Hidup itu…

16 05 2009

Seperti apa sih hidup itu? dari pepatah Tionghoa yang saya dengar mengenai hidup itu seperti ini :
umur 1-10 tahun itu waktunya untuk bermain
umur 10 – 20 tahun waktunya untuk belajar
umur 20 – 30 tahun itu waktunya untuk menentukan tujuan hidup itu kedepan.
umur 30 – 40 tahun itu untuk menegaskan tujuan hidup kita
umur 40-50 tahun untuk menikmati hidup kita dan 50 – 60 tahun untuk masa pensiun dan tentunya menanti di ujung perjalanan..

wah pepatah seperti ini membuat saya berpikir tentang bagaimana hidup itu berjalan, kenapa banyak manusia yang masih mencari tujuan hidupnya itu, karena mereka tidak belajar.. mengisi hidupnya dengan sesuatu yang berharga.. itu adalah permasalahan inti dari tujuan hidup. 

saya jadi ingat pak Tamat, salah satu mantan driver DAAI TV,  ketika beliau ke jakarta, tujuan hidup beliau adalah jadi Supir dan menikahi orang Jakarta, its Simple.. dia sudah menetapkan tujuan hidupnya seperti itu dan dia bahagia dengan hidupnya sekarang.

mungkin buat beberapa orang tujuan hidup itu adalah Uang.. uang yang banyak, dan terpenuhinya kebutuhan kebutuhan yang berlebih, tapi ternyata tidak juga, ada juga yang berlebihan tetapi tidak bahagia, jadi hidup itu relatif bukan?

saya jadi ingat dengan Jacob Needleman dengan bukunya yang berjudul Currency, sang ahli filosofi ini menulis bahwa jika kita mengerti peran uang yang sebenarnya dalam hidup kita, maka kita tidak akan berfikir untuk menghabiskan atau menabungnya saja.

Uang menggerakkan pengaruh emosional yang mendalam terhadap siapa diri kita sebenarnya dan uang juga mempengaruhi kita dalam mengatakan apa yang tidak kita miliki.

Ketidak inginan kita untuk memahami efek uang secara emosional dan spiritual berlandaskan atas kenapa kita harus memberikan harga terhadap segala barang dan bagaimana kita bisa mengetahui nilai dari barang yang tidak berharga.

Uang mempunyai pengaruh yang penting dalam segala aspek di dalam mengejar hidup yang idealistik. Tetapi sejalan dengan itu, uang merupakan akar dari frustasi yang kita alami setiap hari. Dalam kehidupan sosial, uang mempunyai pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan kita, namun ada yang perlu ditegaskan disini bahwa Uang tidak mengatur hidup kita, dan hanya kita yang berhak mengatur kehidupan kita sendiri

saya rasa hidup kita terlalu banyak dipengaruhi oleh budaya barat yang lebih mengarah ke Fisik, apa yang kita punyai dan apa yang kita capai dalam hidup, memang itu benar juga, tetapi tidak semua benar karena kalau kita lihat budaya Timur yang di cap kolot oleh budaya Barat lebih mengutamakan Kebahagiaan, tujuan hidup, kekayaan jiwa dan spiritual, jadi kedua pengaruh ini didalam hidup kita mesti seimbang, 

jadi untuk yang belum mengetahui tentang tujuan hidupnya, cobalah mencari dan mencari, tapi jangan cari diluar, carilan didalam hati, kadang hidup bisa lebih sederhana dari yang kelihatan diluar. 

kalau kita senang bermain gitar dan kesenangan itu terhenti, maka mulailah dari sekarang untuk bermain gitar, atau apabila kita senang menulis tetapi tiba tiba inspirasi anda berhenti, maka inspirasi itu akan datang pada saat yang tidak terduga.. 

mungkin tulisan  ini tidak menjawab arti dari tujuan hidup kita.. tetapi, cuman satu saran saya, Do Whatever You want to do. Shape up your life.. learn something dan be Happy for yourself karena kita masih punya waktu untuk hidup, semuanya berakhir apabila nafas kita berhenti dan kita menyatu dengan semesta. soo.. tetapkan ingin menjadi apa anda mulai saat ini.. 

