Tak terasa langkah kaki saya menyusuri Cordillera st, Quezon city, ditengah terik matahari di Manila ini, kaki saya seakan melangkah tanpa beban dihati,
Jalan jalan kali ini rupanya membuat saya melihat secara langsung keadaan di ibukota Fillipina ini, entah takdir apa yang membawa saya sampai ke sini, hati seakan mengetuk dan mendorong saya mencari tahu tentang apa saja yang bisa saya pelajari disini.
Disalah satu distrik Metro Manila, saya seakan melihat Manila dari dekat, keadaan warganya, kekumuhan kota dan terlihat kenyataan yang selama ini disamarkan oleh pembangunan besar besaran pemerintahan Gloria Macapagal Arroyo.
Makati dan Quezon City memang seperti langit dan bumi, keduanya merupakan distrik di Metro Manila, Makati merupakan jantung dari bisnis kota Manila dengan adanya gedung gedung besar menjulang seakan sombong menantang langit serta kebersihan dan keteraturan tempatnya, seperti kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sedangkan Quezon City bisa dibilang kebalikannya, kekumuhan daerahnya seakan membuat kita bertanya Tanya, dimana sebenarnya pembangunan di kota ini, memang di daerah downtown Quezon City ini disamping kiri kanan saya banyak sampah bertebaran, memang tidak semuanya sih, tetapi raut muka orang orang disini berbeda dengan yang saya biasa temui di Makati, disini lebih keras dan seakan menunjukkan masalah pada kehidupan mereka, beberapa orang berteriak teriak dalam bahasa Tagalog dijalan, agak keras memang suaranya, mungkin sedang pening dengan permasalahan yang terajadi di kehidupan mereka, tangis anak kecil, angin dan debu yang panas membuat suasana hati juga menjadi panas.
Matahari di bulan Oktober memang agak menyengat, panas dikepala juga kadang panas dihati,namun dibalik itu, ada suasana meriah yang rata rata ditemui disini
yah, 3 bulan menjelang Desember yang dimulai dari bulan Oktober ini, memang suasana natal disini sangat kental, disetiap mall (Manila memang kota yang penuh dengan Mall , terhitung ada sekitar puluhan lebih hanya di kota Metro Manila ini) di setiap tempat tinggal, pernak pernik natal menghiasi, berbeda dengan Indonesia yang kemeriahannya hanya ada di bulan Desember saja, disini seakan terpengaruh dengan budaya Amerika yang mungkin agak kebablasan, terlalu Amerika sepertinya.
saya berjalan sendirian menuju ke arah jalan besar, dari kejauhan tempat logo yang paling dikenal diseluruh dunia, McDonalds, perut saya yang lapar membuat saya memilih untuk makan siang direstoran ini, selesai mengantri dan memesan beef burger saya naik dan duduk di lantai atas dan (sialnya) saya kebagian tempat duduk dekat toilet karena benar benar ramai orang yang makan siang disana, sambil mengunyah saya melihat banyak murid murid akademi disana,
Selesai makan saya mencoba mengambil kertas yang tadi diberikan oleh teman dari yayasan Tzu Chi Filipina, tertera alamat yang saya cari, Bahay Tsinoy (secara harfiah berarti rumah Chinese-Filipino) yang beralamat di komplek Intramuros bekas benteng yang dulu menjadi perlawanan penjajahan Spanyol di Manila, tepatnya di Kaisa-Angelo King Heritage Center, Anda corner Cabildo Streets Intramuros, 1002 Manila, Philippines
langsung saya memanggil Taxi untuk meluncur kelokasi, oh ya, tips untuk teman teman yang akan berangkat ke Manila, bila berurusan dengan tukang taxi disana harus sedikit tegas, dan tanyakan bisakah sampai dalam waktu yang cepat?, rata rata supir Taxi disana tidak sungkan untuk meminta tambahan biaya, anda bisa tolak dan bisa mencari yang lain, mesti sedikit tegas.
Dari informasi yang saya dapatkan, rata rata ongkos taxi paling mahal bisa mencapai 150 Peso dari Quezon City menuju ke Intramuros, untungnya saya bertemu dengan seorang supir yang baik, namanya Alfundo Garlindes, di usianya yang ke 68 tahun itu ramah dan sering bertanya macam macam tentang Indonesia, awalnya dia menyangka saya adalah orang Korea, karena banyaknya investasi Korea dan Jepang di Phillipina tapi dengan lugas saya menolak anggapannya itu karena orang Korea dianggap kaya kaya,
daripada saya diketok untuk biaya argo taxi mending saya tolak saja anggapan itu, lalu dengan iseng saya memperkenalkan diri sebagai seorang wartawan (yah, kita bisa melakukan apa saja dinegara asing, selama positif.. kenapa tidak? He2)
Dengan pulpen dan buku layaknya wartawan bodrek, saya bertanya tentang bagaimana dia menjalani hidup, ternyata dia adalah pensiunan yang mendapat uang pensiun dari pemerintah sekitar 3000 Peso, jumlah yang kurang menurut saya, ditengah kondisi krisis seperti ini, ditengah tengah ancaman naiknya barang barang seperti bahan pokok yang diimpor dari luar negeri dengan terpaksa kakek 3 cucu ini bekerja sebagai supir taxi,
Mobil Toyota tahun 90 an yang rupanya masih bisa berjalan walau agak pelan, dalam sehari penghasilannya bisa mencapai sekitar 2500 an lebih peso, (setara hampir 700 ribu rupiah) belum dipotong biaya sewa selama sehari sebanyak 1500 Peso, ini pun tergantung dengan perusahaan Taxi yang dikendarai dan juga tergantung penumpang, kalau ramai pernah ia mendapat 3700 Peso, tapi tetap saja, karena ia harus menanggung biaya listrik, air dan biaya hidup lainnya.
