Belajar dari Tionghoa di Filipina

8 12 2008

Tak terasa langkah kaki saya menyusuri Cordillera st, Quezon city, ditengah terik matahari di Manila ini, kaki saya seakan melangkah tanpa beban dihati,

Jalan jalan kali ini rupanya membuat saya melihat secara langsung keadaan di ibukota Fillipina ini, entah takdir apa yang membawa saya sampai ke sini, hati seakan mengetuk dan mendorong saya mencari tahu tentang apa saja yang bisa saya pelajari disini.

Disalah satu distrik Metro Manila, saya seakan melihat Manila dari dekat, keadaan warganya, kekumuhan kota dan terlihat kenyataan yang selama ini disamarkan oleh pembangunan besar besaran pemerintahan Gloria Macapagal Arroyo.

Makati dan Quezon City memang seperti langit dan bumi, keduanya merupakan distrik di Metro Manila, Makati merupakan jantung dari bisnis kota Manila dengan adanya gedung gedung besar menjulang seakan sombong menantang langit serta kebersihan dan keteraturan tempatnya, seperti kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sedangkan Quezon City bisa dibilang kebalikannya, kekumuhan daerahnya seakan membuat kita bertanya Tanya, dimana sebenarnya pembangunan di kota ini, memang di daerah downtown Quezon City ini disamping kiri kanan saya banyak sampah bertebaran, memang tidak semuanya sih, tetapi raut muka orang orang disini berbeda dengan yang saya biasa temui di Makati, disini lebih keras dan seakan menunjukkan masalah pada kehidupan mereka, beberapa orang berteriak teriak dalam bahasa Tagalog dijalan, agak keras memang suaranya, mungkin sedang pening dengan permasalahan yang terajadi di kehidupan mereka, tangis anak kecil, angin dan debu yang panas membuat suasana hati juga menjadi panas.

Matahari di bulan Oktober memang agak menyengat, panas dikepala juga kadang panas dihati,namun dibalik itu, ada suasana meriah yang rata rata ditemui disini
yah, 3 bulan menjelang Desember yang dimulai dari bulan Oktober ini, memang suasana natal disini sangat kental, disetiap mall (Manila memang kota yang penuh dengan Mall , terhitung ada sekitar puluhan lebih hanya di kota Metro Manila ini) di setiap tempat tinggal, pernak pernik natal menghiasi, berbeda dengan Indonesia yang kemeriahannya hanya ada di bulan Desember saja, disini seakan terpengaruh dengan budaya Amerika yang mungkin agak kebablasan, terlalu Amerika sepertinya.

saya berjalan sendirian menuju ke arah jalan besar, dari kejauhan tempat logo yang paling dikenal diseluruh dunia, McDonalds, perut saya yang lapar membuat saya memilih untuk makan siang direstoran ini, selesai mengantri dan memesan beef burger saya naik dan duduk di lantai atas dan (sialnya) saya kebagian tempat duduk dekat toilet karena benar benar ramai orang yang makan siang disana, sambil mengunyah saya melihat banyak murid murid akademi disana,

Selesai makan saya mencoba mengambil kertas yang tadi diberikan oleh teman dari yayasan Tzu Chi Filipina, tertera alamat yang saya cari, Bahay Tsinoy (secara harfiah berarti rumah Chinese-Filipino) yang beralamat di komplek Intramuros bekas benteng yang dulu menjadi perlawanan penjajahan Spanyol di Manila, tepatnya di Kaisa-Angelo King Heritage Center, Anda corner Cabildo Streets Intramuros, 1002 Manila, Philippines

langsung saya memanggil Taxi untuk meluncur kelokasi, oh ya, tips untuk teman teman yang akan berangkat ke Manila, bila berurusan dengan tukang taxi disana harus sedikit tegas, dan tanyakan bisakah sampai dalam waktu yang cepat?, rata rata supir Taxi disana tidak sungkan untuk meminta tambahan biaya, anda bisa tolak dan bisa mencari yang lain, mesti sedikit tegas.