 

Carpe Diem and make your day..

 

Sedikit pencerahan dari neraka

Chimera





Pemilu oh Pemilu

9 04 2009

ayam berkokok, menandakan pergantian hari, para hansip, pemuda setempat ketua RT pun bergegas menyiapkan meja dan peralatan lain untuk pemilu legislatif yang akan disellengarakan hari ini kamis tanggal 9 April 2009
“eh ini mejanya kecil neh” kata seorang hansip gemuk berkumis lebat yang biasa bertugas di kelurahan pejagalan..

“gimana ya. terpaksa bilik alumunium ini hanya bisa 3 saja” kata pak RT
saya yang melihat dan membantu hanya bisa mengiyakan pak RT, lha wong udah jam 6 begini masih ributin soal meja kok.. masak mesti gedor gedor rumah orang untuk minjem meja? hehe
pak Akong, yang jalanan depan rumahnya dipinjam sebentar untuk hajatan 5 tahun sekali ini meminjamkan sound sistem untuk kami. baik sekali orangnya.
“ini gimana nih kertasnya” kata udin
“kertas yang mana?” jawab pak RT yang sibuk ditarik kesana kemari
“kertas pemilh”
“lu taruh aja di meja pendaftaran deh”
“oke bos” jawab udin yakin

tak terasa orang orang mulai berdatangan. pukul 8 pagi padahal, lebih awal dari jam 9 yang diumumkan sampai jam 12
mereka dengan antusias mengikuti ajang 5 tahunan ini, semua orang, lelaki, perempuan, orang Jawa, Madura, Tionghoa.. yang cantik yang jelek maupun yang sudah berumur lanjut terlihat antusias mengikutinya.

“ini kok tulisannya banyak banget dik? ” kata seorang nenek sambil membuka kertas pemilih dihadapan saksi…
“lho nek, jangan dibuka dulu nek” kata seorang saksi yang rupanya lebih mirip anak kecil daripada orang dewasa
“oh ya, ini kok begini nama doang ya?”
… nampaknya sosialisasi pemilu tidak sampai ke nenek yang satu ini. tinggallah si anak kecil yang kerepotan menerangkan.. tetapi tidak menganjurkan si nenek ini untuk memilih kandidatnya..
dengan yakin si nenek berjalan menuju bilik alumunium berkarat yang sedikit oleng kalau ditiup oleh angin.
“ini kok orangnya saya ngga kenal semua ya?” seru si nenek sambil kembali lagi ke saksi anak kecil ini
duh….

lain lagi dengan koh Ahok… dengan yakinnya dia bertanya kepada tetangganya koh Ahai…
“lu milih apa hai?”
koh Ahai diam sejenak
“rahasia dong” katanya sambil nyengir
“ini kan 5 tahun sekali, jadi jari gua mesti ada tinta nih” kata koh Ahai meneruskan..
“iya, katanya dapet Kopi Starbucks lho” celetuk seorang perempuan Tionghoa yang berpakaian trendy sepertinya ingin berangkat langsung ke Mall untuk menikmati secangkir kopi enak tersebut..