Ditiap tempat di Manila, selalu ada banyak angkutan Taxi yang lewat, dan disetiap bagasi disana selalu ditulis, How’s I’m Driving? Lalu ada No telp disebelahnya.
Rupanya banyak sekali supir taxi yang ugal ugalan disana sehingga perlu bagi penumpangnya untuk mengadu kepada perusahaan taxi yang bersangkutan, untunglah bapak tua ini tidak ugal ugalan dalam menyetir taxi, dan dia juga salah satu supir taxi yang taat berlalu lintas,
Bahay Tsinoy.

Bahay Tsinoy
setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dan membayar 140 Peso plus tips 30 Peso untuk supir Taxi itu, akhirnya saya sampai di Gedung Angelo King Heritage Center. sambil berjalan masuk dengan meminum Gatorade kegemaran saya, seorang satpam bertanya kepada saya dengan bahasa Tagalog, yang tentu saja saya sambut dengan tatapan bingung, akhirnya satpam ini bertanya dalam bahasa Inggris kepada saya tentang maksud saya berkunjung kesana, “i’m a Student” jawab saya sekenanya, hanya untuk mendapatkan harga tiket masuk 60 peso yang kalau dirupiahkan sekitar 12 ribuan, dibandingkan dengan 100 peso untuk harga tiket masuk pengunjung biasa,
“I,m from Indonesia, and i,m interested in Chinese life in Phillipines” terang saya kepada satpam yang disini disebut Security guard itu, yang langsung menuntun saya kedalam untuk bertemu dengan pengurus didalam.
suasana sepi menyelimuti didalam museum ini, yang saya lihat , ada tangga di depan pintu masuk museum yang langsung menuntun ke lantai atas,
“what can i do for u, sir?” (sebutan sir atau madam seringkali dipergunakan untuk formalitas)
“oh yes, can i find some information from this museum, because i’m a student from Indonesia and i am doing some research about Chinese in the Phillipines”
“ok, will u please fill this form?” katanya sambil menunjuk buku tamu di meja kecil didepan pintu masuk museum
Prosedurnya tidak berbelit belit, hanya bayar 60 Peso dan Thats It!!!! … disinilah saya. masuk di lantai pertama museum ini
Pertama kali masuk yang saya rasakan adalah suasananya yang agak agak angker, maklum sepertinya tidak banyak orang yang datang kemari.
ruang pertama hanya beberapa diorama pada masa awal awal sejarah masuknya suku Tionghoa ke Filipina dari Suku yang berasal dari Tiongkok Selatan yang berlayar sampai ke Filipina, beberapa bukti seperti sarkofagus atau kebiasaan mereka yang bertani dengan menggunakan sistim pertanian terasering. hubungan Tiongkok dan Filipina sudah jauh ada sebelum kedatangan Maggelan dari Spanyol dibuktikan pada adanya perdagangan Tiongkok dengan Filipina di Filipina bagian Utara sampai Selatan, sistim perdagangan waktu itu adalah barter, bukti hubungan antara Tiongkok dan Filipina ini semakin dieratkan dengan kunjungan Sultan dari Sulu, Paduka Batara ke Beijing pada tahun 1417 untuk memberikan upeti kepada Kaisar Yung Lo dari dinasti Ching.
sambil saya membaca beberapa keterangan diorama, saya melihat tanda dilarang memotret… yah… tapi tetap.. namanya orang Indonesia.. saya agak bandel dalam soal ini, hehehe
selanjutnya saya tertarik dengan diorama peperangan di sudut belakang ruangan pertama, ada beberapa adegan dimana penjajah spanyol sedang berperang dengan pejuang kemerdekaan Filipina
seperti Indonesia, Penjajah Spanyol mempergunakan orang orang Tionghoa sebagai tulang punggung perekonomian mereka,lama kelamaan mereka semakin maju dan dianggap oleh penjajah Spanyol sebagai ancaman, jaman itu golongan pedagang atau golongan menengah disebut juga dengan Mestizo, kebanyakan dari kaum Tionghoa pendatang mengandalkan toko kelontong yang disebut juga dengan Sari Sari,
kebanyakan dari mereka tinggal di wilayah Binondo yang sekarang dikenal dengan wilayah China Town di Manila, bahkan sebelum kedatangan penjajah Spanyol pada tahun 1571 Binondo merupakan daerah perdagangan antara orang Tionghoa totok dan penduduk setempat, baru pada tahun 1594 daerah ini dibuat oleh Gubernur berdarah Spanyol Luis Perez Dasmarinas khusus untuk orang Tionghoa yang sudah menjadi Katolik, akhirnya daerah ini menjadi kawasan relokasi perdagangan bagi kaum Tionghoa Mestizo atau golongan menengah,
daerah ini mengalami kemajuan dalam segi ekonomi dan keagamaan terutama dari agama Katholik ordo Dominican, dan menjadi daerah status quo ketika terjadi pemberontakan orang Tionghoa pada tahun 1603 yang mengakibatkan pembantaian sekitar 20 ribu orang Tionghoa totok yang menolak masuk Katholik oleh gubernur Luis Perez Dasmarinas. Sama seperti kawasan Petak sembilan dan Glodok di Jayakarta pada waktu itu, pemerintah Spanyol merasa ada kepentingan untuk membiarkan orang orang Tionghoa menjalankan perdagangan yang dirasa sangat penting bagi perekonomiannya, rupanya sejak dahulu dibelahan dunia manapun, orang Tionghoa dikenal dengan bakat Dagangnya.
