Resensi Film Babi Buta yang Ingin Terbang

27 11 2008

Babi Buta yang Ingin terbang adalah Film yang menceritakan tentang gambaran komunitas Tionghoa di Indonesia yang di wakili oleh beberapa tokoh didalamnya,
dalam film yang berdurasi 77 menit ini menyampaikan mosaik dan gambaran dari 8 karakter dan cerita bagaimana menjadi seorang “Keturunan Tionghoa di Indonesia”
film ini diSutradarai oleh Edwin , dan Pemainnya adalah :
Ladya Cheryl, Pong Harjatmo, Andhara Erly, Joko Anwar, dan Carlo Genta
Film ini masuk Screening di beberapa festival Internasional, seperti Festival Film internasional ke 13 di Pusan, bulan Oktober kemarin
untuk detilnya bisa dilihat disini : http://babibutafilm .com/blog/

Linda dan Cahyono adalah teman dari SD, Linda adalah seorang Tionghoa dan Cahyono adalah seorang Menado, raut wajah Cahyono yang mirip dengan Tionghoa membuat dia sering diolok olok oleh teman temannya. akhirnya orangtua Cahyono membuatnya pindah kesekolah lain karena ia bergaul dengan Linda
Halim adalah seorang dokter gigi yang ingin meninggalkan Ketionghoaanya dengan membuat matanya menjadi lebar, ia selalu memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan matanya, sedangkah Verawati adalah Atlet Bulutangkis yang membela Indonesia, namun akhirnya dilematis karena ia dipertanyakan ke Indonesiaanya.
Salma adalah Perawat yang menemani Halim, yang berambisi menjadi seorang penyanyi, mereka berdua selingkuh dan membuat Halim masuk Islam dan kawin lagi dengan Salma
Romi adalah seorang TNI yang mempunyai “sesuatu” dengan Yahya, seorang pengusaha, mereka membantu Salma mencapai Mimpinya dengan imbalan tertentu..

Film dibuka dengan Pertandingan Bulutangkis antara Indonesia melawan China, Pertandingan begitu seru sehingga antiklimaksnya di ucapkan oleh seorang bocah yang berkata… “yang Indonesianya yang mana ma?” sebuah pertanyaan yang amat kritis, karena kebanyakan orang melihat Verawati itu tak berbeda dengan Atlit dari China Daratan.. sebuah pertanyaan yang mempertanyakan nasionalisme orang Tionghoa Indonesia.

Setiap Frame demi Frame ditata dengan penuh arti, mungkin buat orang biasa, mereka hanya melihat kaidah Frame dari keindahan komposisi dan efek belaka, namun butuh konsentrasi ekstra untuk mencerna apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh si pembuat Film bahwa setiap Frame mempunyai arti tersendiri.

seperti Halim, yang diFilm hanya bernyanyi “I just called to say I love u” sepanjang Film hanya lagu itu yang dinyanyikan oleh pemainnya, tapi kalau kita lihat liriknya menyembunyikan arti yang mendalam :

I JUST CALLED TO SAY I LOVE YOU (Stevie Wonder)

No New Years Day to celebrate,

No chocolate covered candy hearts to give away,

No first of spring, no song to sing,

In fact, here’s just another ordinary day.

Chorus:

I just called to say I love you

I just called to say how much I care

I just called to say I love you,

And I mean it from the bottom of my heart.

No April rain, no flowers’ bloom,

No wedding Saturday within the month of June.

But what it is is something true

Made up of these three words that I must say to you.

No summer’s high, no warm July,

No harvest moon to light one tender August night,

No autumn breeze, no falling leaves,

Not even time for birds to fly to southern skies.

No Libra sun, no Hallowe’en,

No giving thanks for all the Christmas joy you bring,

But what it is, tho’ old, so new,

To fill your heart like no three words could ever do.

Memang tidak ada yang istimewa dari lagu ini, bahkan menonjolkan kepesimisan, namun ditengah pesimisme, ada ungkapan Cinta dari seorang Tionghoa kepada Indonesia, walau apapun yang terjadi, tetap saja didalam hati ini mempunyai semangat dan Cinta yang sangat besar kepada negara ini.
terutama ada lirik ini dibuat karaokenya yang berlatar belakang kerusuhan Mei 1998, seakan mengatakan bahwa.. hei kami lahir dan hidup disini, bernafas dan bekerja membanting tulang demi negara ini, mengapa kami diperlakukan demikian… ah tak apa, kami tetap cinta Indonesia..

ketika Halim yang menyanyikan lagu ini kepada Salma, yang buat saya merepresetatifkan Indonesia, Halim menjadi Muslim bukan hanya untuk menikahi Salma, namun juga menjadi muslim disini supaya bisa menjadi Indonesia dengan meninggalkan Identitas Diri, Nampaknya ini adalah Opsi satu satunya untuk Halim, dan ketika Keindonesiaan seorang Tionghoa dipertanyakan, apakah yang dilakukan? apakah mempertahankan identitas atau meleburkan diri kedalam Indonesia? Disini Halim memilih untuk menjadi Muslim untuk menjadi Indonesia..