saya hanya tersenyum sejenak, nampaknya ajang PEMILU ini banyak sekali cerita cerita lucu..
saya sempat ditegur oleh tetangga setempat yang bertanya saya kemana saja karena mereka tidak pernah melihat saya
nampaknya saya terlalu sibuk bekerja sehingga waktu bersosialisasi dengan tetangga kurang sekali…
saya hanya tersenyum ketika ajang PEMILU ini dijadikan anjangsana tetangga di lingkungan sekitar Teluk Gong kampung saya tercinta
banyak orang yang saya lihat, yang jarinya biru semua,. tetapi nampaknya bukan itu maknanya,
selain memilih wakil rakyat, ajang PEMILU ini memang diakui oleh beberapa masyarakat sekitar rumah saya agak berbeda dengan yang lalu
banyaknya Caleg yang tidak mereka kenal, banyaknya janji janji yang diucapkan oleh Caleg dan banyak kesimpang siuran membuat masyarakat biasa , seperti orang orang tua yang mereka agak susah membaca tulisan menjadi canggung dalam memilih
dan akhirnya pilihan apa saja pun diambil, bukankah hal ini amat mubazir melihat banyak uang yang dikeluarkan hanya untuk mencetak surat surat suara ini, tetapi akhirnya malah hangus perolehan suaranya
belum sisa kertas suara yang dibuang, menurut saya sebaiknya di daur ulang untuk melindungi bumi kita ini..
belum lagi kalau Caleg Caleg yang sudah mengeluarkan uang banyak ini tidak terpilih menjadi anggota DPRD.. wah bisa Stress mereka
bahkan di koran yang saya baca, banyak Rumah Sakit Jiwa sudah mempersiapkan perawat dan kamar kamar apabila dari Caleg ini ada yang menjadi Gila..

wah banyak sekali pelajaran yang saya alami dilingkungan saya ini.. baik yang lucu dan berkesan..
yang penting buat saya adalah, bukan PEMILUnya tetapi interaksi warganya..
karena mekanisme PEMILU yang agak ribet..
enjoy aja bro and sis… enjoy the Starbucks gratisnya.. dan enjoy aja kalau melihat ada cewe cantik yang tidak pernah kita lihat di lingkungan kita .. haha
overall.. salut buat Masyarakat Indonesia yang sudah tertib dan bergotong royong menciptakan suasana PEMILU yang kondusif, aman dan terkendali…

Sedikit pencerahan dari neraka
Chimera





Saat ini, lihatlah langit dengan cinta

28 03 2009

Satu jam lagi Pemadaman listrik dimulai dari pukul 8.30 sampai 9.30, tetapi saat ini pikiran saya mulai menerawang…
Kenapa hal ini mesti dilakukan oleh kita semua, jawabannya adalah cinta menurut saya, bukan karena hal hal teknis seperti 1 buah bohlam dinyalakan oleh batu bara yang jumlahnya ber ton-ton, bukan itu, tetapi karena cinta….
Cinta kita kepada Bumi..

Sekilas pikiran saya menerawang saat saya kecil, saat saya kecil tahun 80 an, ditengah rencana pembangunan besar besaran pemerintah, kita sebagai rakyat kecil, anak kecil tepatnya untuk saya , mesti melewati malam dengan sebatang lilin..
Tapi saat itu, saya yang masih belum mengerti hanya bisa berpikir sederhana, saya bisa keluar main dengan teman teman, melihat rembulan yang sinarnya menerangi halaman depan rumah kami,
Saya juga masih ingat ketika paman saya masih berpacaran, mereka seakan tidak perduli dengan keadaan sekitar yang hanya diterangi lilin dan lentera kecil yang dibuat oleh keluarga kami,
Tawa gembira selalu menghiasi malam ketika terjadi pemadaman listrik, seakan kami tidak perduli..
Si Amin, Akun, Mas Satrak, Pepen, semua berbaur di lapangan bola, sambil duduk melihat bulan dan bercakap cakap, perbedaan kita seakan di satukan oleh kesederhanaan.

Dulu waktu pertama kali pemadaman listrik, saya sangat takut dengan gelap, pernah saya hampir ngompol di kasur karena saya takut, untunglah ada kakak perempuan saya yang menuntun saya sambil membawa lilin yang kecil seraya berkata “An, jangan takut gelap, gak ada apa apa kok”
Sampai sekarang saya selalu ingat bahwa ketakutan kita adalah kegelapan itu sendiri.