Dahulu Binondo yang terletak di seberang sungai Pasig merupakan pusat dari Perdagangan dan keuangan dan menjadi tempat kelahiran dari orang suci pertama dari Filipina yang bergelar Santo yakni Santo Lorenzo Luis yang juga merupakan Mestizo de sangley yakni orang berdarah Tionghoa Katholik yang berasal dari golongan pedagang.
Setelah perang dunia ke 2, pusat perdagangan dan bisnis dipindahkan dari Binondo ke Makati yang dimonopoli oleh tuan tanah yang bermarga Ayala, dan sampai sekarang banyak gedung gedung tua dan gereja yang menjadi saksi sejarah perkembangan Binondo.
pergerakan Tionghoa di Filipina berjalan dan mempengaruhi budaya Filipina ddengan berbagai aspek dan perjuangan melalui kesustraan yang dimotori oleh pahlawan nasional Filipina Jose Rizal dengan bukunya yang berjudul Noli Me Tangere, buku yang ditulis dalam bahasa Spanyol ini menceritakan tentang kebobrokan pemerintahan penjajah Spanyol. di refleksikan sebagai orang yang penuh kemunafikan yang bernama Damaso, seorang pastor Katholik yang ternyata memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingannya sendiri (artikel mendalam tentang novel ini akan saya tulis berikutnya)
Jose Rizal sempat dipanggil oleh Gubernur Jenderal Terrero ke Istana Malacanang karena Novelnya yang subversif ini akhirnya di fitnah oleh pemerintahan pendudukan Spanyol di Filipina untuk kesalahan “menyulut pemberontakan terhadap pemerintahan Spanyol” akhirnya dihukum mati di depan regu tembak pada tanggal 30 Desember 1896 pada usianya yang relatif muda, yaitu 35 Tahun.
Selain itu, banyak perlawanan yang dilakukan Tionghoa Filipina yang juga disebut Tsinoy (Chinese Filipina) ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan bersenjata dan non senjata, bahwa golongan Tionghoa disana juga turut andil dalam kemerdekaan Filipina semasa masa penjajahan, baik Spanyol dan Amerika.
Apakah anda tahu bahwa Emilio Aguinaldo adalah presiden pertama Filipina yang berdarah Tionghoa dan Jose Ignacio Paua sang jenderal adalah pelopor perjuangan kemerdekaan di Filipina?
Dan apakah anda juga tahu bahwa Kardinal Sin dan Corazon Aquino serta sang biduan Jose Mari Chan adalah seorang yang mempunyai darah Tionghoa juga?
Melihat lihat Mural atau tembok yang menghiasi lantai ke 2 dan ke 3 di Musium ini menggambarkan banyak sekali peninggalan dan pengaruh Tionghoa di Filipina, termasuk pahlawan di Chinatown ,Binondo . yaitu Pemadam kebakaran, yah benar. Masa itu pemadam kebakaran merupakan profesi yang berpengaruh besar kepada komunitasnya, maka dari itu banyak sekali pemadam kebakaran yang menjadi seorang pahlawan dan diabadikan di musium Bahay Tsinoy..
Kalau saya ceritakan, mungkin satu halaman penuh tidak akan habis membahas perjuangan dan kontribusi Tionghoa di Filipina atau Tsinoy.. buat mereka tidak ada mainland way of thinking, yang ada hanya bagaimana berjuang demi Filipina , tanah air mereka
saya meninggalkan Musium Bahay Tsinoy ini dengan perasaan kagum, dan berharap suatu hari nanti saya bisa kembali kesana, berdiskusi dengan Kardinal Sin, berbincang akrab dengan Jose Rizal dalam imajinasi saya untuk mendapatkan inspirasi tentang apa yang harus dilakukan oleh Tionghoa di Indonesia, andai mereka masih hidup, mungkin semangat kebangsaan mereka patut kita contoh, semangat Tionghoa Indonesia untuk Pemerintahan yang bersih, jujur dan adil, mimpi saya yang minoritas ini semoga bisa diwujudkan…
Recent Comments