Dari informasi yang saya dapatkan, rata rata ongkos taxi paling mahal bisa mencapai 150 Peso dari Quezon City menuju ke Intramuros, untungnya saya bertemu dengan seorang supir yang baik, namanya Alfundo Garlindes, di usianya yang ke 68 tahun itu ramah dan sering bertanya macam macam tentang Indonesia, awalnya dia menyangka saya adalah orang Korea, karena banyaknya investasi Korea dan Jepang di Phillipina tapi dengan lugas saya menolak anggapannya itu karena orang Korea dianggap kaya kaya,
daripada saya diketok untuk biaya argo taxi mending saya tolak saja anggapan itu, lalu dengan iseng saya memperkenalkan diri sebagai seorang wartawan (yah, kita bisa melakukan apa saja dinegara asing, selama positif.. kenapa tidak? He2)

Dengan pulpen dan buku layaknya wartawan bodrek, saya bertanya tentang bagaimana dia menjalani hidup, ternyata dia adalah pensiunan yang mendapat uang pensiun dari pemerintah sekitar 3000 Peso, jumlah yang kurang menurut saya, ditengah kondisi krisis seperti ini, ditengah tengah ancaman naiknya barang barang seperti bahan pokok yang diimpor dari luar negeri dengan terpaksa kakek 3 cucu ini bekerja sebagai supir taxi,
Mobil Toyota tahun 90 an yang rupanya masih bisa berjalan walau agak pelan, dalam sehari penghasilannya bisa mencapai sekitar 2500 an lebih peso, (setara hampir 700 ribu rupiah) belum dipotong biaya sewa selama sehari sebanyak 1500 Peso, ini pun tergantung dengan perusahaan Taxi yang dikendarai dan juga tergantung penumpang, kalau ramai pernah ia mendapat 3700 Peso, tapi tetap saja, karena ia harus menanggung biaya listrik, air dan biaya hidup lainnya.

Ditiap tempat di Manila, selalu ada banyak angkutan Taxi yang lewat, dan disetiap bagasi disana selalu ditulis, How’s I’m Driving? Lalu ada No telp disebelahnya.
Rupanya banyak sekali supir taxi yang ugal ugalan disana sehingga perlu bagi penumpangnya untuk mengadu kepada perusahaan taxi yang bersangkutan, untunglah bapak tua ini tidak ugal ugalan dalam menyetir taxi, dan dia juga salah satu supir taxi yang taat berlalu lintas,

Bahay Tsinoy.

Bahay Tsinoy

Bahay Tsinoy

setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dan membayar 140 Peso plus tips 30 Peso untuk supir Taxi itu, akhirnya saya sampai di Gedung Angelo King Heritage Center. sambil berjalan masuk dengan meminum Gatorade kegemaran saya, seorang satpam bertanya kepada saya dengan bahasa Tagalog, yang tentu saja saya sambut dengan tatapan bingung, akhirnya satpam ini bertanya dalam bahasa Inggris kepada saya tentang maksud saya berkunjung kesana, “i’m a Student” jawab saya sekenanya, hanya untuk mendapatkan harga tiket masuk 60 peso yang kalau dirupiahkan sekitar 12 ribuan, dibandingkan dengan 100 peso untuk harga tiket masuk pengunjung biasa,

“I,m from Indonesia, and i,m interested in Chinese life in Phillipines” terang saya kepada satpam yang disini disebut Security guard itu, yang langsung menuntun saya kedalam untuk bertemu dengan pengurus didalam.

suasana sepi menyelimuti didalam museum ini, yang saya lihat , ada tangga di depan pintu masuk museum yang langsung menuntun ke lantai atas,

“what can i do for u, sir?” (sebutan sir atau madam seringkali dipergunakan untuk formalitas)

“oh yes, can i find some information from this museum, because i’m a student from Indonesia and i am doing some research about Chinese in the Phillipines”

“ok, will u please fill this form?” katanya sambil menunjuk buku tamu di meja kecil didepan pintu masuk museum

Prosedurnya tidak berbelit belit, hanya bayar 60 Peso dan Thats It!!!! … disinilah saya. masuk di lantai pertama museum ini

