Saat ini, lihatlah langit dengan cinta

28 03 2009

Satu jam lagi Pemadaman listrik dimulai dari pukul 8.30 sampai 9.30, tetapi saat ini pikiran saya mulai menerawang…
Kenapa hal ini mesti dilakukan oleh kita semua, jawabannya adalah cinta menurut saya, bukan karena hal hal teknis seperti 1 buah bohlam dinyalakan oleh batu bara yang jumlahnya ber ton-ton, bukan itu, tetapi karena cinta….
Cinta kita kepada Bumi..

Sekilas pikiran saya menerawang saat saya kecil, saat saya kecil tahun 80 an, ditengah rencana pembangunan besar besaran pemerintah, kita sebagai rakyat kecil, anak kecil tepatnya untuk saya , mesti melewati malam dengan sebatang lilin..
Tapi saat itu, saya yang masih belum mengerti hanya bisa berpikir sederhana, saya bisa keluar main dengan teman teman, melihat rembulan yang sinarnya menerangi halaman depan rumah kami,
Saya juga masih ingat ketika paman saya masih berpacaran, mereka seakan tidak perduli dengan keadaan sekitar yang hanya diterangi lilin dan lentera kecil yang dibuat oleh keluarga kami,
Tawa gembira selalu menghiasi malam ketika terjadi pemadaman listrik, seakan kami tidak perduli..
Si Amin, Akun, Mas Satrak, Pepen, semua berbaur di lapangan bola, sambil duduk melihat bulan dan bercakap cakap, perbedaan kita seakan di satukan oleh kesederhanaan.

Dulu waktu pertama kali pemadaman listrik, saya sangat takut dengan gelap, pernah saya hampir ngompol di kasur karena saya takut, untunglah ada kakak perempuan saya yang menuntun saya sambil membawa lilin yang kecil seraya berkata “An, jangan takut gelap, gak ada apa apa kok”
Sampai sekarang saya selalu ingat bahwa ketakutan kita adalah kegelapan itu sendiri.

Sekarang, hubungan bumi dengan kita seakan jauh, dahulu bumi dan kita bagaikan saudara, saya seakan jauh dari bumi, pergi pagi dan pulang malam hari, hubungan manusia yang rumit di kantor, keluarga dan tempat bermain.
Kita terlalu sibuk dengan teknologi, terlalu sibuk dengan ambisi diri, melupakan dan melukai bumi kita sendiri
Bersaing, berperang, tidak memberikan kesempatan yang sama yang kita dapatkan kepada orang lain Kepenatan, kilesa dan keserakahan di kepala membuat kita melupakan hal yang dulu pernah dekat, cinta alam semesta kepada diri kita. Seperti seorang ibu yang merindukan anaknya yang berada jauh dari rumah, sepi…

Saat ini, mungkin saya dan milyaran manusia dibumi ini memandang langit dan merasakan angin hangat diwajah saya dengan membawa lilin atau lampu teplok yang diisi oleh minyak tanah dan hanya bisa tersenyum melihat bulan, awan dan bintang, seperti dahulu nenek moyang kita yang mengandalkan arah berlayar dengan rasi bintang bernyanyi gembira mendapatkan nafkah dan kembali kepada kesederhanaan masa lampau
kita merasakan berkah yang diberikan Bumi kepada kita seperti seorang ibu yang tersenyum ketika anaknya mendapatkan mainan pertama kali

Saya berdoa semoga teman teman kita yang belum mendapatkan penerangan dimanapun mereka berada bisa mendapatkan akses yang kita punya dan bisa merasakah kebahagiaan dihati mereka dimanapun dan kapanpun,

kepada teman teman, kolega dan semua orang di bumi ini
saya harap kalian bisa melihat langit malam inidan merasakan cinta ibu bumi yang kerap kali kita lupakan..

PS : Saya harap kekasih saya disana juga bisa melihat bulan yang sama, merasakan cinta dan tersenyum, sama seperti dahulu kami melihat bulan yang sama di Negara yang berbeda, Indonesia dan Filipina.
Saat ini dia sedang melakukan tugas sosial di Cipanas, love u dear. ;)

Salam

sedikit pencerahan dari neraka
Chimera