Frame demi Frame benar benar bermakna, dari Halim yang berbicara kepada Verawati tentang keinginannya untuk masuk Islam dan Kawin lagi, namun Verawati hanya terdiam dalam kesendiriannya, karakter Verawati sepertinya dibuat pasrah dan terdiam selalu dalam kesendiriannya, tak banyak adegan Verawati disini kecuali ketika dia membuat pangsit yang menurut saya representatif seorang Tionghoa yang hanya menjalani kehidupan sehari hari baik dengan berdagang maupun berjuang demi negara secara diam diam..

Si Filmmaker juga menganalogikan secara satir karakter Romi dan Yahya, Romi yang dimainkan oleh Joko Anwar begitu hidup, sehingga membuat keintiman antara Tentara dan Pengusaha yang diibaratkan sebagai sepasang Gay yang begitu mesra, sehingga ada satu kalimat yang diucapkan oleh Romi kepada yahya yang membuat saya agak “mual” , “kenapa kamu takut masuk kedalam diriku? kenapa kamu bilang kamu takut harga diriku hilang?” ” i just want to feel you inside me”
mungkin kalau orang awam yang mendengar dialog ini seakan mendengar dialog dua orang Homo, tetapi buat saya ini adalah kalimat yang mewakili “kemesraan” pengusaha dan militer dahulu, ketika dwifungsi ABRI belum dihapuskan, siapapun tahu kolusi yang diwakili oleh mereka..

dan kolusi itu semakin menjadi ketika Halim yang meminta Romi bisa menggunakan kekuasaanya agar Salma bisa mengikuti kontes Nyanyi, tetapi Romi tidak serta merta melakukan ini secara gratis, namun ada imbalannya,
yaitu Romi dan Yahya bisa “memerkosa” Harga diri Halim yang di adegannya dilakukan secara Vulgar..

Sampai pada satu ketika, peristiwa Mei 1998 terjadi, dan mereka berkumpul, namun hanya Halim dan keluarganya saja yang mengepak koper mencari keselamatan diri, kenapa? karena peristiwa ini berpengaruh memang pada semua pihak, tetapi hanya golongan menengah dan bawah Tionghoa saja yang paling parah terkena dampaknya.

Semua Plot dibuat sedemikian rupa menarik sehingga menyerupai kaleidoskop kehidupan Tionghoa di Indonesia sebelum dan sesudah peristiwa Mei 1998, dan seperti apa permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda Tionghoa yang di perankan oleh Linda
Linda disini mempunyai kegemaran memakan petasan, petasan bagi budaya Tionghoa digunakan untuk mengusir Setan, Setan didalam film ini bisa saya gambarkan sebagai Identitas diri Kaum muda Tionghoa yang malu mengakui bahwa dia adalah Tionghoa. sampai Linda kecil yang terpaksa harus memanggil Kung Kung nya dengan sebutan Opa, sebuah cara untuk meninggalkan Identitas dan Budaya Tionghoa dalam kehidupan mereka,

Cahyono merupakan seorang yang mirip dengan Tionghoa, karakternya yang Manado menjadikannya sering diejek dan dipukuli oleh anak anak Pribumi, sehingga Cahyono menolak untuk dikatakan sebagai Tionghoa, dia malah menyebut dirinya seorang Jepang,
Persahabatan mereka dijalin sehari hari dan mereka merupakan generasi muda Tionghoa yang menjadi saksi sejarah kelam bangsa ini. banyak identitas diri yang terpaksa atau dipaksa untuk di buang dari dalam diri mereka

Adegan ditutup dengan Seekor babi yang lepas dari ikatannya di tengah padang rumput luas, sebelumnya adegan babi ini sering dimunculkan diawal, tengah dan akhir Film ini. dimana babi ini diikat dan memberontak untuk lepas ke alam luas, pada akhirnya babi ini lepas juga dan berlari bebas, buat saya ini seperti identitas diri seorang Tionghoa yang bebas sekarang, bisa menemukan kebebasan menjadi diri sendiri.