Pertama kali masuk yang saya rasakan adalah suasananya yang agak agak angker, maklum sepertinya tidak banyak orang yang datang kemari.

ruang pertama hanya beberapa diorama pada masa awal awal sejarah masuknya suku Tionghoa ke Filipina dari Suku yang berasal dari Tiongkok Selatan yang berlayar sampai ke Filipina, beberapa bukti seperti sarkofagus atau kebiasaan mereka yang bertani dengan menggunakan sistim pertanian terasering. hubungan Tiongkok dan Filipina sudah jauh ada sebelum kedatangan Maggelan dari Spanyol dibuktikan pada adanya perdagangan Tiongkok dengan Filipina di Filipina bagian Utara sampai Selatan, sistim perdagangan waktu itu adalah barter, bukti hubungan antara Tiongkok dan Filipina ini semakin dieratkan dengan kunjungan Sultan dari Sulu, Paduka Batara ke Beijing pada tahun 1417 untuk memberikan upeti kepada Kaisar Yung Lo dari dinasti Ching.

sambil saya membaca beberapa keterangan diorama, saya melihat tanda dilarang memotret… yah… tapi tetap.. namanya orang Indonesia.. saya agak bandel dalam soal ini, hehehe

selanjutnya saya tertarik dengan diorama peperangan di sudut belakang ruangan pertama, ada beberapa adegan dimana penjajah spanyol sedang berperang dengan pejuang kemerdekaan Filipina

seperti Indonesia, Penjajah Spanyol mempergunakan orang orang Tionghoa sebagai tulang punggung perekonomian mereka,lama kelamaan mereka semakin maju dan dianggap oleh penjajah Spanyol sebagai ancaman, jaman itu golongan pedagang atau golongan menengah disebut juga dengan Mestizo, kebanyakan dari kaum Tionghoa pendatang mengandalkan toko kelontong yang disebut juga dengan Sari Sari,

kebanyakan dari mereka tinggal di wilayah Binondo yang sekarang dikenal dengan wilayah China Town di Manila, bahkan sebelum kedatangan penjajah Spanyol pada tahun 1571 Binondo merupakan daerah perdagangan antara orang Tionghoa totok dan penduduk setempat, baru pada tahun 1594 daerah ini dibuat oleh Gubernur berdarah Spanyol Luis Perez Dasmarinas khusus untuk orang Tionghoa yang sudah menjadi Katolik, akhirnya daerah ini menjadi kawasan relokasi perdagangan bagi kaum Tionghoa Mestizo atau golongan menengah,

daerah ini mengalami kemajuan dalam segi ekonomi dan keagamaan terutama dari agama Katholik ordo Dominican, dan menjadi daerah status quo ketika terjadi pemberontakan orang Tionghoa pada tahun 1603 yang mengakibatkan pembantaian sekitar 20 ribu orang Tionghoa totok yang menolak masuk Katholik oleh gubernur Luis Perez Dasmarinas. Sama seperti kawasan Petak sembilan dan Glodok di Jayakarta pada waktu itu, pemerintah Spanyol merasa ada kepentingan untuk membiarkan orang orang Tionghoa menjalankan perdagangan yang dirasa sangat penting bagi perekonomiannya, rupanya sejak dahulu dibelahan dunia manapun, orang Tionghoa dikenal dengan bakat Dagangnya.

Dahulu Binondo yang terletak di seberang sungai Pasig merupakan pusat dari Perdagangan dan keuangan dan menjadi tempat kelahiran dari orang suci pertama dari Filipina yang bergelar Santo yakni Santo Lorenzo Luis yang juga merupakan Mestizo de sangley yakni orang berdarah Tionghoa Katholik yang berasal dari golongan pedagang.