Sekarang, hubungan bumi dengan kita seakan jauh, dahulu bumi dan kita bagaikan saudara, saya seakan jauh dari bumi, pergi pagi dan pulang malam hari, hubungan manusia yang rumit di kantor, keluarga dan tempat bermain.
Kita terlalu sibuk dengan teknologi, terlalu sibuk dengan ambisi diri, melupakan dan melukai bumi kita sendiri
Bersaing, berperang, tidak memberikan kesempatan yang sama yang kita dapatkan kepada orang lain Kepenatan, kilesa dan keserakahan di kepala membuat kita melupakan hal yang dulu pernah dekat, cinta alam semesta kepada diri kita. Seperti seorang ibu yang merindukan anaknya yang berada jauh dari rumah, sepi…

Saat ini, mungkin saya dan milyaran manusia dibumi ini memandang langit dan merasakan angin hangat diwajah saya dengan membawa lilin atau lampu teplok yang diisi oleh minyak tanah dan hanya bisa tersenyum melihat bulan, awan dan bintang, seperti dahulu nenek moyang kita yang mengandalkan arah berlayar dengan rasi bintang bernyanyi gembira mendapatkan nafkah dan kembali kepada kesederhanaan masa lampau
kita merasakan berkah yang diberikan Bumi kepada kita seperti seorang ibu yang tersenyum ketika anaknya mendapatkan mainan pertama kali

Saya berdoa semoga teman teman kita yang belum mendapatkan penerangan dimanapun mereka berada bisa mendapatkan akses yang kita punya dan bisa merasakah kebahagiaan dihati mereka dimanapun dan kapanpun,

kepada teman teman, kolega dan semua orang di bumi ini
saya harap kalian bisa melihat langit malam inidan merasakan cinta ibu bumi yang kerap kali kita lupakan..

PS : Saya harap kekasih saya disana juga bisa melihat bulan yang sama, merasakan cinta dan tersenyum, sama seperti dahulu kami melihat bulan yang sama di Negara yang berbeda, Indonesia dan Filipina.
Saat ini dia sedang melakukan tugas sosial di Cipanas, love u dear. ;)

Salam

sedikit pencerahan dari neraka
Chimera





Womans Driving

15 02 2009

dont you ever ever give your car to woman..:D





Happy Valentine’s Day

15 02 2009

to all,

Happy Valentine’s day





What Would You be when you are old?

2 02 2009

The question begin when me and my friend visit an old nursery house in Jelambar

everyday just the same activities.. and they keep on waiting and waiting… for what?

i dont know.. but this make me think of my old age days… what would i be? what would you be when you are old?

maybe waiting is the best answer..





Baju bola Promotion Clip

2 02 2009

Check this out

hasil karya iseng2 jadi sori kalau nda sempurne





mau jadi “babi”?

27 11 2008

sebenernya saya udah rencana nonton Babi buta yang ingin terbang dari tahun 2007 lalu, dari liat trailernya yang disebarin sama Alex, saya udah naksir sama film ini, kebetulan profesi saya juga bergerak di bidang Audio Visual, jadi pengen tahu aja bagaimana sih film yang dibuat sama insan film Indonesia yang Tionghoa.
saya menunggu sudah lama, dari ada kabar, sampe ngga ada kabar, dari yang katanya mau diputar bulan April 2008 sampai mundur ke bulan ini (November 2008)
dan ternyata di putar di Festival Film Pusan..

sampai ketika saya mendapatkan mail dari JTM (lagi) yang menulis bahwa film ini akan diputar pada tanggal 22 November 2008, well well, pucuk dicinta, ulam tiba.. hal yang ditunggu tunggu akhirnya sampai juga..

karena “kuda kencana” saya mogok karena ada permasalahan di mesinnya, terpaksalah saya berangkat menggunakan ojek yang ban belakangnya sudah oleng, agak was was juga begitu ojek itu ngebut, berkali kali saya bilang, “bos.. jalan pelan pelan… bokong ane kekiri kanan neh”
setelah 40 menit perjalanan mendebarkan ini, akhirnya saya sampai juga.
disinilah saya. di TIM , sudah lama saya tidak menginjakan kaki di tempat ini, sejak event Jak Art 2007..