secara teknis, mungkin masih ada beberapa kesalahan, seperti adegan waktu Cahyono yang diperankan oleh Carlo Genta menunggu Linda di Jembatan, efek lighting yang menggunakan reflektornya begitu kelihatan sehingga pantulan cahayanya tidak merata dan untuk tata suara bisa dikatakan cukup baik, mengingat mereka membuat film ini dengan bujet yang sangat terbatas, tak heran di awal pemutaran film ini Joko Anwar yang mengakui bahwa Film ini dibuat dengan hati dan tekad yang kuat, sehingga membuat malu dirinya yang manja apabila ada banyak hal secara teknis yang tidak bisa dipenuhi.
hanya ada satu lagi di Film ini yang dinyanyikan, tapi menurut saya itu sudah cukup mewakili isi dari Film ini. saya tidak tahu apakah lingkungan China Town di Semarang atau Surabaya yang bisa dijadikan background untuk film ini sudah cukup, tetapi dahulu saya pernah melihat adegan di kawasan Glodok dan toko tiga.. mungkin ada kesulitan dalam birokrasinya. . who knows?

ini adalah sebuah Film yang layak untuk ditonton bagi pencinta seni, mungkin bagi yang menyukai Film Film Hollywood dan kegemerlapannya mungkin tak akan bisa mencerna film “bergizi” ini dengan sehat, malahan mungkin bisa mengernyitkan dahi ketika melihat adegan Threesome Romi,Yahya dan Halim. sebuah adegan yang hanya bisa dimengerti oleh seorang yang mempunyai daya imajinasi tinggi dan mempunyai pengalaman kaleidoskopik yang terjadi pada 3 Generasi Tionghoa di masa modern.

jadi, Jangan nonton kalau hanya mengharapkan kegemerlapan dan efek keindahan belaka, tetapi nontonlah apabila anda ingin jadi seorang Tionghoa yang Indonesia.. nontonlah kalau mau melihat peran aktor dan aktrisnya yang total dan mengetahui Sejarah 3 jaman kelam yang kesalahannya hanya bisa kita rubah saat ini demi generasi kedepan.

Resensi ini ditulis dengan pendapat saya pribadi, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan.
Terima kasih

Sedikit pencerahan dari neraka Chimera
visit my blog : www.versalino. wordpress. com


Actions

Information

6 responses

4 12 2008
wongmuntilan

Setelah baca resensinya, jadi pengen nonton filmnya. Kira2 kapan keluar DVD-nya ya? Mustinya film-film kaya gitu tayang juga di bioskop2 21 ya, biar banyak yang bisa nonton ^^

9 12 2008
abun

resensi-nya bener2 mendetail… dan si penulis mencoba menjelaskan dari sudut pandang yang kadang kala tidak di lihat oleh penonton yg kadang2 hanya mementingkan “action”-nya aja…
jujur g jadi tertarik kepengen nonton dan semoga dengan film ini bisa membawa sedikit angin segar buat kalangan tionghua indonesia dan juga semoga resensi dan film ini juga bisa membuat masyarakat indonesia pada umumnya agar bisa mengerti bagaimana sulitnya kami orang2 kecil yg harus berjuang demi sepiring nasi… jangan cuma bisa liat orang2 kaya om liem, tapi coba sekali2 ke kampung2 di pinggiran jakarta seperti daerah sekitar dadap sana atau ke daerah pontianak sana… maka mata kalian akan terbuka melihat bagaimana susahnya orang2 keturunan tionghua yg harus membanting tulang hanya untuk sesuap nasi….

12 12 2008
jennlie

Bloooppperrrssss……..
ngapain coba cerita di blog ampe detil…
mau juga lo beliin dvdnya, lalu kirim ke gw, apalagi gw dah mo balik jadi yaaaa, masih sempet serahin tuh film ke gw…ocre?
ohya ama laskar pelangi ya….beliin :D
minggu depan, gw tagih….

13 12 2008
versalino

see it, feel it, believe in it

18 10 2009
Cilla

saya baru tonton filmnya, tidak terlalu kesampaian mengartikan semuanya pada saat menonton. hanya menangkap beberapa dan menikmati keindahan frame2nya saja.
jadi saya sangat berterimakasih dg adanya resensi ini. nice!

21 10 2009
versalino

thanks yah Cilla…:D met kenal

Leave a comment