Setelah perang dunia ke 2, pusat perdagangan dan bisnis dipindahkan dari Binondo ke Makati yang dimonopoli oleh tuan tanah yang bermarga Ayala, dan sampai sekarang banyak gedung gedung tua dan gereja yang menjadi saksi sejarah perkembangan Binondo.

pergerakan Tionghoa di Filipina berjalan dan mempengaruhi budaya Filipina ddengan berbagai aspek dan perjuangan melalui kesustraan yang dimotori oleh pahlawan nasional Filipina Jose Rizal dengan bukunya yang berjudul Noli Me Tangere, buku yang ditulis dalam bahasa Spanyol ini menceritakan tentang kebobrokan pemerintahan penjajah Spanyol. di refleksikan sebagai orang yang penuh kemunafikan yang bernama Damaso, seorang pastor Katholik yang ternyata memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingannya sendiri (artikel mendalam tentang novel ini akan saya tulis berikutnya)
Jose Rizal sempat dipanggil oleh Gubernur Jenderal Terrero ke Istana Malacanang karena Novelnya yang subversif ini akhirnya di fitnah oleh pemerintahan pendudukan Spanyol di Filipina untuk kesalahan “menyulut pemberontakan terhadap pemerintahan Spanyol” akhirnya dihukum mati di depan regu tembak pada tanggal 30 Desember 1896 pada usianya yang relatif muda, yaitu 35 Tahun.

Selain itu, banyak perlawanan yang dilakukan Tionghoa Filipina yang juga disebut Tsinoy (Chinese Filipina) ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan bersenjata dan non senjata, bahwa golongan Tionghoa disana juga turut andil dalam kemerdekaan Filipina semasa masa penjajahan, baik Spanyol dan Amerika.

Apakah anda tahu bahwa Emilio Aguinaldo adalah presiden pertama Filipina yang berdarah Tionghoa dan Jose Ignacio Paua sang jenderal adalah pelopor perjuangan kemerdekaan di Filipina?

Dan apakah anda juga tahu bahwa Kardinal Sin dan Corazon Aquino serta sang biduan Jose Mari Chan adalah seorang yang mempunyai darah Tionghoa juga?

Melihat lihat Mural atau tembok yang menghiasi lantai ke 2 dan ke 3 di Musium ini menggambarkan banyak sekali peninggalan dan pengaruh Tionghoa di Filipina, termasuk pahlawan di Chinatown ,Binondo . yaitu Pemadam kebakaran, yah benar. Masa itu pemadam kebakaran merupakan profesi yang berpengaruh besar kepada komunitasnya, maka dari itu banyak sekali pemadam kebakaran yang menjadi seorang pahlawan dan diabadikan di musium Bahay Tsinoy..

Kalau saya ceritakan, mungkin satu halaman penuh tidak akan habis membahas perjuangan dan kontribusi Tionghoa di Filipina atau Tsinoy.. buat mereka tidak ada mainland way of thinking, yang ada hanya bagaimana berjuang demi Filipina , tanah air mereka

saya meninggalkan Musium Bahay Tsinoy ini dengan perasaan kagum, dan berharap suatu hari nanti saya bisa kembali kesana, berdiskusi dengan Kardinal Sin, berbincang akrab dengan Jose Rizal dalam imajinasi saya untuk mendapatkan inspirasi tentang apa yang harus dilakukan oleh Tionghoa di Indonesia, andai mereka masih hidup, mungkin semangat kebangsaan mereka patut kita contoh, semangat Tionghoa Indonesia untuk Pemerintahan yang bersih, jujur dan adil, mimpi saya yang minoritas ini semoga bisa diwujudkan…





Kosa kata Tagalog, part : 4..

13 11 2007

1. Karena : kasi
2. Cepat ! : Dali! , Bilis!
3. Saya tidak mengerti : Hindi ko maintindihan
4. dimana kamar mandi ? : Nasaan ang banyo?
5. bisa bicara bahasa indonesia? : Marunong ka bang magsalita ng (nang) Indonesia ?





kosa kata Tagalog, part : 3..

13 11 2007

1. Siapakah namamu?: Ano ang pangalan ninyo?
2. apa kabar?: kumusta
3. Selamat pagi : Magandang umaga
4. Selamat siang : Magandang tanghali (jam 11 siang sampai jam 1 siang)
5. Selamat siang : Magandang hapon (jam 1 siang sampai jam 6 sore)
6. Selamat petang : Magandang gabi
7. Selamat tinggal : paalam
8. Yang itu : iyan
9. ya : oo
10 tidak : hindi
11. maaf : patawad po





Kosa kata Tagalog, part : 2..