setelah masuk dan menuju ke resepsionis di tempat pemutaran film ini, saya mendapati bahwa semua tiket sudah dibook habis.. bis sehabis habisnya… jadi saya dimasukkan dalam waiting list.. terpaksa saya menunggu sendirian tanpa kenal siapa siapa disana,
mata saya melihat sana sini, ada Dhimas Jay, Pemeran wanita di film Babi Buta ini, Ladya Cheryl dan pemeran pria nya Carlo Genta, lalu banyak lagi seniman seniman film yang berlalu lalang ditempat ini

sampai mata saya melihat satu sosok yang kerap kali muncul di event yang berkaitan dengan aktifitas kaum Tionghoa.. siapa lagi kalau bukan si Alex…
tatapan mata bertemu tatapan mata, seakan berkata..”eh, elu…” saya tersenyum menghampiri sobat lama ini (lex, mungkin lu udah lupa nama gua ya… panggilnya pak melulu.. hehe)
lalu juga ada bro Wahyu Effendi yang kelihatannya agak resah .. tidak tahu kenapa.. mungkin karena lingkungan yang dihadirinya bukan lingkungan yang biasa digelutinya (hanya asumsi saja bro, jangan marah ya)
kita terlibat diskusi yang cukup hangat mengenai dunia film ini dengan kaum muda Tionghoanya. . memang anggapan bro Alex ini cukup tepat, bahwa kebanyakan kaum muda Tionghoa yang hadir berasal dari jakarta Selatan dan sekitarnya.. dan jarang yang berasal dari kawasan kota dan Jakarta Utara… kawasan Tionghoa totok sepertinya., .
saya masih ingat ketika siang tadi saya mengajak teman saya untuk menonton film ini, tau ngga tanggapannya? gua nggak suka film Indonesia.. begitu dingin dan cuek..
kebanyakan mereka lebih suka film dari Barat atau yang sekaliber Red Cliff nya John Woo.. mungkin karena film itu begitu condong ke Mainland dan budayanya secara kental.. namanya juga feel ke mainlandnya begitu kental, jadi yah… mereka agak sedikit tidak interest dengan yang namanya film Indonesia, tapi mungkin film laskar pelangi yang sudah membuat perbedaan yang cukup mendobrak, karena sesama fellow mangga dua saya sudah mulai mendiskusikan film ini, mungkin karena fellow saya ini adalah orang Bangka juga..

diskusi yang sangat berguna dengan Alex ini cukup berlangsung lama, sampai akhirnya saya dikenalkan filmmakernya Babi buta yaitu Edwin..
thanks atas lobi nya Alex dan kebaikan hati si Edwin yang memberikan tiket buat saya sehingga saya tidak perlu untuk duduk di lantai.. :) .. will remember u for this bro..

tiket saya baris A 12, jadi saya mendapatkan tempat duduk dibelakang , tempat yang nyaman untuk menonton film tentunya dan disamping saya ada si Dhimas Jay..
sewaktu pelelangan benda benda koleksi film, si Mas yang disebelah saya sering digodai oleh teman temannya, mungkin disuruh keluar duit kali ya.. dan berkali kali juga ditolak.. haha, lucu juga, ternyata Joko Anwar, Ria Irawan dan beberapa pekerja seni yang lain juga mempunyai selera humor yang kental

acara dimulai dengan lelang barang barang Film, ada poster Babi Buta, Jaket yang dipakai oleh Tora Sudiro Dkk sewaktu film Quickie Express, lalu ada poster film 9808, gambaran 10 tahun setelah peristiwa Mei 98 (saya menunggu film ini keluar)
akhirnya, saya mendapatkan jaket Quickie Express seharga 350k, yah buat movie memorabilia, mungkin 10 tahun kedepan bisa bernilai tinggi… dan saya bisa bilang ke anak cucu saya, ini looh jas yang dipake sama Tora Sudiro… yang jadi Gigolooo .. gitu..

lalu Film dimulai, saya mungkin tidak akan berlama lama menulis ini karena saya sudah menulis resensinya.

