budaya Tionghoa digunakan untuk mengusir Setan, Setan didalam film ini bisa saya gambarkan sebagai Identitas diri Kaum muda Tionghoa yang malu mengakui bahwa dia adalah Tionghoa. sampai Linda kecil yang terpaksa harus memanggil Kung Kung nya dengan sebutan Opa, sebuah cara untuk meninggalkan Identitas dan Budaya Tionghoa dalam kehidupan mereka,

Cahyono merupakan seorang yang mirip dengan Tionghoa, karakternya yang Manado menjadikannya sering diejek dan dipukuli oleh anak anak Pribumi, sehingga Cahyono menolak untuk dikatakan sebagai Tionghoa, dia malah menyebut dirinya seorang Jepang,
Persahabatan mereka dijalin sehari hari dan mereka merupakan generasi muda Tionghoa yang menjadi saksi sejarah kelam bangsa ini. banyak identitas diri yang terpaksa atau dipaksa untuk di buang dari dalam diri mereka

Adegan ditutup dengan Seekor babi yang lepas dari ikatannya di tengah padang rumput luas, sebelumnya adegan babi ini sering dimunculkan diawal, tengah dan akhir Film ini. dimana babi ini diikat dan memberontak untuk lepas ke alam luas, pada akhirnya babi ini lepas juga dan berlari bebas, buat saya ini seperti identitas diri seorang Tionghoa yang bebas sekarang, bisa menemukan kebebasan menjadi diri sendiri.

secara teknis, mungkin masih ada beberapa kesalahan, seperti adegan waktu Cahyono yang diperankan oleh Carlo Genta menunggu Linda di Jembatan, efek lighting yang menggunakan reflektornya begitu kelihatan sehingga pantulan cahayanya tidak merata dan untuk tata suara bisa dikatakan cukup baik, mengingat mereka membuat film ini dengan bujet yang sangat terbatas, tak heran di awal pemutaran film ini Joko Anwar yang mengakui bahwa Film ini dibuat dengan hati dan tekad yang kuat, sehingga membuat malu dirinya yang manja apabila ada banyak hal secara teknis yang tidak bisa dipenuhi.
hanya ada satu lagi di Film ini yang dinyanyikan, tapi menurut saya itu sudah cukup mewakili isi dari Film ini. saya tidak tahu apakah lingkungan China Town di Semarang atau Surabaya yang bisa dijadikan background untuk film ini sudah cukup, tetapi dahulu saya pernah melihat adegan di kawasan Glodok dan toko tiga.. mungkin ada kesulitan dalam birokrasinya. . who knows?

ini adalah sebuah Film yang layak untuk ditonton bagi pencinta seni, mungkin bagi yang menyukai Film Film Hollywood dan kegemerlapannya mungkin tak akan bisa mencerna film “bergizi” ini dengan sehat, malahan mungkin bisa mengernyitkan dahi ketika melihat adegan Threesome Romi,Yahya dan Halim. sebuah adegan yang hanya bisa dimengerti oleh seorang yang mempunyai daya imajinasi tinggi dan mempunyai pengalaman kaleidoskopik yang terjadi pada 3 Generasi Tionghoa di masa modern.

jadi, Jangan nonton kalau hanya mengharapkan kegemerlapan dan efek keindahan belaka, tetapi nontonlah apabila anda ingin jadi seorang Tionghoa yang Indonesia.. nontonlah kalau mau melihat peran aktor dan aktrisnya yang total dan mengetahui Sejarah 3 jaman kelam yang kesalahannya hanya bisa kita rubah saat ini demi generasi kedepan.

Resensi ini ditulis dengan pendapat saya pribadi, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan.
Terima kasih

Sedikit pencerahan dari neraka Chimera
visit my blog : www.versalino. wordpress. com