13 11 2007

kata kata bilangan

1 isa
2 dalawa
3 tatlo
4 apat
5 lima
6 anim
7 pito
8 walo
9 siyam
10 sampu





Manila oh Manila… (2)

7 11 2007

Manila, 19 Oktober 2007 . 13.00

sebuah ledakan yang diduga ledakan Bom sedikitnya menewaskan 3 orang dan melukai beberapa orang, demikian informasi yang dihimpun dari pihak yang berwenang.
ledakan yang terjadi pada jam makan siang di sebuah restoran di Glorietta Mall, Manila , mengejutkan ratusan pengunjung yang sedang mengunjungi mal tersebut.
William, seorang pegawai di sebuah restoran yang diwawancarai, mengaku terkejut ketika mendengar sebuah ledakan besar dan asap yang mengepul di lantai dasar Glorietta Mall, sekitar pukul 1.30 siang waktu setempat dan ia melihat beberapa pengunjung yang panik berlari keluar mall, dan terluka menerobos kaca. kemacetan segera terjadi di sekitar daerah yang merupakan kawasan bisnis di Manila ini.
pihak keamanan langsung mengamankan dan menutup lokasi setelah ledakan berlangsung.
beberapa pihak keamanan enggan memberikan keterangan tentang kejadian yang sedang terjadi.
sampai pukul 15,00 waktu setempat , pihak yang berwenang memberikan konfirmasi bahwa ledakan yang terjadi adalah ledakan Gas yang terjadi di sebuah restoran yang tidak disebutkan keterangannya.
Mal Glorietta adalah mall yang terletak di Ayala Center
menurut sumber dari Reuters, Mall Glorietta pernah menjadi sasaran penyerangan dari kaum separatis moro.
outside-bombing-scene.jpg

Manila, 19 Oktober 2007
16.50 PM

pihak yang berwenang memastikan bahwa Ledakan yang mengguncang Mal Glorietta 2 bukanlah ledakan Gas, dari dampak yang ditimbulkan amatlah besar, terbukti dari korban yang meninggal mencapai 8 orang dan 86 luka luka,
korban dilarikan ke 2 rumah sakit, yaitu Ospital ng Makati dan Makati Medical Center.
Ledakan yang terjadi pada jam 1.30 waktu setempat ini menimbulkan banyak spekulasi bahwa ini adalah ledakan bom yang disengaja.
bahkan presiden filipina Gloria Arroyo memberikan instruksi khusus untuk meneliti secara menyeluruh ledakan ini.
Dubes Amerika menawarkan bantuan untuk meneliti ledakan ini/
sampai saat ini Pihak keamanan Manila belum bisa mengkonfirmasi jenis bom yang di gunakan..

crowd-outside-glorietta.jpg

image089.jpg

sampai berita ini ditulis (24 Oktober 2007) pihak kepolisian belum menemukan proyektil bom yang diduga diledakkan oleh pengebom bunuh diri, ada banyak isu dan spekulasi mengenai bom ini, dimulai dari adanya pihak yang ingin mencemarkan nama baik Ayala Land Development dan ingin menghancurkan properti yang mengatas namakan Ayala selaku salah satu pengembang terbesar di Filipina, sampai dugaan racikan Bom yang dilakukan di Toilet di mall Glorietta 2, bahan bahan bom diseludupkan secara terpisah dan di Manila diperketat. terbukti dengan panjangnya antrian di pintu masuk mall

Tanggal 25 Oktober, Presiden Gloria Macapagal Arroyo memberikan pengampunan atas hukuman yang dijatuhkan kepada mantan Presiden Filipina, Joseph “erap” Estrada, entah kebetulan, atau ada hubungan dengan kasus pengeboman diatas?