di akhir acara… Tepuk tangan membahana, bukan hanya karena film ini begitu bermakna, namun juga karena dibuat dengan hati dan pengalaman sendiri

salut buat teman teman semua yang berpartisipasi, saya tahu memang sulit membuat sebuah film yang berkualitas, terutama yang berkaitan dengan dana, namun dengan tekad yang kuat semua hal pasti bisa dipenuhi

satu lagi PR buat saya, bagaimana membuat golongan Tionghoa totok bisa melihat film ini dan mengerti apa yang disampaikan tanpa melihat secara kasar adegan adegan yang ditampilkan. susah memang, tapi sampai kapan kita bisa melihat film Tionghoa tanpa ada penggambaran secara kasar kelenteng dan meja sembahyang saja, seperti Film Soe Hok Gie.. dan yang menggambarkan kehidupan orang Tionghoa apa adanya dengan cara komunikasi mereka.

Sedikit mimpi dari neraka ….

foto063

foto065

foto064





Jalan yang diambil oleh Andy F Noya

1 09 2008

Artikel menarik
dari situs Kick Andy….

LENTERA JIWA

source: http://kickandy. com/?ar_id= MTEzOA==

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya
untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan
karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan
dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi
yang tinggi, dengan power
yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir,
dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat
STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi
Publisistik di Jakarta walau harus menanggung
sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu
tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan
hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari
Metro TV. Andy ibarat ikan
di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan
Rhenald benar. Tapi, jujur saja,
sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil
berjudul Who Move My Cheese.Bagi
Anda yang belum baca, buku ini
bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak
keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu
menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam
kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan
pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju
habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari
keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu
hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu
hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak
perlu mencari keju di tempat
lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan
menunggu terus di tempat itu
sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali.
Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu
dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi
sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak
dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat
sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah,
dan merasa sudah nyaman di suatu posisi,
biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah
mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar
dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat
saya sangat nyaman karena setiap hari keju
itu sudah tersedia di depan
mata. Saya juga ingin mengikuti
lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan
hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak.
Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya
itu sesuai dengan kata hati
saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.

Dalam perjalanan hidup saya, banyak
saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu
perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan
ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera
jiwanya ada di ajang pertunjukkan
musik. Tetapi dia takut untuk
melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia
merasa tidak siap jika kehidupan
ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani
sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak
bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada
yang mengaku waktu itu belum tahu
ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau
ada yang karena solider pada teman. Tetapi
yang paling banyak mengaku
jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka
tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat
orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup
mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil
keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni
dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai
dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan
kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia
dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya.
Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka
sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan
meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris
di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal
di Bali dan bekerja untuk
dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki
adalah apa yang kita cari dalam
kehidupan yang singkat ini? Semua orang
ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana
cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja
di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya,
bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,
ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah
Rolling Stone. Dalam usianya
menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika
malam itu, saat pementasan Earthfest2008,
Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai
pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta
saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang
menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.





Dance Matt… Dance Hendrik !!!

24 06 2008

Let me introduce this “nutty” person here..

Matt Harding born September 27, 1976, he gives up his job as a game designer and travel around the globe to do exactly… dance… :D :D

originally from westport, Connecticut. he began to dance in February of 2003 where he spend his money from his job in Brisbane, Australia to wander around Asia until he’s ran out of money.

While in Hanoi, his travel buddy gave Matt an idea to dance and he posted this dancing fool to the net which cause him a famous in the internet by mails..

the company stride gums interested in Matt’s dancing video and suggested that He might travel around the world and dance..

soo, it takes 6 month trip through 39 countries on all 7 continents in 2006 that makes Matt famous again, then in 2007 they comes up an idea to gather his “followers” and dance with him… 

this video first add to youtube in July 20th 2006 and it have 9,801,525 clicks until now.. 

this is the Video… enjoy!!

 

and this is the first video I’d watch when I’m in Taipei

and this is what i do in Dan Shui train station in Taipei after i watched this

 

haha, thanks Matt, u inspired me to keep dancing.. fools