Remember this, Honey. :)

3 11 2007

once my honey ask me,
why can’t i see the glimpse of love in your eyes?

i just smile…
and wrote this poet for her..

honey,
when loneliness approach you, remember this
that is always, my hands that hugged you from behind
makes you warm from the heart..

when you walk in the mist of darkness
remember this,
i’m with that light that guided you out of the dark
makes you safe and warm

when you walk alone in the street
remember this,
feel me with blowing warm wind, softly to your pretty face. :)

when you feel blue
remember this
i’m with the soft voice that calm and warm you.

when you feel doubtful in your heart
remember this,
that i’ve already in your heart , being there with you day by day

remember this honey
we’re always hand in hand together
doing all the things we like together..

when the happy times come..
and the bad times too…

because the road that i walked
is so empty without you..

honey,
i love you..





kosa kata Tagalog, part : 1..

2 11 2007

Kosa Kata
Indonesia – Tagalog

1. Aku / Saya : Ako
2. Kamu : Ikaw / Kayo (bentuk sopan)
3. Dia : Siya
4. Mereka : Sila
5. Berapa duit : Mang Kano ?
ket:kalau tanya sama penjual yang baru kenal : mangkano po ba to?
6. Ke kiri : Ka kaliwang
7. Ke Kanan : Ka Kanan Po
8. Taxi : taxi
9. Apa Kabar : kumusta
10. Bapak : Sir / Tatay – Ayah
11. Ibu : Nanay
12. Kakak laki2 : Kuya
13. Kakak perempuan : Ate
14. Enak : masarap
15. Tidak enak : Hindi masarap
16. Pemilu : Baranggay
17. Terima kasih kembali : Walang Anuman
18. (tunggu/yang berkaitan dengan ket.waktu) Sebentar : Sandalilang
19. Terima Kasih : Salamat Po
20. Baik : Ma bait – kabar baik : ma buti

image004.jpg





Manila oh Manila…

2 11 2007

“To all passengers on Cebu Pacific Airlines, we will arrive at Manila’s Ninoy Aquino Airport, please fastened your seatbelt, Uppering your Seat, we behalf Cabin Crew would like to thank you for using Cebu Pacific Airlines”

silaunya lampu pesawat membangunkanku dari tidur, mataku agak berkunang kunang namun kegembiraanku mengalahkan rasa kantukku

manila di pagi hari. Hm, kilau lampunya benar2 indah dari udara, aku sedang menengok ke jendela menikmati indahnya Manila di jam 05.30 pagi,
ketika teman temanku di Jakarta sedang menikmati tidur yang nyenyak karena disana masih jam 4 subuh, aku sudah terjaga karena perbedaan waktu satu jam disini.

“we’ll arrive soon” senyum seorang teman disebelahku, pak Raja namanya, ia berasal dari Malaysia dan ia datang ke Manila untuk urusan bisnis, tentu saja,
dengan tinggi 190 Cm, berkulit Hitam dan keturunan India, dan baik hati, ia menjadi pusat perhatian orang2 yang kebanyakan orang Philipina dan Indonesia sepertiku..
ia membelikanku air minum yang dibeli diatas pesawat karena ada kebijakan untuk tidak membawa air minum dari luar pesawat, agak merepotkan sebenarnya, karena tubuh manusia amat membutuhkan air apalagi berada diatas pesawat… so, thankful to him.
:P

derit bunyi ban pesawat yang menyentuh aspal bandara Ninoy aquino membuat rasa gembiraku bertambah, karena aku akan bertemu dengan kekasihku yang sedang belajar disini. Rasa rindu yang tersimpan bisa terobati karena aku akan bertemu dengan Kim di Manila setelah setengah tahun kami menjalin cinta,
janjiku untuk menemaninya ketika ulang tahun bisa terealisasi, and I am happy for it.

setelah proses administrasi yang cukup singkat, akhirnya aku bisa menikmati juga udara Cerah Manila dari sini..

imigrasi

dengan suhu sekitar 32 Derajat Celcius, aku tidak kesulitan untuk beradaptasi dengan Cuasa disini..

aku menunggu cukup lama karena aku tidak tahu harus menunggu dimana untuk bertemu
dengan Kim,
seorang polisi memanggilku, mungkin karena ia melihatku seperti kebingungan, menawarkan handphone untuk menelepon.
Well, aku terima saja niat baiknya, maybe this is part of Phillipines tourist service.
Ia memanggil temannya dan memberikan handphonenya untukku menelepon Kim,
Kulihat dibukunya banyak no Handphone yang tercatat disana
“mungkin ini no HP turis2 yang dibantu” pikirku.
Setelah aku menghubungi Kim, dan memberitahukan tempat aku menunggu, aku lalu mengembalikan Handphone itu.
“please, the handphone rent cost please”
“what?”
“the rent cost”

“shit!! “ pikirku, polisi ini ternyata tidak sebaik yang aku duga.. ia meminta biaya sewa Handphone kepadaku..

“ya udahlah” pikirku.. daripada ribut2… terpaksa aku keluarkan 15 Dollar untuk polisi itu dan temannya…
“thanks, Sir..”

“!@#$!@#” aku memaki dalam hati dengan kesal.

15 Dollar = 657 Peso = 135,000 Rupiah, jumlah yang cukup besar…

“Shit!! Ditodong sama Polisi!!!”” pikirku.. polisi dimana saja ternyata sama, hahaha
yah, gapapa deh. Daripada tidak ketemu sama Kim dan menjadi gelandangan di bandara.
Hehe. What a day… kesan pertama yang tidak baik…

Akhirnya aku bisa bertemu dengan Kim, senyumnya yang manis dan pelukannya menyambutku, ia membawakanku Bakpao dan Minuman untuk mengobati rasa haus dan laparku. Thanks Honey… ☺
Well, setidaknya ini bisa mengobati rasa kesalku ditodong oleh polisi Filipina itu

Kami menuju ke Cityland De La Rosa, Washington Corner. Dengan menggunakan Taxi.
Ternyata Taxi di bandara menggunakan Voucher, sama seperti Jakarta, dengan rate yang mahal, sekitar 500 Peso (sekitar Rp. 103,500) akan lebih murah kalau naik taxi biasa, terang Kim kepadaku.

Di perjalanan, aku melihat stiker yang mencuri perhatianku,
“Child Sex Tourist, Don’t Turn them away, turn them in”
rupanya Manila juga menjadi surga tujuan bagi para Paedofilia.. (There are 375,000 women and children in prostitution in the Philippines. Most of them, aged 15 – 20, are from semi-rural and urban backgrounds and have been victims of incest and sexual abuse. (“375,000 Filipino Women and Kids Are Into Prostitution,” Philippine Daily Inquirer, 26 July 1997)

pae

Di jendela, sambil menggengam erat tangan Kim, Aku melihat potret Manila yang sesungguhnya,, tidak seindah yang aku bayangkan…
bayangan kemiskinan ada dimana mana, dengan populasi sekitar 1,581, 082 (tahun 2000) dan area sekitar 38.55 Km2, manila adalah kota yang padat.. banyak masalah sosial disini..

berbeda dengan manila, makati city adalah kota yang lebih bersih, hm , agak ironis memang.. seperti surga dan neraka. hehehe

beberapa mobil yang kulihat agak familiar, seperti Kijang Innova yang buatan Indonesia, dan bahkan Kijang model Kotak yang pertama kali dikeluarkan pun ada disini, tentunya dengan menggunakan model setir yang berada di sebelah kiri, membuatku agak tidak terbiasa, sama seperti dulu aku berkunjung ke tempat kakak perempuanku di Taiwan..
disini kendaraan kijang ini biasa digunakan untuk transportasi umum, selain untuk kendaraan pribadi tentunya, dan merupakan salah satu kendaraan favorit disini, karena jumlahnya cukup banyak kulihat.. selain itu, karena keluarga disini merupakan keluarga besar, rata2 orang yang kutanya , mereka pasti menjawab bahwa jumlah anak mereka diatas 3.. wew..

ada beberapa kendaraan yang menurutku agak Unik, Jeepney salah satunya, kendaraan yang di ilhami oleh kendaraan perang dunia ke 2 yang digunakan oleh amerika ini dimodifikasi secara unik, Bodi kendaraan di perpanjang dan dihiasi oleh beberapa pernak pernik yang menarik.
Dengan gabungan kata Jeep (sesuai dengan jenis kendaraannya) dan Knee (karena penumpangnya duduk berhadap2an sehingga lututnya bersentuhan / Knee) ini menjadi salah satu kebudayaan setempat.

jeepney

Lalu juga ada Kendaraan yang menyerupai Becak di Medan, namun tempat duduk pengendaranya di buat panjang, sehingga bisa muat banyak orang. Sekitar 6 orang bisa duduk disitu.. well , a good idea… pikirku

Lalu lintas di Manila, juga tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Macet, suara klakson dimana mana, bahkan yang menarik bagiku, semua mobil publik mempunyai tulisan “How’s My Driving? “ lalu nomor telepon pengaduan tertulis dibawahnya.
Rupanya, begitu berantakannya etika menegemudi disini sampai sampai disetiap mobil ada tulisan seperti itu.

citland

Jam menunjukkan pukul 07 pagi ketika taxi kami sampai di City Land, Apartemen tempat Kim tinggal,
Sedikit tidur untuk mengobati rasa kantukku menjadi obat mujarab bagiku, setelah melihat2 televisi di kamar ber tipe 21 ini , seperti menjadi istana bagiku, zzzzz

Malam harinya, kim mengajakku ke sebuah restoran yang bernama Aristrokrat didekat Manila Bay (data)
Menu ayam bakar khas Filipina menjadi pilihanku dan satu menu sup bihun ayam dicampur dengan udang kering (E-bi) menjadi pilihan selanjutnya. (aduh, ga tau namanya, tapi yang jelas, menu ini menjadi pilihan utama di restoran ini)
hm nice and recomended menu if u come here.

image065.jpg

dan, hmm ini yang menarik, ada Java sauce, dan ternyata isinya.. sori ga bisa bilang, karena saya ngga buka.. kekekekek , :D , tapi yang jelas, kata Java sudah terkenal dimana mana, dari nama kopi, saus, bumbu makanan, sampai bahasa program.. hehe

java-sauce.jpg

Setelah kami makan, kami berjalan jalan di Manila Bay, malam hari penuh dengan pengendara delman dan tidak akan terkejut apabila ada pengendara delman yang dengan kukuh mengikuti setiap turis yang lewat, kemana saja turis itu pergi, pasti pengendara delman itu mengikutinya dengan setengah memaksa.. well well, second bad impression of Filipino. Hehe

Malam hari ditengah tengah gemerlapnya malam, kami berjalan jalan di pesisir manila bay ditemani oleh beberapa pasangan yang ikut serta menikmati malam berduaan, seperti kami berdua tentunya,
Kim menunjuk sebuah gerobak , hm, sepertinya gerobak itu menjual telur rebus,
“itu Balot, an. Makanan khas Filipina, coba deh”
sekilas balot nampak seperti telur biasa, namun akan kelihatan perbedaanya ketika kita mengupas kulit telurnya, embrio anak ayam yang hampir sempurna terlihat seperti benda yang aneh

balot-egg.jpg

balot.jpg

agak aneh memang memakannya, tapi buat turis , atau orang yang pertama kali datang, dianjurkan untuk mencobanya, karena ini adalah makanan khas Filipina dan tidak ditemui ditempat lain, namun buat pecinta binatang, dianjurkan tidak untuk mencobanya, hehe.

Rasanya agak sedikit aneh, karena agak berair, namun kalau kita mencobanya benar benar, rasanya seperti telur yang matang, namun agak keras sedikit.

Malam itu kita berjalan jalan di dekat manila bay, banyak bar dan klub malam, yang dibuka oleh orang orang jepang dan korea,

Kami berjalan sampai tak sadar malam sudah larut, akhirnya kami pulang, dan aku bermimpi, kejadian menarik apa yang akan kutemui esok…

Well, The night is long, but still time is short.so… enjoy !! :D

wit-kim-on-manila-bay.jpg